Pengacara Bantah Tudingan PMJ Soal Pendeta Gadungan

Jakarta, chronosdaily.com – Kasus tuduhan pendeta gadungan dan terapis yang disangkakan kepada Mohammad Hosea (MHH) dan Juniar (J) alias Vero dibantah oleh pengacaranya Kamaruddin Sumanjuntak. Dalam keterangan pers yang diterima Senin (17/2), Kamaruddin menyampaikan bahwa MHH adalah pendeta asli bukan seperti yang dituduhkan. Sementara Juniar bukan terapis tapi Fisiologi, dan Chinese dokter (TCM), acupuncture, Peripheral, dan MET dan pemilik / pendiri Klinik Pratama Rumah Engedi di Kelapa Gading, Bali, Surabaya, dan Singapura. Juga disampaikan bahwa Juniar adalah isteri yang sah dari saudara Basri Sudibjo (almarhum) menurut hukum Indonesia.

Dua sangkaan kasus pemalsuan akta pernikahan dan akta ahli waris dituding oleh penyidik Polda Metro Jaya (PMJ) terhadap yakni Juniar (J) alias Vero serta Mohammad Husein Hosea (MHH) bahwa keduanya telah bersekongkol memalsukan akta nikah dan akta ahli waris, guna menguasai tanah milik mendiang Basri Sudibyo di Bintaro, Jakarta Selatan, senilai Rp 40 Miliar.

Menurut Kamaruddin, keliennya Mohammad Hosea adalah pendeta yang benar dan telah menikahkan Juniar dengan mendiang Basri Sudibyo di GKP Cisarua Bogor yang berlokasi di Tangerang.

See also  Direktur PAI: Jangan Terbawa Sesat Pikir dan Fitnah

“Pendeta Mohammad Hosea adalah Pendeta yang benar dan bukan gadungan. Ia lulus dengan gelar Sarjana Theologia dari STT Nomensen di kisaran tahun 1972-1977. Ia juga pernah melayani di Gereja mainstream semisal HKBP sehingga sesuai penahbisannya berhak menikahkan calon pengantin,” kata Kamaruddin.

Selain itu kata Kamaruddin penyebutan oleh penyidik bahwa kliennya Juniar adalah terapis merupakan fitnah. “Klien kami Juniar alias Vero bukan terapis. Melainkan Fisiologi, dan Chinese dokter atau TCM, acupuncture, peripheral, dan MET. Ia juga pemilik dan pendiri Klinik Pratama Rumah Engedi di Kelapa Gading, Bali, Surabaya, dan Singapura. Jadi klien kami Juniar ini adalah juga pengusaha klinik terapi kesehatan,” tambahnya.

Status Juniar sebagai istri sah dari Basri Sudibjo dilakukan pada 2017 dan pemberkatannya dilakukan oleh Pendeta Mohamad Hosea di GKP Cisarua di Tangerang. “Secara hukum pernikahan Juniar dan Basri Sudibjo sah menurut hukum Indonesia berdasarkan Surat Akte Perkawinan Nomor 02/GKP/C-B/VI/A-K/2017, tanggal 11 Pebruari 2017, yang telah dilakukan menurut Hukum Gereja dan/atau Agama Kristen juga ditetapkan lewat Pengadilan Negeri Jakarta Utara Nomor : 290/Pdt.P/2019/PN, Jkt.Utr tanggal 13 Mei 2019,” ujar Kamaruddin.

See also  Pelindo 1 Dorong Implementasi NLE di Belawan & Kuala Tanjung

Dari ketetapan itu, kata Kamaruddin, pengadilan memerintahkan dan memberi izin Kepada Kantor Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Jakarta Utara untuk menerbitkan akta atau mencatatkan atau memberikan Surat Keterangan Perkawinan dan Dicatatkan ke dalam buku register.

“Jadi pernikahan klien saya Juniar dengan mendiang Basri Sudibyo juga dicatat di catatan sipil. Atas semua dasar itu, maka semua akta adalah sah dan resmi. Lalu kenapa polisi kemudian menyangsikannya dan menyatakan itu palsu,” terangnya.

Basri Sudibyo sebelum mangkat 2018 lalu, kata Kamaruddin, sempat memberikan dan mewariskan lahan di Bintaro kepada Juniar yakni sesuai sertifikat tanah dengan Nomor 09360 atas nama Drs Basri Sudibjo.

“Jadi sertifikat itu diperoleh klien kami langsung dari suaminya dengan tanda terima Notaris dari Grace Parulian Hutagalung,” kata Kamaruddin.

Kasus ini tersu belanjut, dan kliennya masih dalam penahaman di bawah kewenangan Polda Metro Jaya dan akan dilimpahkan ke ke jaksaan. “Kasus ini sudah P-21, namun perkaranya belum didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Kami akan buktikan dalam sidang pengadilan nanti, bahwa klien kami tidak melakukan semua hal yang dituduhkan, dan penyidik salah serta keliru dalam melihat kasus ini,” katanya.

See also  Kejari Jakpus Sudah Buka Layanan E-Tilang Sejak Januari

Kasus ini bergulir ketika Subdit Harda Ditreskrimum PMJ dalam keterangan persnya, Selasa (28/1) lalu, menyebutkan telah membekuk tiga pelaku kasus pemalsuan akta pernikahan dan sejumlah akta otentik lainnya termasuk akta ahli waris.

Mereka adalah seorang perempuan terapis berinisial J alias V, Muhammad Husein Hosea alias MHH, seorang pendeta yang diduga gadungan dan ABB. Ketiganya diamankan di tempat berbeda di Jakarta Utara, pada Januari 2020 lalu. Mereka diketahui berkomplot memalsukan sejumlah akta otentik, untuk dapat menguasai surat atau sertifikat tanah di Bintaro, Jakarta Selatan senilai Rp 40 Miliar. Sertifikat tanah itu diketahui atas nama Basri Sudibyo yang sudah meninggal pada 2018 silam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.