Tekan Pertambahan Penduduk, Perluas Ruang Aktualisasi Kaum Perempuan

Jakarta, chronosdaily.com – Pertumbuhan dan pertambahan jumlah penduduk dunia sangat pesat. Hal yang sama terjadi di Indonesia. Kondisi ini dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai persoalan sosial politik yang dahsyat, apabila tidak ada upaya serius melakukan pengendalian pertumbuhan jumlah penduduk.

Pengamat Sosial Politik Universitas Kristen Indonesia (UKI) Merphin Panjaitan menyarankan, bagaimana pun harus ada upaya mengendalikan pertumbuhan dan pertambahan jumlah penduduk, sebab ketersediaan sumber daya kehidupan terus mengalami penipisan yang cepat juga. Dia menyarankan, salah satu upaya untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk adalah dengan memberikan ruang aktualiasi seluas-luasnya kepada kaum perempuan. Serta memberikan peran-peran sosial politik yang strategis bagi kaum perempuan. “Dengan banyaknya perempuan yang bekerja, berkarir dan berperan di dalam masyarakat dan negara, akan meningkatkan usia perkawinan perempuan. Selanjutnya, menurunkan angka kelahiran, dan dengan demikian menurunkan angka pertumbuhan penduduk,” tutur Merphin Panjaitan, Jumat (24/01/2020).

Sehubungan dengan pemikiran ini, dia menyarankan, sebaiknya dalam Pilkada Serentak 2020 ini hendaknya diupayakan agar lebih dari 50 % posisi Gubernur, Bupati dan Walikota terpilih adalah perempuan. “Bahkan, dalam Pilpres 2024 nanti, seorang calon Presiden Perempuan terpilih manjadi Presiden. Dan kemudian Presiden terpilih ini mengangkat menteri perempuan lebih dari setengah anggota kabinetnya,” ujarnya.

Dalam pemilihan kepala desa pun demikian. Diupayakan agar perempuan dan laki-laki yang terpilih berimbang. “Demikian pula dalam pengangkatan lurah. Dalam kehidupan kemasyarakatan, termasuk dalam dunia bisnis, posisi dan peran perempuan dan laki-laki, juga dibuat berimbang,” ujar Merphin. Merphin Panjaitan mengatakan, sarannya itu bukan tanpa sebab. Sebabnya adalah, manusia hidup di bumi, manusia tidak bisa hidup tanpa makanan dan minuman, dan udara. Manusia juga bertugas dan bertanggungjawab memelihara bumi serta menatalayani bumi serta segala isinya.

Kehadiran manusia di bumi ini harus dalam kerangka  kehidupan bersama segala ciptaan. Mulai dari kehidupan manusia, hewan, tumbuhan dan ciptaan lainnya. Tanah, bukit, gunung dan lembah, air, danau, sungai, rawa dan laut, hutan dan padang rumput, serta udara. “Semuanya itu berhak mendapat perlakuan yang layak dari manusia,” katanya. Ke depan, lanjut Merphin, perlu diciptakan sebuah dunia dengan konsep Persaudaraan Segala Ciptaan. Yang mana, manusia tidak bisa hidup sendiri, baik 2 juta tahun yang lalu, kini, ataupun 2 juta tahun mendatang.

See also  Pemerhati Waspadai Potensi Krismon di Indonesia Pasca Covid 19

Dia mengatakan, konsepsi Seleksi Alam yang kemudian berubah menjadi Seleksi Manusia harus diubah lagi menjadi Kehidupan Bersama Segala Ciptaan. “Kita membutuhkan suatu teologi baru, yaitu teologi Persaudaraan Segala Ciptaan. Dan di atasnya kita bangun Kehidupan Bersama Segala Ciptaan,” sarannya.

Perlu diingatkan, manusia dikategorikan sebagai mahkluk bumi, mahluk sosial, mahkluk berpikir dan berkepercayaan, mahkluk belajar, kerja, berkesenian, dan rekreasi, serta mahkluk pembuat dan pengguna alat. Merphin mencoba membuat tahapan kehidupan manusia sejak berada di bumi. Revolusi Kesadaran Pertama. Revolusi ini terjadi sejak awal kemunculan manusia sekitar 2 juta tahun lalu. Manusia menyadari bahwa mereka berbeda dari ciptaan lainnya. Berbeda dari hewan, tumbuhan dan yang lainnya. Manusia mampu berpikir dan membuat berbagai macam alat sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Kemudian, Revolusi Pertanian. Masyarakat bertani muncul sebagai upaya manusia mempertahankan hidupnya. Setelah era berburu dan mengumpulkan bahan pangan tidak mencukupi, hutan belukar ditebang dan dibakar, diubah menjadi lahan pertanian. Manusia mulai hidup menetap. Terjadi surplus pangan, dan sebagian warga keluar dari sektor pertanian. Terjadi spesialisasi kerja.

Ketiga, Revolusi Politik. Puncak peradaban di bidang politik adalah pendirian dan penyelenggaraan negara-bangsa yang demokratis, damai dan stabil.

Revolusi politik dimulai dengan Revolusi Inggris pada abad ke-17, diikuti oleh Revolusi Amerika dan Revolusi Prancis pada abad ke-18, dan kemudian berlanjut ke seluruh Eropa pada abad ke-19, dan menyebar ke seluruh dunia pada abad ke-20.

Keempat, Revolusi Ilmiah. Manusia belajar berpikir logik, analitis, dan sistematis. Ilmuwan berpikir dengan menggabungkan pendekatan rasional dan pengalaman empiris. Masyarakat yang memiliki banyak ilmuwan akan menjadi lebih rasional. Masyarakat rasional berorientasi ke masa depan, mampu melepaskan diri dari tawanan masa lalu, dan bergerak ke depan,” ujarnya.

Kelima, Revolusi Industri. Revolusi Industri dimulai di Inggris pada seperempat ketiga abad ke-18, dan berhasil mengubah kehidupan masyarakat.

Revolusi ini menyebar ke Eropa kontinental dan Amerika Utara. Prestasi Inggris ini kemudian disamai oleh negara-negara Barat lainnya, dan membuat Barat secara keseluruhan unggul. Kemajuan ilmu dan teknologi di Barat menjadi unsur utama dalam pengembangan perekonomian dan peningkatan derajat kesehatan. Penemuan mesin uap dan kemajuan ilmu ekonomi menggerakkan revolusi industri. Produksi barang meningkat pesat, dan dengan cepat di distribusikan ke seluruh dunia.

See also  Kawal Pembangunan Timur Indonesia, Kejaksaan dan Kementerian PUPR Gelar Rakor di Ambon

Dengan perkembangan seperti itu, Merphin melihat, dunia dan manusia sebagai penghuninya tumbuh terlalu cepat. “Kemajuan ilmu dan teknologi membuat penduduk dunia bertumbuh dengan cepat, disertai dengan keserakahan yang tak berbatas. Manusia mengeksploitasi bumi secara berlebihan, melebihi kemampuan regenerasi bumi itu sendiri,” ujarnya. Lihatlah, lanjutnya, pertumbuhan penduduk dunia. Pada 2 juta tahun lalu, diperkirakan kurang dari 1 juta manusia penduduk bumi.

Di awal revolusi pertanian, pada 12000 tahun lalu, diperkirakan tidak lebih dari 10 juta manusia penduduk bumi. Kemudian, di awal abad Masehi, diperkirakan 250 juta manusia yang menghuni bumi. Hingga tahun 2025 mendatang, katanya, jumlah manusia penduduk bumi diperkirakan sekitar 8 miliar. Hal yang sama terjadi di Indonesia. Pertumbuhan penduduk Indonesia terlalu cepat dan pesat. Menurut Merphin, kondisi ini bisa menjadi penghalang bagi kemajuan bangsa. “Dan di kemudian hari nanti, bisa saja berubah menjadi bencana,” ujarnya.

Perhatikanlah statistik penduduk Indonesia. Di tahun 1930 sebanyak 60 juta jiwa. Tahun 1960 menjadi 87,79 juta. Selanjutnya, tahun 1970 meningkat menjadi 114,8 juta jiwa. Tahun 1980 menjadi 147,5 juta jiwa. Tahun 1990 menjadi 181,4 juta jiwa. Tahun 2000 mencapai 211,5 juta jiwa. Selanjutnya, tahun 2010 menjadi  242,5 juta jiwa. Tahun 2017 mencapai 264 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk Indonesia di masa Orde Baru sempat turun, dari 2,31 % menjadi 1,45 %. Tetapi kemudian naik lagi menjadi 1,49 %,” ujarnya.

Pertumbuhan penduduk Indonesia yang sangat tinggi ini, harus segera dikendalikan. Kalau pertumbuhan penduduk Indonesia masih seperti sekarang ini, yaitu di sekitar 1,5 % per tahun, maka diprediksi pada tahun 2070 penduduk Indonesia akan meningkat menjadi dua kali lipat dari sekarang, yakni sekitar 540 juta.

Pertumbuhan penduduk yang terlalu tinggi, apalagi disertai dengan peningkatan kemakmuran, membuat manusia terlalu banyak menghabiskan sumberdaya alam. Hewan dan tumbuhan berkurang dengan cepat, dan kalau manusia tidak menahan diri, dia akan kesepian sendiri,” jelas Merphin. Merphin menegaskan, peningkatan jumlah dan kemakmuran penduduk yang sedang terjadi sekarang ini, menghabiskan terlalu banyak sumberdaya alam, milik generasi sekarang dan generasi mendatang. “Juga terjadinya kerusakan bumi semakin parah, dan kehidupan di muka bumi terancam,” jelasnya.

See also  Putusannya Tak Dijalankan Pemerintah, Bubarkan Saja MA

Diawali dengan manusia bertambah banyak, dan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia, hewan dan tumbuhan diperbanyak. Manusia dan hewan memakan tumbuhan, hingga tumbuhan berkurang dan akhirnya punah. Untuk mempertahankan hidupnya, manusia menghabisi hewan dan tumbuhan sisa. Setelah hewan dan tumbuhan habis, manusia saling bunuh dan makan, dan akhirnya manusia pun punah juga. Hewan dan tumbuhan bisa hidup tanpa manusia, tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa tumbuhan dan hewan,” katanya.

Secara fisik manusia lemah, tetapi dengan kemampuan berpikirnya, manusia manjadi mahluk hidup paling kuat, dan juga paling serakah.  Manusia bisa menjadi jahat, baik terhadap ciptaan lain maupun terhadap anak-cucunya sendiri. Merphin juga menyebut adanya Revolusi Kesadaran Kedua. Revolusi ini terjadi sejak puluhan tahun lalu.  Manusia mulai sadar, bahwa walaupun manusia berbeda dari hewan, tumbuhan, dan ciptaan lainnya, manusia adalah bagian integral dari ciptaan ini. Kehidupan manusia sangat tergantung pada kelestarian hewan, tumbuhan dan ciptaan lainnya.

Sekarang, lanjut Merphin, manusia dihadapkan pada pilihan, stop pertumbuhan penduduk atau stop pertumbuhan ekonomi? Atau, stop kedua-duanya? Atau, kehidupan di muka bumi akan punah bersama-sama. “Saya memilih pertumbuhan penduduk diturunkan dengan cepat, hingga pertumbuhan penduduk menjadi 0 %. Dalam 30 tahun pertama turun menjadi 0,75 %, dan 30 tahun selanjutnya turun menjadi 0 %,” ujarnya.

Untuk mencapai tujuan inilah, kata Merphin, dibutuhkan penguatan perempuan. Posisi, peran dan karir perempuan dalam kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan diperkuat. Penguatan perempuan bertujuan, antara lain, menurunkan angka pertumbuhan penduduk, mewujudkan kesetaraan gender, mendayagunakan semua potensi kekuatan bangsa, baik laki-laki maupun perempuan,” pungkasnya. [Jon]

Leave a Reply

Your email address will not be published.