Pemerhati Waspadai Potensi Krismon di Indonesia Pasca Covid 19

Jakarta, chronosdaily – Melambatnya gerak laju ekonomi Indonesia akibat pandemi Covid-19 dan diberlakukannya physical distancing oleh Pemerintah mendorong pemerhati sosial Dhimas Anugrah mewaspadai krisis ekonomi di negeri ini.

“Di Indonesia dalam dua pekan terakhir ini ekonomi lesu, bahkan bisa dibilang mencekam. Di sektor swasta ada pengurangan pegawai di sana-sini, saya melihat ini indikasi yang tidak ideal, yang mungkin ke depan bisa menjadi krisis ekonomi. Saya harap saya keliru tentang ini,” kata Dhimas di Menteng, Jakarta, Minggu (29/3/2020).

Dhimas mengaku mendasari dugaannya atas indikasi meningkatnya jumlah korban pandemi Covid-19 yang meningkatkan kecemasan masyarakat, sehingga berpengaruh pada sektor keuangan. Krisis akan ditandai dengan kondisi fluktuasi nilai tukar.

Dengan melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika dalam beberapa hari terakhir, jika tidak ada mukjizat, Dhimas memprediksi pada awal Juli tahun 2020 Indonesia akan mengalami stagnasi ekonomi.

Dhimas melihat penanganan pasien Covid-19 yang tidak optimal di tanah air, serta melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika akan membuat kepercayaan pasar kepada Indonesia menjadi rapuh. “Saya pikir gejala sosial dan ekonomi tampak jelas cenderung mendorong kepada krisis ekonomi, sehingga ini wajib kita waspadai, agar Indonesia bisa mempersiapkan diri, menganalisis serta meminimalisir dampaknya bagi sektor keuangan dan sektor riil di Indonesia,” terang pengajar di Akademi Pancasila dan Bela Negara itu.

See also  Presiden: Terapkan Protokol Kesehatan dalam Penyelenggaraan Pilkada

Walau demikian, Dhimas meminta agar masyarakat tidak panik. Sebab ia yakin Pemerintah telah mengantisipasi potensi krisis ekonomi yang mungkin bisa terjadi akibat pandemi global itu.

Ada Harapan dalam Krisis

Pemerhati yang studi doktoral di Oxford, Inggris itu mengatakan jika Indonesia benar masuk ke dalam krisis ekonomi, maka Pemerintah perlu menggarap dan mengoptimalkan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Koperasi. Sebab, kedua sektor itu terbukti berhasil bertahan pada masa krisis moneter 1998 lalu.

“Para pelaku UMKM akan menjadi tulang punggung dalam krisis, sebab mereka tidak bermain dengan modal besar dan uangnya selalu berputar setiap hari. Umumnya UMKM bermain di barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dulu, pendapatan masyarakat yang merosot waktu krismon tidak berpengaruh banyak terhadap permintaan barang dan jasa dari UMKM. Ini beda dengan kondisi usaha berkapital besar yang justru kolaps waktu krisis terjadi,” kata Dhimas.

UMKM yang Dhimas maksud secara khusus yang berbasis perkebunan, pertanian, dan kelautan. Ia menyebut UMKM dengan basis tiga bidang tersebut yang akan membangkitkan perekonomian Indonesia.

See also  CSR BUMN, Erick: Harus Fokus ke Pendidikan, UMKM, dan Lingkungan Hidup

“Jadi, saya kira pemerintah perlu mendorong tingkat pertumbuhan UMKM dan Koperasi agar lebih signifikan sehingga bisa memicu dan memacu pertumbuhan ekonomi secara nasional. Jika krisis terjadi, saya kira UMKM dan Koperasi akan menjadi backbone dan buffer zone yang menyelamatkan negara dari keterpurukan ekonomi yang lebih dalam,” imbuh pria yang menginisiasi tagar #kitabisanormalkembali itu.

Di sisi lain, dengan banyaknya jalan tol maupun tol laut dan udara yang dibangun Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan membuat sektor distribusi barang dan jasa antarkota dan antardaerah menjadi lebih maksimal dan bisa menyehatkan perekonomian nasional.

“Pembangunan jalan-jalan tol oleh Presiden Jokowi merupakan langkah tepat dan sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama dunia bisnis. Jika toh ada krisis ekonomi, mungkin paling lama bisa 2-3 tahun akan normal kembali. Sekitar tahun 2023 kita bisa normal kembali atau pulih,” pungkas Dhimas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.