MUI Sarankan Kasus UAS Mengedepankan Kekeluargaan dan Persaudaraan

Jakarta, chronosdaily.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah merespon terkait ceramah Ustad Abdul Somad (UAS) yang dianggap menghina simbol agama Nasrani (Kristen dan Katolik). Sebelumnya, Ormas Brigade Meo NTT mengaku telah melaporkan UAS ke Polda NTT terkait video Tentang Salib dan Patung yang diduga telah menistakan agama Kristen. “Kami sudah melaporkan UAS ke Polda NTT terkait ceramahnya yang melecehkan umat Kristen,” kata Anggota Brigade Meo, Jemi Ndeo.

Federasi Indonesia Bersatu (FIBER) melalui Ketua Umumnya Daniel Tirtayasa juga akan melaporkan UAS ke jalur hukum agar di kemudian hari para penceramah agama masing-masing pihak untuk tidak mudah dan seenaknya menafsirkan dan mengomentari agama lain dengan maksud dan kepentingan apapun. “Meskipun dilakukan di ruang tertutup dan kalangan terbatas, belajarlah untuk saling menghargai kalau agamamu ingin dihargai oleh pemeluk agama lain.”

 

Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Rohim Ghazali kepada salah satu media nasional menilai ucapan Ustad Abdul Somad adalah penghinaan simbol agama yang tidak main-main. “Saya tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada tokoh agama lain yang menghina simbol Islam,” kata Rohim hari Minggu, (18/08/2019). “Bisa menjadi gelombang tsunami demonstrasi yang berjilid-jilid, dan pelakunya bisa dituntut hukuman yang sangat berat,”

Baginya, pernyataan Abdul Somad tidak perlu ditanggapi dan ia mengimbau masyarakat dapat mendoakannya. Rohim mengungkapkan Islam melarang pemeluknya menghina agama lain, apalagi mengolok-olok atau menjelek-jelekkan sesembahannya.

 

Berikut ini respon MUI terkait isi ceramah UAS yang dianggap menghina lambang-lambang agama Kristen dan Katolik, seperti salib dan patung. Pernyataan MUI terhadap kasus tersebut adalah :

1. MUI sangat prihatin dan menyesalkan beredarnya video tersebut sehingga menimbulkan polemik yang dapat mengganggu harmoni kehidupan umat beragama di Indonesia. MUI meminta kepada aparat kepolisian untuk mengusut pengunggah pertama video yang diduga mengandung konten SARA tersebut untuk mengetahui motif, maksud dan tujuan dari pelakunya.

2. MUI mengimbau kepada semua pihak untuk dapat menahan diri, tidak terpancing dan terprovokasi oleh pihak-pihak yang sengaja ingin menciptakan keresahan di masyarakat dengan cara mengadu domba antarumat beragama. Semua pihak harus bersikap tenang, hati-hati dan dewasa dalam menyikapi masalah tersebut agar tidak menimbulkan kegaduhan dan membuat masalahnya menjadi semakin besar dan melebar kemana-mana.

3. MUI memahami masalah keyakinan terhadap ajaran agama adalah sesuatu yang bersifat sakral, suci dan sensitif bagi pemeluknya, sehingga hendaknya semua pihak menghormati dan menghargai keyakinan agama tersebut sebagai bentuk penghormatan dan toleransi dalam kehidupan beragama.

4. MUI mengimbau kepada semua tokoh agama khususnya umat Islam untuk bersikap arif dan bijaksana dalam menyampaikan pesan-pesan agama, menghindarkan diri dari ucapan yang bernada menghina, melecehkan dan merendahkan simbol-simbol agama lain, karena hal tersebut selain dapat melukai perasaan hati umat beragama, juga tidak dibenarkan baik menurut hukum maupun ajaran agama.

5. Terhadap masalah yang menimpa Ustadz Abdul Somad, MUI menyarankan agar para pihak menempuh jalur musyawarah dengan mengedepankan semangat kekeluargaan dan persaudaraan. Jika jalur musyawarah/kekeluargaan tidak dapat dicapai kata mufakat, sebagai negara yang menjunjung tinggi hukum maka jalur hukum adalah pilihan yang paling terhormat. Untuk hal tersebut MUI meminta kepada semua pihak untuk tetap tenang dan menghormati proses hukum yang berlaku, sehingga suasana kehidupan dalam masyarakat tetap kondusif, rukun, aman dan damai.

Demikian penjelasan Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi dalam keterangan tertulisnya. [RA]

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *