Masih Seputar Mega Korupsi Jiwasrayagate. Jaksa Periksa Mantan Dirut Jiwasraya, Belum Ada Tersangka

Jakarta, chronosdaily.com – Hingga Jumat, 10 Januari 2020, penyidik di Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Jampidsus) belum sanggup menetapkan tersangka dalam pengusutan Mega Skandal Korupsi Jiwasrayagate, yang ditaksir merugikan keuangan negara baru Rp 13,7 triliun. Buktinya, jaksa di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, masih terus memanggil dan memeriksa banyak orang, termasuk mantan Direktur Utama PT Jiwasraya (Persero) Hendrisman Rahim. Statusnya, sebagai saksi alias masih sebatas dimintai keterangan.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Hari Setiyono, yang diketahui sedang cuti usai dilantik sebagai Kapuspenkum menggantikan Dr Mukri yang menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah (Kajati Kalteng), mengakui, serangkaian pemanggilan orang oleh penyidik Jampidsus untuk mengusut kasus ini masih berjalan.

Mantan Dirut Jiwasraya Hendrisman Rahim, kata Hari Setiyono, diperiksa sebagai saksi pada Kamis, 9 Januari 2020 di Gedung Bundar Kejaksaan Agung. “Iya, benar. Dijadwalkan pemeriksaannya. Masih sebagai saksi,” tutur Kapuspenkum Kejaksaan Agung, Hari Setiyono, Jumat (10/01/2010).

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Hari Setiyono

Selain mantan Dirut PT Jiwasraya (Persero) Hendrisman Rahim, penyidik juga memeriksa lima orang lainnya, yakni De Yong Adrian yang merupakan mantan Direktur Pemasaran PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Bambang Harsono sebagai Bancassurance Sales Manager PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Udhi Prasetyanto sebagai Kepala Divisi Sumber Daya Manusia PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2015 sampai 2018, Novi Rahmi sebagai Kepala Divisi Sumber Daya Manusia PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2018 sampai 2019 dan Muhammad Zamkhani sebagai Direktur SDM & Kepatuhan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2016 sampai 2018. “Iya, mereka semua, keenamnya diperika masih sebagai saksi,” ujar Hari Setiyono.

See also  Cegah penyebaran Covid-19, Personel Polres Kep Seribu di Rapid Tes

Sebelumnya, Jaksa Agung Republik Indonesia Sanitiar Burhanuddin menyatakan adanya dugaan tindak pidana korupsi di perusahaan pelat merah tersebut. Proses pengusutannya sudah ditindaklanjuti dengan mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan kasus Jiwasraya dengan Nomor: Trim 33/F2/Fd2/12 tahun 2019 tertanggal 17 Desember 2019. Saat ini, proses pengusutan mega skandal korupsi jiwasrayagate itu dipimpin oleh Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Jampidsus) M Adi Toegarisman, yang tahun ini diinformasikan akan memasuki purna tugas atau pension.

PT Asuransi Jiwasraya (Persero) telah banyak melakukan investasi pada aset-aset dengan risiko tinggi untuk mengejar keuntungan tinggi. Diantaranya penempatan saham sebanyak 22,4 persen senilai Rp 5,7 triliun dari aset finansial. Sebanyak 5 persen dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik. Sisanya 95 persen ditempatkan di saham yang berkinerja buruk. Selain itu, penempatan reksa dana sebanyak 59,1 persen senilai Rp 14,9 triliun.

Sebanyak 2 persen dikelola oleh manajer investasi dengan kerja baik. Sementara 98 persen dikelola oleh manajer investasi dengan kinerja buruk. Akibatnya, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sampai hingga Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara sebesar Rp 13,7 triliun. [Jon]

See also  5 Alasan Buruh Menolak Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *