Uya Pinta : Toleransi adalah Kesempatan Diri Sendiri Memahami Pandangan yang Berbeda

Berbicara tentang istilah toleransi memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Bahkan istilah ini sudah diajarkan sejak di bangku sekolah. Friedrich Heiler adalah tokoh terkenal yang lebih menekankan sikap toleransi dalam aspek beragama.

Dalam pandangan Heiler, toleransi adalah sikap mengakui adanya pluralitas agama dan menghargai semua agama tersebut. Pandangan Heiler ini didukung dengan adanya fakta bahwa di dunia ini ada banyak sekali agama dan keyakinan. Menurut Heiler, semua pemeluk agama berhak mendapatkan perlakuan yang sama

Toleransi sangat dibutuhkan, apalagi mengingat keadaan saat ini dimana krisis kepahaman mulai tumbuh, karena kurang kesadaran dari orang lain akan suatu kecanggihan informasi dan teknologi. Dalam arti toleransi yang saya maksudkan adalah bijak terhadap diri sendiri dalam memanfaatkan suatu media dan menggunakan literasi, agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap orang lain mengenai salah pengertian atau persepsi atas suatu perihal yang terjadi.

Toleransi itu adalah pola pikir dan pola sikap positif melihat, mendengar, merasakan, memahami, menahan diri dan menganalisa suatu hal terhadap keadaan sekitar dan perbedaan diluar dari diri kita. Dari nada bicara, kata yang diucap juga perbuatan/prilaku spontanitas bisa menciptakan toleransi. Siapapun bisa, karena sikap toleransi itu tersirat dan sifat dasar positif manusia sejak manusia itu lahir. Karena toleransi yang muncul sisi positif lawan dari Ego yang muncul adalah sisi negatif.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berbicara tentang pentingnya sikap rendah hati dalam beragama. Dengan bersikap rendah hati, tidak akan ada lagi klaim-klaim bahwa kebenaran hanya milik salah satu golongan. Dikatakan, kalau masing-masing kita merasa rendah hati, tidak pada tempatnya kita mengklaim kebenaran hanya milik kita.  Ungkap Lukman di penghujung Januari 2019  di Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta Pusat. Lukman menyampaikan itu saat menjadi pembicara dalam peluncuran buku ‘Meyakini Menghargai’ dan ‘Merayakan Keragaman’. Menurut Lukman, klaim kebenaran justru mengingkari esensi dari agama itu sendiri.

lalu bagaimana mengaplikasikan toleransi di lingkungan kerja? Toleransi di dalam lingkungan pekerjaan dan kegiatan lain saya (wanita, usia 40 th) di bidang hukum pada Kantor Hukum LEO TOLSTOY & PARTNERS, dan sedang menempuh pendidikan Program S3 di Universitas Trisakti pada Fakultas Ilmu Ekonomi konsentrasi Kebijakan Publik, dimana mayoritas rekan seprofesi saya itu adalah Pria, membuat saya tidak merasa tersaingi/terabaikan karena perbedaan gender. Kembali pada diri saya sendiri dalam bersikap, menyampaikan pendapat, dan kesempatan untuk mengambil keputusan, karena kodrat saya sebagai wanita. Positif thinking adalah siratan dari rasa toleransi, saat berkelompok, mendewasakan diri dan menempatkan diri adalah bagian dari cerminan toleransi atas penghargaan terhadap orang lain. Memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk mendengarkan dan memahami perbedaan yang ada pada orang lain. [Uya Pinta]

 

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *