Phil Artha Senna : Siasat Kantong Plastik di Bali

Rio, driver grab motor sigap memasukan aneka makanan pesanan dari aplikasinya. “Sejak kantong plastik dilarang, kita harus sediain kantong sendiri. Karena pelanggan kadang nggak mau tahu dengan kondisi ini. Yang mereka tahu, makanan harus sesuai utuh kondisinya dengan yang mereka pesan. Makanya gue selalu sedia kantong ini,” katanya sambil memasukan aneka makan dalam kantong plastik warna merah.
Bali menerapkan larangan aturan penggunaan kantong plastik lewat Peraturan Walikota Denpasar No.36/2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik dan Peraturan Gubernur Bali No.97/2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.
Isi Peraturan Gubernur (Pergub) lebih panjang dan bahasanya cukup ambisius. Pergub Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai ini bertujuan pengurangan limbah plastik sekali pakai dan mencegah kerusakan lingkungan.
Maka sejak aturan itu lahir kemudian diterapkan pada tahun 2019 ini dan berlaku bagi semua yang menggunakan kantong plastik sekali pakai. Jadi, jika Anda membeli sesuatu di toko, di rumah makan atau apapaun, bawa sendiri kantong plastik supaya tak repot membawa barang yang dibeli.
Jelas peraturan itu tak bisa diabaikan, tak terkecuali para driver online yang harus melayani pelanggan order food. “Awalnya beli kantong plastik sekilo gitu, tapi ya abis juga dan kasih tahu ke pelanggan bahwa mereka harus siap-siap dicharge plastiknya. Tapi kadang kita kasih edukasi juga ke pelanggan bahwa saat ini kantong plastik sudah tidak boleh dipakai. Dan kadang pelanggan yang belum tahu cuma manggut-manggut aja,” kata Rio lagi.
Ini uniknya, justru para driver online inilah yang menjadi ujung tombak mensosialisasikan peraturan itu ke masyarakat. Ini harus diapresiasi.
Sampah, Musuh Bersama
Bali menerapkan aturan gubernurnya bukan tanpa alasan. Sejumah turis pernah mengeluhkan pantai-pantai di Bali kotor karena bertebaran sampah plastik.  Tak hanya turis, masyarakat Bali juga mengeluhkan hal yang sama.
Dalam  catatan survei Centre of Remote Sensing and Ocean Sciences, Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana, seperti dikutip dari https://www.mongabay.co.id/2018/01/02/puncak-sampah-di-pantai-kuta-awal-2018-apa-yang-bisa-dilakukan/, menyebut hasil survei pada 2014 memperlihatkan sampah yang terdeposisi di pantai Kuta didominasi 75% sampah plastik, dengan konsentrasi rata-rata sampah sebesar 0,25/meter persegi. Saat itu hasil pemataan sampah di pantai Kuta berasal dari aktifitas di darat mencapai sekitar 52%, aktifitas laut sekitar 14%, dan aktifitas secara umum baik darat maupun laut sebesar 34%.  Jadi sampah bukan hanya musuh pemerintah daerah dalam hal Dinas Lingkungan Hidup Bali tapi juga sudah menjadi musuh bersama.
Tak hanya pemerintah provinsi Bali yang menerapakan aturan larangan itu, Pemerintah Kota Bogor, Pemkot Banjarmasin dan Kota Balikpapan juga melakukan hal yang sama.
“Hitung-hitung amal lah memberikan edukasi ke pelanggan bahwa mereka harus maklum jika makanan yang mereka order tanpa kantong plastik. Kadang ada yang tumpah sedikit menumannya. Kalaupun ada, itu milik kita dan setelah dipakai kita gunakan lagi untuk pelanggan lainnya,” terang Rio sambil memacu motornya menuju daerah Seminyak yang mengorder 3 porsi pizza dan ayam bakar.
Ini siasat, kata Rio. “Kalau kita para driver sudah wajib sediakan kantong sendiri yang bisa digunakan berulang kali. Kalau kagak, repot coi,” ujarnya. [Phil Artha Senna]

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *