Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si. : STT IKAT Harus Punya Standar Mutu dan Berdampak

Jakarta, chronosdaily.com – Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Prof Dr Thomas Pentury, MSi  berharap pendidikan STT IKAT harus punya standar mutu dan lebih penting lagi harus bisa berdampak. “Tetaplah menyelenggarakan proses pendidikan dengan baik dengan standar mutu yang tinggi, ajaknya. Ditegaskan, bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) No 23 Tahun 2004  dalam Pendidikan Tinggi Kristen tidak ada gelar Master Ministry (M.Min) dan Doctor of Dignity (D.Dig).

“Jadi dalam vokasi itu hanya ada untuk D1,D2,D3 dan D4. Sedangkan untuk S1, S2 dan S3 tidak ada gelar sesuai regulasi yang diatur dengan PMA No 23 Tahun 2004. Jadi tidak ada M.Min dan D.Min apalagi Master Ministry Konsentrasi. Saya tegaskan tidak ada gelar konsentrasi. Maka tunggu saja dalam waktu dekat akan diperbaiki PMA  No 23 Tahun 2004. Tidak hanya 3 nanti setidaknya ada 28 program studi yang diperbaiki,” tegas pria berdarah Ambon yang pernah menjabat Rektor Universitas Pattimura ini.

Hal itu disampaikan saat membawakan kuliah umum dengan Tema; Moderasi Agama Pada Era Milenial di STT IKAT Bintaro, Jakarta Selasa (6/8). Kuliah umum ini diselenggarakan Program Pasca Sarjana STT IKAT. Selain dihadiri seluruh sivitas akedemika STT IKAT, kuliah umum ini juga dihadiri langsung Ketua STT IKAT  Dr. Jimmy MR. Lumintang, MA, MBA, MTh., Direktur Pasca Sarjana Pdt Dr Jimmy Polii dan jajaran pimpinan STT IKAT lainnya.

See also  Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Bendo

Prof Dr Thomas Pentury menegaskan dari 9 kriteria sesuai BAN PT (sebelumnya tujuh standar instrumen). yang harus dipenuhi perguruan tinggi sesuai regulasinya, setidaknya minimal dua hal wajib dimiliki STT yaitu terkait standar sumber daya manusia (dosen dan jajarannya) dan ketersedian sarana infrastruktur (kampus).

“BAN PT mensyaratkan 9 kriteria dari  sebelumnya 7 standar instrumen. Tak usah  semua (7) dulu ya, saya minta minimal 2 dipenuhi yaitu ketersedian SDM dan sarana infrastruktur pendukung,” tutur Professor Matematika ini sembari menambahkan itu penting dengan tujuan menjaga standar mutu pendidikan tinggi.

Ia mencontohkan, sebuah perguruan tinggi menyelenggarakan program doktor wajib minimal ada dua profesor yang sesuai bidangnya dan tercatat di Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT). Semua harus datanya terekord baik.

“Jangan kita selalu mengandalkan mukzijat. Misalnya enam bulan kuliah sudah dapat gelar Master, luar biasa. Itu mukjizat juga khan. Semua harus ada proses dan standarnya. Ada STT yang di blacklist di Jakarta karena pernah menerima mahasiswa pindahan dari Nias langsung diberi ijazah. Saat dia jadi ketua DPRD ijasahnya diperiksa tak ada terdaftar di pemerintah,” bebernya mengingatkan betapa tidak bertanggung jawab penyelenggara pendidikan tinggi.

See also  Satgas Penuntasan Banjir Data Personel dan Peralatan Penanganan Banjir

Thomas Pentury juga menyinggung bahwa setidaknya tiga area dalam pendidikan tinggi Kristen  harus diperhatikan yaitu area objektivitas (data ilmiah), area subjektivitas (sarana) dan irisan area di tengahnya (nilai, etika dan moral).

Selain itu, dari hasil penelitian yang dilakukan tentang pertumbuhan gereja diperoleh data sebagai berikut: Pertumbuhan karena migrasi (perpindahan jemaat) terdapat 43,4 persen, pertumbuhan karena biologis (kelahiran) 23,8 persen dan menariknya pertumbuhan karena misi penginjilan hanya 2,1 persen. “Misi penginjilan itu ternyata sangat kecil,” cetusnya.

Fakta selanjutnya, kata Doktor lulusan ITS ini bahwa anak-anak milenial perlu dilibatkan dalam pelayanan di gereja sehingga mereka antausias ikut peribadahan di gereja. Ia menyoroti gereja-gereja umumnya mainstream yang masih kurang melibatkan pemudanya sehingga kerap pemudanya mencari gereja yang sesuai dengan mereka. “Saya kira tugas gereja dan lembaga pendidikan Kristen sama-sama memikirkan solusinya dan menjawab tantangan untuk memenangkan anak milenial,” tegasnya.

Karena itu, Prof Thomas Pentury meminta pelaku Pendidikan Kristen untuk menjawab tantangan anak muda milenial termasuk mengevaluasi bahan ajar atau materi kuliah yang disesuaikan dengan perkembangan  era Revolusi Industri 4.0.

See also  Sidang Sinode GBI Mengusung Great Harvest, Menuai Dengan Kuasa Roh Kudus

“Anda semua yang ada di ruangan ini beruntung belajar ilmu agama. Saya sering  bilang  ke diri saya, ngapain saya harus belajar matematika? Kalau suruh hitung, lebih cepat kalkulator. Sekarang masuk ke sistem semua bisa dihitung semua termasuk dengan biaya kalkulasi. Maka dari itu banggalah bahwa Anda memilih belajar Agama,” ujarnya mensuport mahasiswa teologia, yang diiringi tepuk tangan. Meski demikian, Ia mewanti-wanti harus belajar pada proses yang benar. Ada standar yang utama yang kita kerjakan. Yang utama adalah harus belajar sama Yesus Kristus. Dia guru yang luar biasa. [warningtime.com]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *