Semangati Masyarakat di Saat Krisis, Gerakan #KitaBisaNormalKembali Mulai Bermunculan

Jakarta, chronosdaily.com – Pandemi virus korona yang telah memakan ribuan korban jiwa di seluruh dunia turut dirasakan nyata oleh warga Nusantara. Realitas ini diperkeruh dengan beredarnya berita negatif terkait pandemi ini di media sosial dan ruang publik.

Merespons itu, pemerhati sosial dari Akademi Pancasila dan Bela Negara Dhimas Anugrah menginisiasi gerakan tanda pagar (tagar) #kitabisanormalkembali. Tagar ini ia kampanyekan untuk memberi semangat dan harapan kepada masyarakat Tanah Air yang cenderung panik dan tak siap menghadapi situasi krisis seperti saat ini. “Krisis Covid-19 ini sudah selayaknya mendorong solidaritas kita sebagai sesama manusia, untuk bahu-membahu menghadapi tantangan ini bersama. Dalam situasi ini yang sangat diperlukan adalah semangat dan harapan. Inilah yang kita perlu kembangkan bersama,” kata Dhimas di Menteng, Jakarta (28/3/2020)

Ia menambahkan, sebagai sesama anak bangsa, masyarakat perlu saling memberi semangat dan harapan ini kepada orang-orang di sekitarnya. “Jangan fokus pada berita negatif, walau mungkin itu riil, tapi yang lebih penting adalah kita memberi semangat dan harapan agar secara psikologis kita lebih kuat,” ujar pria yang studi doktoral di Oxford, Inggris itu.

See also  Kenapa Negara Gamang Menghadapi FPI ?

#kitabisanormalkembali mencerminkan dan menggerakkan solidaritas di antara seluruh rakyat Indonesia. Solidaritas sendiri merupakan ekspresi nilai gotong-royong yang menjadi intisari Pancasila, terang Dhimas. Solidaritas ialah kemampuan merasakan satu rasa penderitaan dengan orang lain, merasa senasib, memiliki perasaan solider atau perasaan setia kawan. Menurut Dhimas, solidaritas sebenarnya menjadi suatu manifestasi alami yang muncul dari kebaikan alamiah manusia ( existential goodness).

Ini dibuktikan oleh penelitian dari Lembaga Penelitian Bencana di Universitas Delaware, Amerika Serikat, yang telah melakukan 700 penelitian terkait krisis atau bencana, termasuk gempa dan banjir sejak 1963 secara detil.

Simpulannya, di kala bencana datang orang tetap tenang dan saling membantu, walau memang tetap ada ketakutan dan kekerasan, namun jumlahnya sangat minim. Yang selalu terjadi adalah, kebanyakan orang saling berbagi dan menguatkan satu sama lain ketika krisis atau bencana menimpa.

Dhimas Anugrah

Dhimas juga bercermin pada situasi krisis virus korona di Jerman, ketika ada sebuah tulisan di sebuah dinding rumah: “Hai tetangga, jika kamu berusia lebih dari 65 tahun dan kekebalan tubuhmu lemah, saya ingin membantumu. Beberapa pekan ke depan, saya bisa membantumu berbelanja di luar. Jika kamu perlu bantuan, tinggalkan pesan di pintu rumahmu dengan nomor teleponmu. Bersama, kita bisa menjalani semuanya. Kamu tidak sendirian!”

See also  Choirul Anam : PPI Dunia Kecam Aksi Teror Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar

Menurut Dhimas, solidaritas seperti itulah yang selayaknya dikembangkan dalam konteks masyarakat Indonesia. “Solidaritas dan gotong-royong adalah saudara kembar, yang merupakan ekspresi nilai Pancasila yang sudah sepantasnya mewarnai dinamika masyarakat kita dalam menghadapi situasi ini,” ujarnya. Dhimas mengaku #kitabisanormalkembali terinspirasi dari seorang ibu di Puglia, Italia yang mengatakan, “andra tutto bene!” (semua akan baik-baik saja). Perkataan itu meneduhkan, memberi semangat, dan menunjukkan belas kasih.

Oleh sebab itu #kitabisanormalkembali bukan sekadar ungkapan biasa. Di dalamnya memuat rasa seperjuangan dan sepenanggungan. “Di dalam #kitabisanormalkembali ada ekspresi welas-asih dalam hal memberi semangat dan harapan, sekaligus doa bagi semua orang yang membacanya agar keadaan kita segera normal kembali,” ujar pengajar di Akademi Pancasila dan Bela Negara, Jakarta itu.

Muatan solidaritas dalam #kitabisanormalkembali mengandung sebuah harapan. Yaitu, harapan akan sebuah keadaan yang kembali pulih, normal seperti sedia kala. Harapan inilah yang perlu masyarakat miliki. Harapan dalam #kitabisanormalkembali bukan sekadar mimpi, bukan pula candu yang membius masyrakarat, namun suatu keadaan batin yang memampukan kita bertahan dalam kesesakan karena krisis, ujarnya.

See also  Joko Widodo Menyapa Talenta Muda Bhinneka Tunggal Ika dari Berbagai Daerah

Dhimas juga mengutip temuan Dr. Viktor E. Frankl, tahanan Nazi yang mengobservasi sesama para tahanan di kamp konsentrasi Nazi selama tiga tahun. Frankl menemukan, hanya orang-orang yang punya harapan bisa bertahan hidup, sementara yang tak memiliki harapan lebih rapuh jiwanya, lalu cepat menemui ajal. #kitabisanormalkembali adalah pengakuan terbuka bahwa masyarakat memiliki harapan akan segera berakhirnya krisis ini. #kitabisanormalkembali merupakan ikhtiar membangun semangat rakyat Indonesia yang sedang terpuruk karena krisis. “Mari membangun solidaritas dan menebar welas-asih, seraya tetap berdoa agar #kitabisanormalkembali,” pungkas Dhimas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.