Masih Butuh Verifikasi, Jaksa Temukan Sebanyak 55 Ribu Transaksi Saham PT Jiwasraya

Jakarta, chronosdaily.com – Penyidik Kejaksaan Agung belum menetapkan tersangka dalam mega korupsi Jiwasrayagate. Namun, jaksa masih melakukan pemeriksaan dan penelusuran sejumlah transaksi jual beli saham dari PT Jiwasraya ke berbagai perusahaan.

Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Jampidsus) M Adi Toegarisman mengungkapkan, jaksa menemukan sebanyak 55 ribu transaksi jual beli saham yang masih perlu ditindaklanjuti. “Dari temuan tim Pidsus, ada sebanyak 55 ribu transaksi jual beli. Ini masih perlu diverifikasi dan ditindaklanjuti,” tutur Jampidsus M Adi Toegarisman, saat dicegat wartawan ketika keluar dari Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Senin malam (13/01/2020).

Mantan Kepala Kejakaan Tinggi DKI Jakarta itu, belum mengumumkan penetapan tersangka dalam kasus yang diduga merugikan keuangan negara hingga Rp 13,7 triliun itu. Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Hari Setiyono menambahkan, untuk pengusutan kasus itu, tim jaksa di Pidsus masih melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap sejumlah orang. “Hari ini, Senin 13 Januari 2020, sebanyak 7 orang dipanggil untuk diperiksa, sebagai saksi. Mereka hadir semua ke Gedung Bundar,” tutur Hari Setiyono.

See also  Klinik Terapung Layani Pengobatan Gratis Bagi Warga Miskin, Dalam Rangka Hari Juang TNI Angkatan Darat

Ketujuh orang yang diperiksa itu adalah Goklas AR Tambunan sebagai Kepala Divisi Penilaian Persuhaan 3 Bursa Efek Indonesia, Vera Florida sebagai Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 Bursa Efek Indonesia, Irvan Susandy sebagai Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan Bursa Efek Indonesia, Adi Pratomo Aryanto sebagai Kepala Divisi Perusahaan 1 Bursa Efek Indonesia, Endra Febri Setyawan sebagai Kepala Unit Pemeriksaan Transaksi Bursa Efek Indonesia, Lies Lilia Jamin sebagai Mantan Direktur PT OSO Manajemen Investasi, dan Syahmirwan.

Hari menambahkan, hingga saaat ini, tim jaksa juga belum bisa menyampaikan jumlah kerugian negara pasti dari kasus itu. “Belum. Masih pendalaman,” ujarnya. Kasus ini bermula dari adanya laporan dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (Menteri BUMN) Rini M Soemarno, saat menjabat. Laporan Nomor : SR – 789 / MBU / 10 / 2019 tanggal 17 Oktober 2019 itu perihal Laporan Dugaan Fraud di PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Jaksa Agung ST Burhanuddin pun segera menindaklanjuti laporan itu, dengan memerintahkan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung dengan menerbitkan Surat Perintah Penyidikan Nomor : PRINT – 33 / F.2 / Fd.2 / 12 / 2019 tanggal 17 Desember 2019. Hari mengatakan, penyidikan perkara ini terus dilakukan untuk mencari serta mengumpulkan bukti. Dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. “Adanya dugaan penyalahgunaan investasi yang melibatkan grup-grup tertentu, sampai saat ini ada 13 perusahaan yang melanggar prinsip tata kelola perusahaan yang baik alias good corporate governance,” terang Hari Setiyono.

See also  Peduli Korban Kebakaran Di PPU, Pangdam VI dan Kapolda Kaltim Berikan Bantuan

Akibat adanya transaksi-transaksi tersebut, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sampai dengan bulan Agustus 2019 menanggung  potensi kerugian negara sebesar Rp13,7 Triliun. Potensi kerugian tersebut timbul karena adanya tindakan yang melanggar prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Yakni terkait dengan pengelolaan dana yang berhasil dihimpun melalui program asuransi JS Saving Plan.

Asuransi JS Saving Plan telah mengalami gagal bayar terhadap Klaim yang telah jatuh tempo sudah terprediksi oleh BPK sebagaimana tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas pengelolaan bisnis asuransi, investasi, pendapatan dan biaya operasional. Hal ini terlihat pada pelanggaran prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi yang dilakukan oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang telah banyak melakukan investasi pada aset-aset dengan high risk atau resiko tinggi, untuk mengejar  high return atau keuntungan tinggi, antara lain, satu, penempatan saham sebanyak 22,4% senilai Rp 5,7 triliun dari Aset Finansial.

Dari jumlah tersebut, 5% dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik (LQ 45) dan sebanyak 95% nya dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk. Dua, penempatan Reksadana sebanyak 59,1% senilai Rp 14,9 Triliun dari Aset Finansial. Dari jumlah tersebut, 2% nya yang dikelola oleh manager investasi Indonesia dengan kinerja baik atau Top Tier Management, dan 98% nya dikelola oleh manager investasi dengan kinerja buruk. [Jon]

See also  Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Bertakziah ke Rumah Duka B.J. Habibie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Website Protected by Spam Master