Milenial Surabaya Bicara PSBB

Jakarta, chronosdaily.com – Diskusi Daring “Dampak PSBB dan Tantangannya” (Minggu, 17/5/2020) mendorong generasi milenial menyuarakan pendapatnya terkait situasi terkini di masyarakat. Diskusi yang diinisiasi Komunitas Milenial Peduli Indonesia (Kompii) itu menyoroti salah satu faktor yang niscaya mendorong efektivitas PSBB, yaitu penegakan disiplin bagi pelanggar PSBB. Perlunya penegakan disiplin ini disebabkan kesadaran dari masyarakan yang rendah dan tampak mengabaikan imbauan pemerintah.

Aktivis Kompii Rizki Dwi mengatakan, “Pada PSBB 1 di Surabaya Raya, pelanggar hanya diberikan imbauan. Sedangkan dalam PSBB 2 ada wacana pelanggar akan disita KTP-nya, sehingga pelanggar tidak bisa mengurus keperluan administrasi selama enam bulan, atau diberikan sanksi menjadi pekerja sosial.” Sanksi itu dinilai Rizki dapat memberi efek jera bagi masyarakat yang ingin melanggar. Dalam pemberlakuan PSBB sejauh ini di Surabaya Raya, Rizki mengaku pihaknya mengapresiasi ikhtiar nyata pemerintah dalam meningkatkan penegakan disiplin PSBB.

Pada saat yang sama, alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga itu juga mengingatkan perlu adanya evaluasi terhadap peran penegak hukum. “Sebagai contoh, beberapa jalan besar penghubung dari dan ke Surabaya dijaga ketat, tetapi banyak jalan tikus yang tidak ada penjagaan, sehingga warga luar kota bisa masuk mudah lewat jalan tikus itu sndiri,” ujar Riski.

See also  Terminal Baru Bandara Sam Ratulangi Manado, Perpaduan Konsep Tradisional dan Modern

Terkait penindakan tegas terhadap pelanggar PSBB, Rizki mengatakan, Peraturan Gubernur Jawa Timur memberikan kebebasan terhadap TNI/Polri melakukan tindakan sesuai Undang-undang (UU) yang berlaku. Merujuk pada Pasal 93 UU Kekarantinaan Kesehatan, seorang yang melanggar ketentuan PSBB dapat dipidana 1 tahun atau denda 100 juta rupiah, imbuhnya.

Sekali lagi aturan yang baik pasti terwujud apabila didukung dengan penegak hukum yang tegas, walau tetap harus mengutamakan pendekatan manusiawi dan persuasif. “Saya harap masyarakat sadar diri dan taat pada aturan PSBB, supaya terhindar dari pemidanaan berupa penjara. Musuh kita sekarang adalah Covid-19 yang tidak hanya menyerang kesehatan tapi juga psikologis, ekonomi, dan lainnya, jadi ayolah kita taati PSBB,” kata aktivis Kompii itu.

Rizki mengaku lebih suka melihat jika masyarakat Surabaya sanggup meningkatkan kedisiplinan, sehingga penggunaan pidana tidak sampai menimpa mereka.

Horas Sinaga

Masyarakat Abai PSBB

Dalam diskusi daring itu, dikatakan bahwa faktor lain yang tak kalah penting dalam mendukung efektivitas PSBB adalah kesadaran masyarakat itu sendiri. Kompii melihat masih banyak anggota masyatakat yang tidak menganggap Covid-19 sebagai ancaman serius. “Kita bisa jumpai banyak orang masih belum menggunakan masker, masih berkerumun, berboncengan motor, merokok di dekat orang, dan lain-lain,” kata Rizki.

See also  PAC Pemuda Pancasila Pondok Gede, Memperingati Hari Kebangkitan Nasional

Ia menerangkan, “Berdasarkan data survei Kajian Perilaku Abai Masyarakat terhadap Penggunaan Masker dan Physical Distancing dalam Pencegahan Covid-19 di Surabaya, oleh Balitbang Provinsi Jawa Timur, menunjukkan tingkat kepatuhan masyarakat menggunakan masker sangat rendah yaitu 10,8 persen dan tingkat kepatuhan masyarakat menerapkan anjuran Physical Distancing rendah yaitu 25,45 persen.

Hal ini tentu menjadi perhatian bersama, sehingga peran tokoh masyarakat, tokoh agama, lurah, RT/RW, Karang Taruna dan elemen lainnya dibutuhkan dalam melakukan sosialisasi terhadap masyarakat terkait pentingnya melaksanakan protokol kesehatan, ujar aktivis Kompii itu. “Memang tidak semua masyarakat dapat berkerja dari rumah, ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan di luar rumah, seperti kuli bangunan, tukang becak, sopir, dan lainnya. Mereka pun wajib menerapkan protokol kesehatan,” terang Rizki.

Terkait adanya slogan yang berkembang bahwa masyarakat justru lebih takut mati kelaparan daripada mati karena Covid-19, Kompii mendorong agar masyarakat tidak bertindak ceroboh dan mengabaikan aturan PSBB dari pemerintah, sebab telah banyak korban jiwa akibat Covid-19. Yang terbaru adalah perawat Rumah Sakit Royal Surabaya, Ari Puspita Sari.

See also  Saksi Kasus Suap Izin Meikarta, Anggota DPRD Jabar Waras Wasisto Mengaku "Hanya Membantu, Nothing to loose"

Diskusi daring ‘Dampak PSBB dan Tantangannya’ yang diselenggarakan Komunitas Milenial Peduli Indonesia (Kompii) Surabaya ini diikuti sekitar 40 orang dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa narasumber antara lain Gus Hans (Ulama NU), Sutjipto Joe Angga (Pengusaha), Horas Sinaga (Pemerhati), dan dr. Sukma Mahadewa (bakal calon Bupati Kediri). Diskusi ini dimoderatori oleh Dedy Mahendra (Sekjen Kompii)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *