Marim Purba : Yesus Belum Lahir ?

Mosaik Gereja Orthodoks yang dibangun pada abad sebelas/GettyImages

 

“Mas, bisa ya khotbah tanggal 13 Desember yang akan datang?” tanya seorang teman, yang ‘diberi kuasa’ untuk bikin natal di kantornya.
“Ya, bisa,” jawab yang ditanya kalem.
“Lha, emang boleh rayakan Natal disaat Minggu Adven?” tanya yang lain.
“Kantor saya gak pake tahun liturgi koq! He.he..”
Ini sepotong pembicaraan disela Sidang Raya PGI, di Anawara Cafe sudut kota Waingapu Sumba, minggu kedua November 2019 yang lalu. Topiknya mengenai bolehkah rayakan natal disaat advent?
Ini memang soal lama yang menjadi baru setiap tahun. Membingungkan dan juga menggemaskan. Bagaimana tidak? Tuntutan pasar (suasana) natal harus dimulai lebih dini, jika perlu sejak November. Ini menyangkut pemasaran produk. Natal diasosiasikan dengan ungkapan kegembiraan, dan itu artinya diskon akhir tahun, belanja! Tapi prinsip teologis bilang tak boleh rayakan natal disaat adven. Ikutilah seturut kalender liturgi gerejawi.
Tahun Liturgi merupakan kalender kristiani/siklus masa liturgi dalam gereja gereja kristiani yang menentukan kapan hari hari orang kudus, hari peringatan, dan hari besar harus dirayakan serta bagian mana dari kitab suci yang diasosiasikan dengan hari hari raya tersebut.
Dalam kalender liturgi, beberapa minggu sebelum natal harus melewati minggu minggu adven. Minggu Adven 1 (1 Desember 2019) mengingatkan kita akan kedatangan Yesus Krisus sang penebus. Minggu pertama yang ditandai dengan sebatang lilin ungu ini memiliki arti sebagai HARAPAN. Kita semua menantikan kedatangan Kristus penuh sukacita dan harapan.
Lilin pertama pada minggu ini disebut sebagai “Lilin Nabi” yang mengingatkan bahwa kedatangan Yesus sebagai Mesias sudah diwartakan para nabi terdahulu.“Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan…” (Roma 15:12-13)
Pada Minggu Adven 2 (8 Desember 2019) memiliki arti sebagai KESETIAAN dan CINTA. Pada minggu kedua ini lilin ungu kedua dinyalakan. Mengingatkan kita untuk tetap setia mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Kita diwajibkan menyiapkan hati dan cinta demi menyambut kedatangan Kristus.
Lilin kedua ini disebut “Lilin Betlehem” yang memiliki arti bahwa Yesus Krisus sang juruselamat kita akan lahir di dalam hati kita. Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya …(Lukas 3:4-6)
Saat Minggu Adven 3 (15 Desember 2019), ditandai dengan dua batang lilin ungu dan satu lilin merah jambu. Minggu ketiga ini mengingatkan kita tentang SUKACITA. Kita bersama-sama bergembira untuk menyambut kelahiran Yesus sang juruselamat kita.
Lilin ketiga disebut “Lilin Gembala” karena kabar sukacita tentang kelahiran Yesus Kristus pertama kali diberitahukan kepada orang-orang yang rendah hati dan tulus.
Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. (Lukas 2:10)
Terakhir Minggu Adven 4 (22 Desember 2019), adalah minggu terakhir dari masa Adven. Minggu keempat yang memiliki arti khusus PERDAMAIAN ini mengingatkan kita tentang kemuliaan Tuhan, sang pemilik semesta alam. Bersama-sama kita bersukacita menyambut kedatangan-Nya.
Pada masa ini ditandai dengan tiga batang lilin ungu sebagai simbol masa pertobatan, dan satu lilin merah jambu, sukacita karena masa penantian telah berjalan setengah dan akan berakhir. Lilin keempat ini disebut juga “Lilin Para Malaikat” yang melambangkan kebahagiaan dan sukacita menyambut kedatangan Sang Juru Selamat. “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14)
Tak semua gereja memaknai penempatan lilin dan warnanya. Ada juga kebiasaan yang meletakkan lilin putih di tengah, yang dinyalakan saat masa Adven selesai, yang menyatakan bahwa Kristus telah datang. Tapi itulah intinya kalender gerejawi. Ada masa adven sebelum natal.
Mulai disekolahan jalur agak ganjil itu sudah diaminkan. Rayakan natal disaat adven alasannya karena gak mungkin rayakan setelah minggu adven, anak sekolah sudah libur. Alasan yang pragmatis. Prinsip teologi kalah oleh mekanisme pasar.
Karena alasan yang sama (sibuk saat natal) maka kumpulan marga, arisan, alumni sekolah ketegori pelayanan anak, pemuda, perempuan semua bernatal disaat adven. Berkali kali berulang, kelelahan, sampai jontor. Yesus pun heran, barangkali.
Memang lucu. Umat rayakan natal disaat adven dan bernyanyi
“Hai Mari, Berhimpun..” (KJ 109), atau “Gita Sorga Bergema..” (KJ 99)
Harusnya saat adven menyanyikan “Kusongsong Bagaimana” (KJ 85)
Sayangnya lagu adven jarang, sehingga pembuat liturgi bingung menyajikan lagu lagu adven 1-4.
Stock lagu natal banyak tapi hanya dinyanyikan sekali saja saat natal
Natal dirayakan saat adven. Tampaknya Yesus yang belum lahir, dipaksa lahir lebih awal. Mau tanya nih, apakah Maria melahirkan prematur? #
Penulis : Marim Purba

Author: Roy Agusta

2 thoughts on “Marim Purba : Yesus Belum Lahir ?

  1. Sudah semakin banyak gereja termasuk GKI mengikuti kalender gerejawi ini. Untuk mengubah paradigma lama tdk mudah. Tapi kudu diupayakan terus supaya bisa terwujud. Menginspirasi.

  2. Bagi kita ,Jesus tetap lahir dan bersama kita,awal dan akhir.Perayaan hari natal hanya sekedar “mengingatkan”dan memaknai penyampaian berita sukacita ini ,bagi yg belum mengetahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *