Prof. Tjipta Lesmana: Belajar Komunikasi Politik itu Penting!

Jakarta, chronosdaily.com – Komunikasi memiliki peran sentral dalam giat politik di berbagai tingkatan, dari pemerintah pusat hingga ke daerah. Dalam ceramah umum bertajuk”Quo Vadis, Komunikasi Politik Indonesia?” yang diadakan secara daring oleh Christian School of Culture, Politics, and Philosophy (CHRISPOL) pada Senin malam 15/6/2020, Prof. Dr. Tjipta Lesmana, M.A., mengatakan komunikasi politik tidak mudah dilaksanakan dalam arti untuk mencapai tingkat efektivitas yang optimal.

Butuh kecakapan, ketulusan, dan empati untuk menjadi komunikator politik yang cakap. Tjipta menerangkan, “Komunikasi politik hakikatnya adalah segala bentuk komunikasi yang ditujukan untuk melaksanakan, merundingkan, atau mengakui suatu hubungan kekuasaan.” Jadi, komunikasi politik wajib dilakukan dengan cara yang benar. Demi menghindari tindak komunikasi politik yang kurang elok, Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik itu menyarankan agar audiens berkomunikasi politik dengan didasari pada semangat kasih terhadap sesama.

Tjipta mengatakan, masalah komunikasi politik di tanah air sering timbul karena politik pada dirinya sendiri memiliki tiga aspek besar, yaitu (1) usaha mendapatkan kekuasaan; (2) mendistribusikan kekuasaan; dan (3) melaksanakan kekuasaan, yang meliputi mempertahankan dan mentransfer kekuasaan. Karena aspek kekuasaan yang menggiurkan inilah sebagian politisi lupa menggunakan prinsip komunikasi politik yang baik.

See also  ICPW Gelar Baksos, Rakyat Miskin Masih Sangat Butuh Bantuan Sembako 

Dalam ceramah umum itu Tjipta mendorong semua audiens mempelajari sungguh-sungguh dasar ilmu komunikasi politik, agar tercipta sebuah atmosfer komunikasi politik yang baik.

Direktur Eksekutif Chrispol Dhimas Anugrah mengatakan, komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik, sehingga pihaknya merasa perlu menyelenggarakan ceramah umum daring bertema itu. “Di masa lalu ada pemimpin daerah yang sangat bagus dan terkenal bersih tapi terjungkal karena komunikasi politiknya yang buruk. Nah kita perlu belajar bersama tentang apa dan bagaimana komunikasi politik ini,” ujarnya, Selasa pagi, 16/6/2020.

Dhimas mengaku, CHRISPOL memiliki keprihatinan terhadap banyaknya ujaran kebencian, hoax, dan fitnah yang menghiasi dunia politik di tanah air. Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi, katanya. Dhimas mengajak semua pihak menghindari jenis komunikasi yang didasari rasa benci, kebohongan, dan fitnah.

Perkembangan digital pun turut mempengaruhi dinamika komunikasi politik dewasa ini. Menurut Dhimas, masyarakat sudah terbiasa mengirim pesan dan kritik langsung kepada para tokoh politik melalui media sosial mereka. Hal ini menimbulkan daya tarik tersendiri di masyarakat.

See also  Pak Jokowi, Selama Covid-19, Pasar dan Konsumen Indonesia Telah Dibanjiri Sampah Berbahaya 

Hanya saja, Dhimas mendorong agar masyarakat tetap memperhatikan prinsip komunikasi yang elok dan menghindari serangan verbal terhadap SARA dan karakter seseorang. “Menyampaikan pendapat itu lumrah, tapi jangan sampai menghina atau bahkan memfitnah pihak lain. Hindari ujaran kebencian dengan motivasi apa pun. Sesuai sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mari kita berkomunikasi politik dengan baik,” pungkas pria yang studi di Oxford, inggris itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *