Sejak Akhir 2019 Aksi Unjuk Rasa Tangkap Penyidik KPK Novel Baswedan Berlangsung di Kejaksaan Agung

Jakarta, chronosdaily.com – Aksi yang mirip seperti yang dilakukan oleh Corong Rakyat itu juga telah dilakukan sejumlah massa pada Sabtu, 28 Desember 2019 tahun lalu. Kalau dalam aksi ini, massa menyebut dirinya berasal dari Koalisi Masyarakat Penegak Keadilan (Kompak).  Aksi pertama menuntut Kejaksaan Agung segera menangkap dan mengadili penyidik senior KPK Novel Baswedan di akhir tahun 2019 itu dilakukan di depan pagar Komplek Kejaksaan Agung juga.

Kalau yang ini, massa peserta aksinya lumayan besar. Koordinator Kompak, mengaku bernama Asep Irama, mengklaim massa pendemo sekitar 1000-orang. Peserta aksi menuntut Novel Baswedan agar segera diadili atas kasus dugaan penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi di Bengkulu pada tahun 2004 silam. “Novel Baswedan dipuja-puja bak pahlawan di KPK. Selebihnya, Novel tak lebih dari pelaku kejahatan dengan cara sadis, di mana korban ditembak, dengan menggunakan kuasanya sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu tempo itu,” ujar Asep Irama.

Menurutnya,  sebelumnya Polisi dan Kejaksaan ikut menyatakan berkas perkara Novel Baswedan sudah P21 dan dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Bengkulu pada tanggal 29 Januari 2016 lalu. “Tapi Jaksa Penuntut Umum (JPU) menarik kembali surat tuntutan pada tanggal 2 Februari 2016 dengan alasan mau disempurnakan,” ujarnya.

See also  Tak Berpihak Kepada Nelayan, Kantor KKKP Disegel, KIARA Minta Edhy Prabowo Mundur

Selanjutnya, setelah massa dari Kompak menggelar aksi di depan Kejaksaan Agung, pada Jumat, 03 Januari 2020, masih di awal tahun ini, sejumlah massa kembali menggelar unjuk rasa di depan Kejaksaan Agung. Massa kali ini menamakan dirinya Gerakan Rakyat Tangkap Novel Baswedan (Gertak). Kali ini aksi dimulai pukul 14.30 WIB. Jumlah massanya, puluhan orang.

chronosdaily

Massa aksi datang menggunakan bus metromini, terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu hingga remaja usia belasan tahun.

Aksi Gertak ini dikomandoi seseorang mengaku bernama Rahman. Padahal, tahun lalu, saat menggelar demo di KPK, mereka mengatasnamakan Kelompok Nasional Mahasiswa Selamatkan KPK. Dalam aksinya di depan Kejaksaan Agung kali ini, Gertak menuntut Jaksa Agung St Burhanuddin untuk melanjutkan proses perkara penganiayaan yang diduga dilakukan penyidik senior KPK Novel Baswedan pada 2004 saat masih menjabat Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Bengkulu. “Kami meminta Jaksa Agung melanjutkan kasus Novel Baswedan, bagaimana bisa dia (Novel) pembunuh rakyat kecil masih bisa berkeliaran dan tidak diproses secara hukum?,” kata Rahman.

See also  DPN Gerakan Rakyat Cinta Indonesia Laksanakan Refleksi Akhir Tahun

Baru demo beberapa menit, mereka langsung mengeluarkan ban bekas dan membakarnya di depan pintu gerbang Kejagung. Pihak kepolisian yang melihat itu hanya membentuk barikade agar massa aksi tidak maju lebih jauh masuk ke Kejagung. Para pendemo, dibayar. Salah seorang narasumber, AK alias Bung Rey, yang kerap mengorganisir massa untuk unjuk rasa, mengaku, mereka memang dibayar sekitar Rp 15 juta untuk satu kali aksi dengan biaya Rp 100-150 ribu per orang, termasuk mobil komando, akomodasi bus, dan spanduk.

“Ya, kalau gambaran taruh saja kalau massa aksi biasa itu, biasanya umumnya kan ya dikasih Rp 100-150 ribu per orang, sama metromini 500 ribu, mobil komando 2 juta sampai 2,5 juta gitu aja sih, sama spanduk lah kalau spanduk mah standar lah 150 ribu,” tutur narasumber AK alias Bung Rey saat itu. Terus, pada Senin 06 Januari 2020, awal munculnya massa bernama Corong Rakyat. Mereka menggelar aksi di depan Kejaksaan Agung, tuntutannya sama. Meminta Jaksa Agung segera memroses Novel Baswedan.

See also  Bertolak ke NTT, Presiden Tinjau Sejumlah Prasarana dan Serahkan Bantuan Modal Kerja

Dalam aksinya, selain membawa spanduk berisi tuntutan agar Novel diadili, mereka yang bertelanjang dada, dan juga membawa serta memakai topeng bermuka Novel Beswedan sebagai aksi simbolik perlawanan. Koordiantor Corong Rakyat, Ahmad meminta kasus Novel Baswedan ditindaklanjuti oleh Kejaksaan Agung. “Kasus Novel sudah diungkap, gantian donk. Ungkap juga kasus dugaan penganiayaan dan pembunuhan Novel,” ujarnya. [Jon]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *