Pengamat : Denny Siregar Perlu Belajar Empati

Jakarta, chronosdaily.com – Nama Reynhard Tambos Maruli Tua Sinaga atau Reynhard Sinaga (36) menjadi perbincangan masyarakat tanah air setelah pengadilan Manchester, Inggris, memvonisnya bersalah atas kasus pemerkosaan terhadap 136 laki-laki. Warga Negara Indonesia (WNI) ini terbukti melakukan 159 pelanggaran, termasuk 136 perkosaan yang difilmkannya di dua ponsel.

Pemberitaan tentang Reynhard Sinaga pun bergulir bak bola liar. Tulisan Denny Siregar di laman medsosnya yang mengatakan, “Untung Sinaga. Coba Siregar, bisa dibully habis gua ma dibikin meme2an..,” mendapat respons keras dari salah satu anggota keluarga besar Sinaga, Tigor Mulo Horas Sinaga.

Horas yang dikenal sebagai aktivis sosial-kemasyarakatan itu mengatakan, “Denny Siregar ini bersikap tidak empati pada keluarga besar Sinaga. Padahal dia influencer, sayang sekali tidak bisa beri teladan empati pada followernya. Saya sebagai keluarga Sinaga keberatan dengan statusnya di medsos,” Lotte Avenue, Jakarta (11/1/2020).

“Empati itu kemampuan mengerti atau memahami apa yang orang lain rasakan secara emosional. Secara singkatnya, empati itu kesanggupan membayangkan diri berada di posisi orang lain. Denny harus belajar itu,” imbuhnya.

Menurut Horas, dalam suatu marga ada orang yang berprestasi baik, ada pula yang buruk. “Ada oknum baik, ada oknum jahat. Tidak layak seorang pun mengeneralisir. Kejahatan seseorang tidak terkait marga atau suku atau bangsa dari orang tersebut,” katanya.

See also  Pengurus PWI Pusat Sambangi Kadiv Humas, Polri Bakal Berikan Rompi Wartawan untuk Liput Demo

Horas mendorong para influencer mengembangkan sikap empati yang merupakan sikap positif terhadap orang lain yang diekspresikan melalui kesediannya menempatkan diri pada posisi orang lain tersebut.

Sekretaris Generasi Optimis (GO) Indonesia itu merujuk kepada tulisan-tulisan Carl Rogers, Gary Collins, R. D. Quinn, dan Yakub Susabda tentang pengembangan rasa dan sikap empati kepada orang lain.

“Memang secara jujur, menurut Dr. Yakub Susabda, empati bukanlah sikap yang secara otomatis dimiliki sesorang, bahkan juga tidak mudah dipraktikkan, apa lagi jika seseorang tidak melatihnya. Karena unsur dasar empati ini adalah kasih,” terang Horas.

Kritik kepada Denny Siregar

Pengamat politik dan intelijen itu mengaku prihatin kasus Reynhard di Inggris direspons tidak layak oleh influencer Denny Siregar. Horas menilai Denny yang punya banyak follower itu membuat nama marga Sinaga menjadi bahan guyonan.

“Seharusnya Denny jangan tulis seperti itu, kami ini marga Sinaga punya hati. Saya takkan melakukan itu jikalau pelaku kriminal bermarga lain, sebab saya belajar berempati pada orang lain,” kata Horas.

See also  Gubernur Sulut Ajak Semua Pihak Rayakan Idul Fitri dengan Aman, Tertib dan Khidmat

Ia menambahkan, “Yang dibutuhkan di sini adalah kerendah-hatian Denny mengakui kekeliruannya, minta maaf, itu akan mempererat lagi ukhuwah wathaniyah kita. Jangan merasa benar terus, ini ujian bagi Denny, mau tidak dia humble, minta maaf pada saya dan keluarga besar Sinaga?”

Horas mengatakan, Denny adalah influencer yang diikuti banyak orang. Tuhan memberinya karunia dan panggung aktualisasi diri saat ini, kata Horas. Pada momen ini Denny mendapat ujian kerendah-hatian untuk mengakui kekhilafannya menulis status di medsos yang melukai keluarga besar Sinaga, sambung Horas.

Sekjen Generasi Optimis Indonesia itu juga menyayangkan media TEMPO yang sempat memberi status yang dianggap telah melukai keluarga besar marga Sinaga. Sekalipun status itu sudah diralat tapi Horas meminta pihak TEMPO mengatakan permintaan maaf secara resmi. “Saya harap Denny Siregar dan TEMPO memberi pernyataan maaf secara resmi kepada keluarga besar kami marga Sinaga,” ujar Horas Sinaga.

Pelajaran Empati bagi Masyarakat

Di hadapan wartawan, Horas Sinaga juga mengajak masyarakat untuk belajar berempati kepada orang lain. Empati kepada kesusahan orang lain, menurut Horas merupakan implementasi dari nilai-nilai Pancasila, yaitu Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dan Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. “Saya sependapat dengan Dr. Yakub Susabda, bahwa empati itu ikhtiar berdiri dengan memakai sepatu orang lain atau melihat dari kacamata orang lain,” kata Horas.

See also  Presiden Jokowi Bertemu dengan Dua Serikat Pekerja KSPSI dan KSPI di Istana Bogor

“Frasa empati pertama kali berasal diperkenalkan E. B.Titchener tahun 1909 sebagai terjemahan dari kata Jerman ‘Einfuhlung,’ yang secara harfiah artinya adalah memasuki perasaan orang lain. Nah ini adalah rasa dan sikap yang perlu dikembangkan oleh masyarakat kita,” imbuhnya. Horas menilai, kemampuan berempati sudah seharusnya dimiliki oleh semua orang, karena kemampuan ini akan mendorong keharmonisan dan kerukunan dalam masyarakat.

“Negara kita ada masalah intoleransi kan karena satu kelompok tak bisa berempati terhadap kelompok yang lain. Akhirnya berujung pada konflik horisontal,” terang Horas. Peran empati, kata Horas, sangat penting bagi kesehatan hubungan interpersonal seseorang. “Empati dapat merasakan perasaan orang lain sembari tetap dapat menjaga keutuhan pikirannya sendiri. Sehingga orang itu tetap memiliki integritas dan identitasnya sendiri,” pungkas Horas Sinaga.

CP.: Horas Sinaga (081286699191)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *