Mangasi Sihombing : Pancasila Sakti, Secercah Catatan Sejarah

Duta Besar Mangasi Sihombing

PANCASILA SAKTI, SECERCAH CATATAN SEJARAH

Sejak 1965 kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Pengertian kata sakti adalah ‘benar” secara singkatnya. Hari lahirnya Pancasilapun kita peringati yaitu tanggal 1 Juni. Namun memperingati Hari Kesaktian Pancasila rasanya memiliki rasa atau hikmat tersendiri. Betapa tidak, karena Pancasila sebagai dasar negara telah terbukti lolos dari banyak percobaan-percobaan yang luar biasa untuk menghapusnya dari kamus sejarah bangsa Indonesia.

┬áKita peringati Hari Lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni mengingat pada tanggal itu, tahun 1945 Bung Karno menyampaikan pidato dihadapan sidang Badan Penyelidik Persiapan Kemerkaan Indonesia (BPPKI) di Jalan Taman Pejambon No. 1, yang sekarang masuk dalam pengelolaan Kementerian Luar Negeri. Dalam pidatonya Bung Karno menawarkan lima dasar untuk dijadikan sebagai dasar filosofis negara Indonesia yang dicita-citakan dan sedang diperjuangkan. Sebelumnya, dalam sidang itu Muhammad Yamin juga menawarkan 5 dasar yang sama isinya dengan pikiran yang dikemukakan Bung Karno, namun urutan 5 dasar itu berbeda dalam kedua pidato pejuang kemerdekaan itu. Juga sejarah mencatat pidato Prof. Supomo yang menawarkan dasar-dasar negara yang perlu dipertimbangkan oleh sidang BPPKI. Akhirnya, berdasarkan masukan-masukan yang muncul dalam sidang dimaksud, sebuah panitia yang dikenal sebagai Panitia Sembilan merumuskan sebuah piagam yang dikenal sebagai Piagam Jakarta. Piagam Jakarta kemudian ditawarkan dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI) yang merupakan penjelmaan dari BPPKI. Isi Piagam Jakarta akhirnya diterima menjadi pembukaan UUD 1945 dengan beberapa perubahan, a.l. dengan menghapus kata-kata “dengan kewajiban menjalankan syariat-syariat Islam bagi pemeluknya”. Dalam pembukaan atau preambul UUD 1945 inilah tercantum 5 dasar negara NKRI yang kemudian kita kenal sebagai Pancasila.

Percobaan besar pertama untuk menghapus Pancasila adalah pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Muso di Madiun tahun 1948 untuk membentuk negara komunis Indonesia, yang berarti bertujuan juga untuk mengganti UUD 1945 dan menghapus Pancasila serta menggantinya dengan ideologi Marxisme-Leninisme atau komunisme. Pemberontakan ini yang dikenal sebagai Madiun Affair berhasil digagalkan atau ditumpas oleh TNI.

Percobaan kedua yang lebih besar lagi untuk menyingkirkan Pancasila adalah pemberontakan Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965 yang dirancang pimpinan-pimpinan PKI dengan menggunakan militer yaitu satuan Cakrabirawa membunuh Pimpinan Angkatan Darat, Letjen. Ahmad Yani dkk. Jenderal A.H. Nasution lolos dari pembunuhan. Putri Nasutian, Ade Irma yang masih kecil tewas ditembak di rumah. Korban-korban pembunuhan oleh G30S kemudian diabadikan sebagai Pahlawan Revolusi. Mengapa menjadi pahlawan revolusi? Karea pada saat itu Indonesia masih dalam proses revolusi seperti digelorakan Bung Karno. Pada saat itu Bung Karno menyandang nama kehormatan sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Juga kita catat bahwa pemberontakan G30S terjadi pada saat kita sedang melancarkan proyek “ganyang Malaysia” karena dianggap merupakan proyek imperialisme dan neo-kolonialisme. Belakangan diketahui bahwa proyek ganyang Malaysia adalah gagasan PKI untuk memperlemah lebih jauh kondisi Indonesia sehingga lebih mudah ditumbangkan oleh PKI dan merubahnya menjadi negara komunis.

Pemberontakan G.30.S ditumpas oleh TNI yang bergerak pada tanggal 1 Oktober 1965.

Dalam perpektif sejarah Indonesia, secara konstitusional Pancasila selalu berhasil diterima sebagai dasar negara. Pada tanggal 18 Agustus l945, sehari setelah Proklamasi kemerdekaan, sidang PPKI menerima dan mengesahkan berlakunya Undang-undang Dasar 1945 dengan Pembukaan atau Preambul yang memuat Pancasila. Sebagai hasil perkembangan perjalanan Republik Indonesia, maka melalui perundingan dengan pihak Belanda yang kita kenal sebagai Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun 1949, ditetapkan dan disahkan berdirinya Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang dilandasi dengan Konstitusi Sementara RIS. Perundingan KMB disamping menetapkan berdirinya RIS, juga menetapkan berdirinya Uni Indonesia Belanda, dimana di atas Uni ini duduk bertahta Ratu atau raja Belanda. Artinya Ratu atau raja Belanda adalah juga Ratu atau Rajanya RIS bersama kerajaan Belanda. Uni Indonesia-Belanda kira-kira dapat disejajarkan dengan Persemakmuran Inggris Raya (Commonwealth of the British Empire). Uni ini menjadi duri dalam daging RIS terutama untuk Republik Indonesia proklamasi yang secara psikologis menjadi stigma kejiwaan yaitu bangsa yang bersejarah dengan ketertautan dengan kolonialisme. Maka dengan cepat-cepat RIS bergerak melepaskan diri dari keserikatan kearah kesatuan. Maka pada tahun 1950 RIS secara sepihak menyatakan mundur dari ikatan Uni Indonesia Belanda, Indonesia tidak lagi mengakui Ratu Belanda menjadi Ratu bersama bagi RIS dan Belanda. Tentu hal ini menyebabkan tegangnya kembali hubungan Indonesia-Belanda.

Satu-persatu negara-negara bagian RIS menyatakan meninggalkan RIS dan bergabung dengan Republik Indonesia proklamasi. Dan dengan bubarnya RIS dirasakan perlunya menetapkan dan memberlalukan UUD Sementara 1950 untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal itu dilaksanakan dengan Undangundang No. 7 Tahun 1950 tgl. 15 Agustus 1950. Yang kita mau tunjukkan disini bahwa Pancasila sebagai dasar negara tetap tercantum dalam Pembukaan atau Preambul UUD Sementara 1950.

Dalam rangka UUD Sementara 1950 dibentuk Konstituante yang bertugas untuk membuat UUD Indonesia yang tetap. Melalui pembahasan dalam sidang Konstituante yang berlangsung hingga tahun 1959, berhasil dirumuskan dan diterima naskah pasal-pasal UUD tetap, namun sidang Konstituante gagal mencapai kesepakatan untuk menetapkan Pembukaan atau Preambulnya yang berkaitan dengan Pancasila. Sebagian anggota Konstituante menyatakan tak lagi mau mengikuti sidang. Dalam sidang ini PKI menyatakan dapat menerima Pancasila sebagai dasar negara, namun hanya untuk sementara waktu saja. Artinya PKI berniat untuk menghapus Pancasila di kemudian hari. Karena situasi tegang dalam sidang Konstituante, dan mengingat kondisi keamanan negara berkaitan dengan kondisi pergolakan di beberapa daerah, maka Presiden Soekarno mengumumkan Dekrit 5 Juli 1950 yaitu kembali ke UUD 1945. Parpolparpol nasionalis dan kristiani mendukung Dekrit.

Yang disayangkan kemudian adalah bahwa Presiden Soekarno tidak mempersiapkan Pemilu untuk membentuk DPR dan MPR sesuai UUD 1945. Beliau dengan kebijakan sendiri membentuk DPR Gotong Royong dan MPR Sementara dengan dasar pengangkatan. Presiden Soekarno kurang atau tidak konsisten dengan ketentuan UUD 1945, dimana beliau menunjuk kabinet dipimpin oleh Perdana Menteri yang dalam UUD 1945 tak ada referensinya. Keadaan negara semakin kurang menguntungkan yang ditandai dengan pemberontakanpemberontakan seperti DI/TII, pemberontakan Daud Bereuh, kemudian Permesta dan PRRI. Semua pemberontakan-pemberontakan ini didasarkan pula pada sentimen anti-komunisme yang lagi berkembang. Pemberontakanpemberontakan satu-persatu berhasil dipadamkan, halmana memberi angin lebih baik bagi gerakan komunis di Indonesia. Dasar politik pribadi Bung Karno yang bertumpu pada konsepsi NASAKOM digebu-gebukan dengan Manipol Usdek. Kita mendengar bahwa pidato-pidato kenegaraan Bung Karno untuk 17 Agustus-pun telah diisi oleh pikiran-pikiran dari pihak PKI. Politik luar negeri yang tadinya lebih bersifar Non-Blok kemudian menjadi politik poros-porosan yaitu dengan membangun poros Jakarta-Hanoi-Moskow; Jakarta-Pyongyang-Beijing. Itu dikenal politik kekiri-kirian. Setelah Trikora pembebasan Irian, Indonesia memulai Dwikora yaitu politik “ganyang Malaysia” dengan dalih bahwa Malaysia adalah proyek Nekolim, khususnya Inggris. Indonesia semakin jauh dari negara-negara Barat, ekonomi semakin sulit. Memang PKI menghendaki kemerosotan ekonomi, makanya Indonesia dibenturkan dengan tetangga dengan konfrontasi terhadap Malaysia.

Dalam suasana ekonomi yang semakin lemah yang ditandai dengan inflasi membubung, PKI memancing keributan-keributan fisik di beberapa tempat untuk menguji keadaan apa sudah matang untuk revolusi komunis. Kita mencatat misalnya peristiwa Bandar Betsi di Sumatra Utara yang melibatkan para petani. Faktor lain yang menyebabkan PKI melancarkan kudeta adalah kesehatan Bung Karno yang kurang baik. Indonesia mendatangkan tim dokter untuk mencoba mengatasi kesehatan beliau, namun tidak berhasil dimana tim ini kembali segera ke Tiongkok. Pimpinan PKI nampak khawatir bahwa tanpa Bung Karno maka posisi PKI bisa tertekan terutama oleh TNI. Maka dilancarkanlah kudeta oleh PKI dengan membunuh para pimpinan TNI terutama Angkatan Darat dan ternyata gagal. Mantan Menteri Luar Negeri, Dr. Subandrio setelah dibebaskan dari penjara akibat diadili dalam keterlibatan dalam G30S, menjelaskan bahwa kudeta tersebut dilancarkan lebih awal karena kekhawatiran bahwa TNI telah mendapat bantuan senjata dari Barat atau Amerika Serikat (AS).

Bagaimana senjata itu diberikan? Ternyata itu bantuan secara tidak langsung. Senjata-senjata AS sebenarnya dikirimkan kepada PRRI. Pelabuhan Sibolga merupakan tempat menurunkan senjata dari kapal. Diterima oleh pasukan PRRI, namun segera pasukan TNI datang dan mengambilnya. Tempat kedua adalah Pekanbaru dengan menjatuhkan peti-peti senjata dari udara. Itu bersamaan pada hari Jenderal Nasution berkunjung ke Pekanbaru, semua diambil oleh TNI. Contoh-contoh senjata itu dipertontonkan dimuka pers di Jakarta. Tentu kita semua sudah tahu bahwa pimpinan PKI telah menyarankan kepada Presiden Soekarno untuk membentuk Angkatan Kelima yaitu para petani, buruh dan pemuda yang akan dipersenjatai disamping TNI. Jelas gagasan ini ditentang keras oleh pimpinan TNI karena kehawatiran akan digunakan terhadap TNI. Namun keberatan TNI tidak digubris oleh Presiden Soekarno. Senjata`senjata dari RRT diselundupkan ke Indonesia, dan untung dapat digagalkan oleh Dinas Intendans TNI yang dipimpin oleh Brigjen. D.I. Panjaitan.

Percobaan kudeta tersebut gagal, berarti upaya menghapus Pancasila gagal pula dengan sendirinya. Adalah menjadi tugas dan tanggungjawab kita semua menjaga kelestarian Pancasila yang digali dari bumi kehidupan bangsa seperti diakui oleh Bung Karno. Kita tak boleh lengah karena dalam masyarakat masih ada elemenelemen yang sedang giat untuk menghapus Pancasila dan mau menggantinya dengan ideologi lain, katakanlah misalnya ideologi khilafah. Jadi dalam kesadaran dan ketekunan, kita harus membumikan atau mewujudkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan tugas yang gampang, tapi bisa selama kita bersatu dan mau.

Tuhan memberkati Pancasila, Tuhan memberkati NKRI. Terpujilah nama-Nya.

 

Jakarta, 1 Oktober 2020.

Mangasi Sihombing

*Adalah mantan diplomat karir, penulis buku-buku puisi, & Ketua Dewan Pembina Visi Indonesia Unggul

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*