Punya Keahlian Tapi Tak Punya Ijazah, Sekitar 40 Persen Pemuda Butuh Pekerjaan

Jakarta, chronosdaily.com – Pertarungan perebutan lapangan kerja bagi kalangan muda semakin keras. Hampir mencapai 40 persen, orang muda tidak memiliki pekerjaan. Dan masih harus bertarung dengan para pencari kerja formal, yang memiliki ijazah dari sekolahan atau kampus. Hal itu diungkapkan Tokoh Muda Jakarta Timur, Ikhsan Akbar, menyikapi persoalan kalangan muda di era sulitnya perekonomian yang sedang terjadi.

Ikhsan yang banyak melakukan pengorganisiran anak-anak muda di Jakarta Timur, menemukan, tidak sedikit orang muda yang secara akademik tidak lulus, namun memiliki keahlian atau skill, yang tidak kalah dengan lulusan perguruan tinggi. “Hitungan saya mencapai 40 persen mereka memiliki skill. Seperti perbengkelan. Namun tidak punya ijasah. Dan sering kalah bersaing, karena tempat-tempat atau lapangan kerja yang ada merekrut yang punya ijazah,” tutur Ikhsan Akbar, di Jakarta, Rabu (20/11/109).

Saat ini, Ikhsan menjadi pimpinan sebuah Organisasi Kepemudaan (OKP) di Jakarta Timur. Banyak kegiatan pelatihan dan upaya membenahi sistem lapangan kerja yang memadai bagi kalangan muda. Ikhsan menegaskan, paling tidak ada dua hal pokok yang harus dibehani oleh pemerintah bersama masyarakat, agar kalangan mudanya bisa direkrut bekerja dan berpenghasilan yang memadai.

Pertama, pendidikan. Dunia pendidikan memang sudah mengalami kemajuan dan kecanggihan. Tetapi, faktanya, tidak sedikit anak muda yang putus sekolah. Malah bekerja serabutan. “Pendidikan harus memberikan keahlian nyata, dan memberikan kesempatan nantinya jika lulus untuk mendapatkan pekerjaan yang layak,” ujar Ikhsan.

Kedua, ketersediaan lapangan kerja. Terutama dalam proses rekrutmen. Selama ini, orang direkrut bekerja hanya berdasarkan formalitas ijazah. “Padahal, banyak yang punya keahlian namun karena tidak ada ijasah, lalu tidak diterima. Jadi pengangguran. Sedangkan modal untuk memulai usaha, tidak ada,” ujarnya.

Ikhsan dan kawan-kawannya, melakukan sejumlah pelatihan kepada kalangan muda, terutama yang putus sekolah. Dari kemampuan yang dilihatnya, secara skill tidak kalah bersaing dengan lulusan sekolah. “Kami pernah tes, coba, yang tidak punya ijasah dengan yang baru lulus dengan ijasah, di bengkel. Dibuka semua kerangka dan bodi kendaraan, dan disuruh pasang ulang. Hasilnya, kebetulan beberapa yang kami latih, bisa dan malah lebih valid pemasangannya, daripada yang punya ijasah,” ungkapnya.

Ikhsan Akbar kini menjadi Ketua Pemuda Pancasila Jakarta Timur (PP). Dia ingin menggerakkan organisasi kepemudaan untuk melatih dan mendidik anak-anak muda, sehingga tidak terjerumus pada tindakan-tindakan yang tidak produktif. “Termasuk membuka, atau kasarnya memodali sejumlah anak muda untuk belajar kejar Paket A, B dan C, supaya punya ijazah,” ujarnya.

Tak sampai di situ, Ikhsan Akbar yang mengaku akan maju dalam pertarungan Pemilihan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia Jakarta Timur (KNPI Jakarta Timur) bulan ini, juga beberapa kali membuka Job Fair. “Kami gelar di Cakung, dari para pencari kerja waktu itu, kebanyakan orang luar Jakarta. Ada dari Bekasi, Cikarang dan Karawang. Dai Jakartanya malah sedikit. Dan saya cek ijasahnya, mereka kebanyakan tidak memiliki ijasah,” ujar Ikhsan lagi.

Karena itulah, Ikhsan berharap, para stakeholder, terutama pemerintah dan lembaga-lembaga yang menyediakan lapangan kerja, juga mengedepankan keahlian dalam melakukan rekrutmen. “Ijasah itu pasti, itu kan formal. Tetapi, bolehkah ada semacam persentasi bagi yang punya keahlian diberikan kesempatan bekerja? Ya ada semacam perimbangan, bahwa diutamakan dan dites yang memiliki skill. Tidak langsung menolak yang tak punya ijasah. Sebab yang dibutuhkan adalah yang punya skill, bukan ijasahnya,” ujar Ihksan Akbar.JON

Tak Punya Ijazah, Pekerjaan Sebagai Sales Bisa Jadi Alternatif

Ronaldo Eduard Nainggolan, salah seorang pemuda Jakarta, yang baru 3 bulan diterima sebagai Sales Executive di PT Nusantara Berlian Motor, yang merupakan showroom penjualan mobil PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), distributor resmi Mitsubishi, mengaku, dunia kerja sebagai sales, sangat berpeluang bagi kaum muda Indonesia. “Asal ada kemauan. Dan tentu mau berusaha. Sebagai sales itu sangat potensial untuk mendapatkan penghasilan halal,” ujar Ronaldo Eduard.

Memang, lapangan kerja kian banyak persaingan. Menurut pria lajang yang sebelumnya bekerja  sebagai Sales di Tim Marketing Telkomsel, soal penghasilan resmi, berupa gaji pokok, masing-masing perusahaan memang berbeda-beda. Biasanya tidak besar. “Kalau gaji paling ada yang gopek, sejuta dan satu setengah juta. Tergantung perusahaannya. Tetapi, penghasilan resmi dari penjualan kan dapat. Itu peluang,” tutur Ronaldo Eduard.

Ronaldo juga sebelumnya sebagai Tim Marketing penjualan rumah di PT Galaxi Media Property (GMP). Menurut dia, keahlian sangat perlu, seperti dirinya, meski belum menyelesaikan studi S1-nya, tetapi kemampuan untuk bernegosiasi, pemasaran, sudah dimilikinya. “Selanjutnya adalah peluang. Adakah peluang untuk bekerja? Dan bagaimana peluang itu dipergunakan? Semuanya dari kemauan dan kesediaan bekerja kok,” paparnya.

Ronaldo mengaku, karena belum memiliki ijasah, dirinya cukup tahu diri untuk mencari pekerjaan yang cocok baginya. Tidak mungkin menjadi pekerja sebagai Aparatur sipil Negara (ASN) saat ini. Sebab, instansi-instansi seperti itu sangat rigid soal ijasah. “Ada juga pernah saya melamar, mesti ada ijasah kemampuan pakai Bahasa Mandarin dan Inggris. Lah saya enggak punya, ya enggak diterima,” jelasnya. [Jon]

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *