Persidangan Aneh dan Mencurigakan

Jakarta, chronosdaily.com – Kasus ini ditangani oleh para penyidik di Subdit II Fiskal, Moneter dan Devisa (Fismondev) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya. Dengan para penyidiknya adalah Kompol Ali Zusron, Kompol Harun,  AKP Mashuri, Ipda Jhonry Suryantho, Aiptu Setianto Wibowo, Bripka Risca Octaviani, Brigadir Adnan Sunkar, Brigadir Andhik Hermawan, Brigadir Riky Janwar, dan Bripda Surya Hadi.

Jadwal persidangan kasus penipuan dan TPPU ala GCG Asia di Jakarta seharusnya dimulai pada Senin 6 Januari 2020. Dengan terdakwa Gunawan Wijaya. Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, Agus Khausal Alam, Ary Iqbal Setio Nasution dan Febby Salahuddin, batal. Ketiga JPU ini bersidang berganti-gantian.

Persidangan seyogiayanya digelar di Ruang Sidang Nomor 10, Lantai 2, Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar), terbuka untuk umum. Majelis Hakimnya adalah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Barat Dr Syahlan sebagai Ketua Majelis Persidangan. Dengan Hakim Anggotanya Heri Soemanto, Sri Hartati. Dengan Panitera Pengganti Erniwati. “Persidangannya dijadwalkan antara jam 11 pagi atau jam 1 siang. Ganti-gantian, dan molor. Persidangan perdana pada 6 Januari 2020 batal, dikarenakan tidak ada yang hadir. Baik JPU dan terdakwa Gunawan Wijaya tidak hadir pada persidangan perdana. Kok bisa ya?” jelas Bede.

See also  Wamenhan dan Jajaran Kemhan Ikuti Upacara HUT ke-75 TNI Secara Virtual

Jadwal persidangan selanjutnya diagendakan pada 13 Januari 2020. Persidangan kali ini juga batal. Alasannya sama. JPU dan terdakwa tidak ada, tidak hadir.

Barulah pada tanggal 20 Januari 2020, jadwal persidangan ketiga, dengan agenda pembacaan dakwaan, persidangan kasus poenipuan dan TPPU GCG Asia ini digelar. Terdakwa Gunawan Wijaya hadir dengan didampingi kuasa hukumnya Didik Kurniadi.

“Jadinya, sidang dimulai pada 20 Januari 2020, dengan agenda awal lagi, yaitu pembacaan dakwaan oleh JPU,” tutur Bede.

Sidang berikutnya pada 27 Januari 2020. Dengan agenda, mendengarkan keterangan para saksi. Ada 5 orang saksi yang dihadirkan, yaitu Bambang Djaya sebagai pelapor, Fransis Tjeng sebagai saksi korban, Anton Harsono Lim sebagai saksi korban, Ni Putu Lilia Ratna Dewi sebagai saksi korban, Iskandar Alamsyair sebagai saksi korban.

Pada persidangan tanggal 27 Januari 2020 ini, dari 5 saksi yang dipanggil, hanya 2 yang hadir dan memberikan kesaksiannya di muka pengadilan. Yaitu, Bambang Djaya dan Fransis Tjeng.

Kemudian, sidang berikutnya, yang seyogiaya digelar pada Senin 3 Februari 2020, dengan agenda mendengar keterangan saksi, dari sebanyak 8 saksi, ternyata batal juga. “Dengan alasan, terdakwa tidak hadir ke persidangan. Alasannya ada yang mencoret namanya dari jadwal persidangan hari itu, sehingga terdakwa tidak dibawa ke pengadilan,” ungkap Bede.

chronosdaily
go

Para saksi yang dipanggil untuk bersaksi pada persidangan Senin 3 Februari 2020 itu adalah Ni Putu Lilia Ratna Dewi, Herry Winata, Iskandar Alamsyair, Yenty, Marisa, Irwan, Edy Incaved Sutami, dan Lenny Husni Tjhie yang merupakan isteri terdakwa Gunawan Wijaya.

See also  Kepala Daerah Tidak Mutahirkan Data, SPRI Koreksi Data Terpadu Penerima Bantuan Sosial

Nah, dari 8 saksi yang dipanggil itu, yang sempat hadir di ruang sidang pada Senin 3 Februari 2020 itu ada 5 orang yakni Ni Putu Lilia Ratna Dewi, Herry Winata, Iskandar Alamsyair, Yenty, dan Marisa. Sedangkan 3 orang saksi lainnya tidak hadir, yakni  Irwan, Edy Incaved Sutami, dan Lenny Husni Tjhie yang merupakan isteri terdakwa Gunawan Wijaya.

Dikarenakan gagal bersidang, jadwal persidangan selanjutnya dijadwalkan pada Senin 10 Februari 2020. Dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi. Saksi-saksinya adalah mereka yang harusnya didengarkan keterangannya pada persidangan Senin 3 Februari 2020. Yakni 8 orang saksi.

Menyikapi jadwal dan persidangan yang sering batal itu, Bede semakin kecewa. Ternyata, hingga pengadilan berjalan pun proses-proses pencarian keadilan masih bertele-tele dan semakin mencurigakan.

“Wibawa Pengadilan Negeri Jakarta Barat tercoreng. Seakan hanya panggung sandiwara. Pengadilan dengan seenaknya batal sidang. Dengan alasan, terdakwanya tidak hadir dan JPU-nya juga tidak hadir. Sudah 3 kali batal persidangan, dengan alasan yang tidak jelas, tidak masuk akal. Inikah yang disebut dengan Pengadilan Abunawas?” cetus Bede.

Bede mengengarai, selain ada permainan  antara Gunawan Wijaya sebagai tersangka kasus ini dengan Penyidik Polda Metrojaya, maka dalam peristiwa-peristiwa batalnya persidangan pun ditengarai ada main mata antara JPU dengan terdakwa Gunawan Wijaya. “Sehingga dengan seenaknya berlasan ada yang mencoret nama terdakwa dari daftar persidangan hari itu, dan tidak dibawa di dalam mobil tahanan. Nah, siapa yang mencoret? Ini patut diusut,” sesal Bede.

See also  Pemerintah Kembali Buka Ekspor Minyak Goreng Mulai 23 Mei 2022

Dia mengatakan, dirinya melakukan pengecekan terhadap daftar para terdakwa yang akan disidangkan. Di dalam daftar nama-nama tahanan hanya ada 18 tahanan yang dicantumkan. Padalah seharusnya 19 orang dengan Gunawan Wijaya. Dengan mengikuti proses pengusutan kasus investasi bodong, penipuan dan TPPU di GCG Asia itu, Bede yang full mengawal dan mengikuti setiap detailnya. Dia melihat, Guawan Wijaya dkk bisa leluasa mengatur penyelidikan dan penyidikan. Bahkan hingga diserahkan ke JPU, Gunawan Wijaya juga bisa menyetel proses persidangan.

“Kami melihat, terdakwa seakan menjadi tuan, sebagai tuan rumah yang bisa seenaknya mengatur kapan jalannya persidangan. Ini mencurigakan bukan? Sebegitu hebatnyakah terdakwa Gunawan Wijaya sehingga dapat mempermainkan wibawa pengadilan di Republik Indonesia ini? Seakan, bukan hanya di Polda Metrojaya bisa dikuasai dan diatur-atur oleh Gunawan Wijaya, tetapi hingga ke pengadilan pun dikuasainya?” sesal Bede. [Jon]

Leave a Reply

Your email address will not be published.