Prediksi Masyarakat Jatim di Pilgub 2023 Politisi PKB Ratna Juwita Kalahkan Khoffifah

Surabaya, chronosdaily.com – Sejumlah prediksi mengenai kontestasi politik di Jawa Timur kini bermunculan. Untuk Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) mendatang, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Ratna Juwita Sari diprediksi akan mengalahkan Gubernur incumbent  Khofifah Indar Parawansa.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Aliansi Pemuda Nasional (DPP APN) Abdullah Amas menyampaikan, di Jawa Timur nama politisi Ratna Juwita Sari mulai merebak. Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKB itu dianggap mampu meraup suara mayoritas dalam Pilgub Jawa Timur mendatang. “Kami mengajukan  anggota DPR Ratna Juwita Sari dalam Pilgub Jatim nanti, bila Khofifah diputuskan kembali running Pilgub. Ratna kami nilai mampu mendapat suara dari kalangan muda milenial  dan suara kaum perempuan di Jawa Timur,”tutur Abdullah Amas, Jumat (15/05/2020).

Menurut Abdullah Amas, dari dulu Jawa Timur memang memiliki segudang politisi yang mumpuni. Calon pemimpin dari kalangan perempuan juga banyak. “Warga Jatim sebetulnya punya bintang baru, yaitu Ratna Juwita Sari. Ini mau ditanding di Pilkada Jatim 2023. Sepertinya bakal bunyi dan tak kan mengecewakan,”ujar Abdullah Amas.

See also  Pertagas Gelar Energy Exchange Forum 2022: Pemanfaatan Gas Bumi Sebagai Transisi Energi
Hj. Ratna Juwita Sari

Menurut prediksinya, Ratna Juwita Sari bakal menang. Karena Ratna Juwita Sari mewakili unsur santri, perempuan dan dekat dengan gaya milenial. “Bisa dikatakan Ratna Juwita Sari ini Ridwan Kamilnya Jawa Timur. Karena berhasil jadi pemimpin bergaya millennial,”ucapnya.

Abdullah Amas juga mengatakan, banyak kelompok masyarakat di Jawa Timur, yang dengan sukarela akan membentuk Relawan Ratna Juwita. Seperti  Aliansi Pemuda Nasional dan Organisasi Kepemudaan (OKP) lainnya. “Jawa Timur perlu sosok baru,” katanya.

Amas juga melihat adanya distrust publik Jawa Timur kepada Gubernur Khofifah. Terutama pada saat penanganan pandemic Virus Corona atau Covid-19, yang menurutnya Khofifah terlalu banyak konfrensi pers dan hal-hal seremonial belaka. “Bahkan saat konfrensi pers pun sosial distancing diabaikan. Ia juga ribut dengan Walikota Surabaya. Kami tak menyalahkan siapapun. Tapi ketika perseteruan itu keluar, berarti ada hal yang salah. Itu juga sebagai tanda, tidak komunikatif ke jajaran di bawahnya, dalam hal ini kepada Pemkot Surabaya,”jelas Abdullah Amas.

See also  Konsisten Pemberdayaan Perempuan, EMJI Masuk Iringan Dukung Ganjar Pranowo

Sedangkan untuk Ratna Juwita Sari, lanjut Abdullah Amas, ada kelebihan lainnya, yakni Ratna berasal dari kalangan Nahdatul Ulama (NU). “Yang mana NU adalah warga mayoritas di Jawa Timur,”ujar Amas. [Jon]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *