Ribuan Orang Indonesia Dilaporkan Jadi Korban Penipuan Investasi Bodong GCG Asia

Jakarta, chronosdaily.com – Para korban dugaan penipuan investasi bodong dari pialang Guardian Capital Group (GCG) Asia merasa dikangkangi oleh para oknum penyidik di kepolisian. Diduga memakan duit sogokan dari pelaku, sejumlah oknum penyidik di kepolisian dianggap telah bersengaja membuat proses hukum terhadap para pelaku penipuan itu melempem.

Bambang Djaya, warga Jakarta yang merupakan salah seorang korban penipuan GCG Asia, meminta pimpinan Polri menindaktegas para anak buahnya yang tidak professional, yang bermain mata, dengan para pelaku. “Penegakan hukum melempem. Lama-lama memang masyarakat tidak akan percaya lagi dengan proses yang dilakukan polisi. Kok malah para pelaku sebagian dibebaskan, dan tidak ditahan. Masih bebas berleha-leha. Sedang kami para korban, tidak jelas sampai kapan akan kembali mendapatkan hak kami. Sialan,” tutur Bambang Djaya, ketika berbincang di Jakarta, Sabtu (19/10/2019). Bambang Djaya mengatakan, dirinya bersama sejumlah korban lainnya sudah melaporkan dugaan penipuan yang ditaksir telah membuat warga mengalami kerugian hingga puluhan miliar rupiah itu. Laporannya ke Polda Metro Jaya.

Untuk wilayah Jakarta saja, lanjutnya, tidak kurang dari 4000 orang diduga menjadi korban penipuan GCG Asia itu. Pakai mata uang Dolar Amerika Serikat. Bambang mengungkapkan, otak penipuannya di Jakarta adalah pasangan suami isteri Gunawan Wijaya dan Lenny Husein. Gunawan adalah agen asuransi Allianz di Jakarta.

Diduga, Gunawan memanfaatkan nasabah Allianz untuk digeser menjadi pasien GCG Asia. “Sekitar 4000 orang di Jakarta. Beda lagi dengan yang di Surabaya,” ujar Bambang Djaya. Gunawan Wijaya sudah ditetapkan sebagai salah seorang tersangka. Demikian pula dengan isterinya, Lenny Husein. Gunawan sudah 60 hari mendekam di Rumah Tahanan Polda Metrojaya.

“Isterinya Gunawan, Lenny Husein kok enggak ditahan? Demikian pula, sejumlah agen asuransi yang diduga terlibat sudah diperiksa, namun dilepas lagi oleh penyidik. Yang paling aneh, ada empat orang pemilik Money Changer dari Bangka Belitung, sempat seminggu lebih ditahan di Polda Metrojaya. Sekarang sudah bebas dan kembali lagi ke Bangka Belitung. Ini ada apa?” tanya Bambang Djaya.

Bambang Djaya dan rekan-rekannya sesame korban sudah berkali-kali mendatangi Polda Metrojaya. Menanyakan kepada penyidik mengenai proses hokum atas dugaan penipuan yang dilakukan GCG Asia lewat Gunawan dan Lenny kepada mereka. Namun, kata dia lagi, semakin diikuti proses yang sudah dilakukan, semakin banyak keanehan yang tidak sesuai proses hukum.

“Misalnya, informasinya sejumlah oknum penyidik dikasih duit oleh pihak Gunawan. Agar Isterinya, Lenny Husein tidak ditahan. Demikian juga para agen asuransi, juga pihak money changer yang sudah dilepas. Itu tidak mungkin gratisan,” bebernya. Padahal, lanjutnya, sejak awal melaporkan kasus itu ke Polda Metrojaya, sudah mendapat atensi dari Mabes Polri. Agar segera diproses. Agar segera para pelaku ditangkap dan ditahan. Sebab, semua bukti-bukti sudah sangat kuat. Kok malah melempem? Oknum penyidik di Polda Metrojaya yang menangani kasus ini diduga makan duit. Padahal, kami para korban berupaya mempercepat proses hukumnya, dengan membantu operasional penyidik agar bisa menelusuri kesana kemari,” beber Bambang Djaya lagi.

Bambang Djaya mengungkapkan, untuk pelaku di Jakarta Raya saja, pasangan suami isteri Gunawan Wijaya dan Lenny Husein adalah pelaku penipuan GCG Asia yang merupakan agen asuransi besar. “Keduanya, setahu saya adalah agen asuransi Allianz. Jadi mereka memanfaatkan nasabah asuransinya untuk dijebak dan ditipu dengan GCG Asia. Mereka itu harus diusut tuntas. Pihak asuransinya juga tidak boleh berleha-leha,” pinta Bambang Djaya.

Dia menegaskan, untuk wilayah Jakarta saja, tidak kurang dari 4000 orang nasabah asuransi, yang jadi korban GCG Asia itu. Para pelapor, termasuk dirinya, memprediksi, dari kerugian yang dialami pelapor saja sudah mencapai Rp 10 miliar. “Kami mendesak mereka semua itu ditangkap dan segera diproses hukum. Kembalikan uang kerugian para korban segera,” ujar Bambang Djaya.

Dia mengingatkan, kinerja kepolisian untuk mengusut kasus ini hendaknya tidak bermain-main. Sebab, penipuan jenis ini sangat meluas, dengan pelaku yang berjejaring. “Pelaku aja mau dan sanggup menyogok polisi, supaya mereka tidak diusut. Ini harus jadi perhatian Pimpinan Polri, agar para polisinya tidak bermain-main mengusut kasus ini,” ujar Bambang Djaya.

Bambang Djaya dkk mengaku kesal dan jengkel dengan permainan oknum penyidik Polisi di Polda Metrojaya, yang diduga bermain mata dengan para pelaku. Karena itu, dia akan melaporkan proses ini ke Pimpinan Polri di Mabes Polri, dan juga ke lembaga-lembaga terkait. “Sialan, kami dikerjain. Sudah uang kami habis, kami masih bantuin agar mereka segera diproses sesuai hokum, eh malah kami yang dipecundangi. Para oknum penyidik sialan seperti itu harus ditindaktegas. Malu dong dengan Pak Kapolri, yang katanya mau menegakkan reformasi Polri, Polisi yang Promoter. Mana?” ujar Bambang dengan nada kesal.

Hal senada disampaikan, Wiriawan, salah seorang nasabah Asuransi Prudential, yang menjadi korban pialang Capital Group (GCG) Asia, di Jawa Timur. Wiriawan mengungkapkan, GCG Asia ini memiliki basis terbesar di Surabaya. Untuk wilayah Indonesia, Surabaya leading dengan nasabah terbanyak. Totalnya bisa mencapai 34 ribu nasabah atau member. Bisnis bodong ini dimotori pasangan suami isteri selaku leader yakni David Hendrawan dan Rinawati. “Saya kenal David Hendrawan dan Rinawati sebagai agent Prudential. Saya memang nasabah Prudential. Namun, Rina da David memanfaatkan nasabah Prudential di sejumlah wilayah dan diiming-imingi dapat duit ke GCG Asia,” ungkap Wiriawan.

David Hendrawan diperkirakan juga merupakan leader dari pelaku lainnya, yakni Gunawan Wijaya yang sudah ditahan di Polda Metro Jaya. Gunawan Wijaya tadinya ditahan bersama para Money Changer bodong. Namun para pemilik money changer yang kebanyakan berlokasi di Bangka Belitung itu dilepas lagi oleh penyidik Polda Metrojaya. Wilayah jaringannya termasuk Jakarta, Pontianak, Tanjung Pinang, Medan, Bali, Bandung dan wilayah lainnya.

Hingga kini, lanjut Wiriawan, ribuan korban penipuan GCG Asia di Surabaya dan wilayah lain masih berupaya mencari keadilan. Dia mengatakan, pasangan suami isteri David Hendrawan dan Rinawati merupakan Top Leader GCG Asia. Keduanya  ternyata juga merupakan Agen Perusahaan asuransi ternama Prudential. Sehingga dengan  memanfaatkan jaringan nasabah Prudential yang sudah ada,  dengan mudah untuk merekrut member-member baru dalam permainan ponzi sistem piramida berkedok trading forex tersebut.

Sebagaimana yang dialaminya, Wiriawan mengatakan, dengan membonceng nama besar asuransi Prudential, yang mempunyai jaringan nasabah yang besar di Indonesia, David Hendrawan dan Rinawati sebagai Top Diamond Leader GCG Asia mampu merekrut puluhan ribu nasabah atau member hanya dalam waktu 3 bulan. Dengan total penjualan diperkirakan 126 juta Dolar Amerika atau setara dengan 1,8 triliun rupiah.

Hingga kini masyarakat yang terdiri dari 5 orang telah melaporkan ke Polda Jatim dengan kerugiannya berkisar sebesar Rp 12 miliar. “Bagaimana kalau  sampai puluhan ribu yang melaporkan? Besar sekali angka yang diraup mereka bukan?” tantangnya.

Para korban berharap, Pemerintah membentuk Tim Satgas yang dapat dengan cepat dan sigap mengambil tindakan untuk menyelamatkan dana masyarakat sebesar belasan triliun rupiah. Sebelum dana tersebut disembunyikan atau dikirimkan para Top Leader tersebut keluar negeri melalui black market money changer (MC). Kasus ini merupakan bola panas yang bergulir menjadi di tingkat Nasional, dengan menelan korban puluhan ribu yang bertebaran di beberapa wilayah lain. “Dan hebatnya sampai kini masih beroperasi dikarenakan lambatnya pihak aparat menjerat ara pelakunya,” ujar Wiriawan. [Jon]

 

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *