Maksud Hati Suburkan Pancasila Apa Daya Slogan Tak Mengakar Yang Muncul

Jakarta, chronosdaily.com – Budayawan Eros Djarot mengkritisi kehidupan ber-Pancasila di Indonesia. Selama ini, Pancasila masih hanya sebatas slogan-slogan. Bagi anggota Dewan Pembina Gerakan Pembumian Pancasila (GPP) ini, Pancasila tidak akan bisa tumbuh subuh hanya dengan slogan-slogan. “Pancasila tidak bisa tumbuh subur hanya dengan slogan-slogan tanpa memahami akar permasalahan yang terjadi pada kehidupan berbangsa dan bernegara,” tutur Eros Djarot.

Hal itu disampaikan Eros Djarot saat menjadi pembicara dalam Dilog Kebangsaan bertajuk Merawat Dan Membumikan Nilai-nilai Luhur Pancasila Demi Mewujudkan Indonesia Maju, di Gedung Joang, Menteng, Jakarta, Minggu (25/8/2019). Eros mengatakan, sejak zaman Orde Baru hingga kini, nilai-nilai Pancasila tidak pernah diterapkan secara murni dan konsekuen. Sebaliknya, hanya sekedar slogan.

“Jadi jelas Pancasila tidak bisa tumbuh suburnya di atas tanah liberalisme dan kapitalisme yang menggerogoti bangsa ini,” ujar Eros. Menurutnya, Indonesia sudah mengarah pada individualisme yang menjadi akar liberalisme. “Hal inilah yang menghianati Pancasila,” tambah sutradara Film Cut Nyak Dien itu.

Eros mengatakan, sejumlah ikon Pancasila yang dihadirkan dalam kehidupan bermasayarakat malah mengakibatkan makna dan nilai-nilai kabur. “Pancasila itu adalah dasar, bukan pilar. Jadi saya menolak keras bila dikatakan Pancasila adalah pilar. Itu makna yang kabur,” ujar Eros. Menurutnya, Pancasila lebih mengedepankan semangat gotong royong dalam memajukan kehidupan masyarakat. Sayangnya, sampai saat ini baik ekonomi dan politik lebih individualisme.

See also  Pemkot Jakut Akan Tingkatkan Target Pembinaan Kesadaran Hukum Siswa Sekolah

Bila yang maju dalam perekonomian hanya segelintir orang, maka tidak bisa dijadikan representasi perekonomian masyarakat secara keseluruhan. “Coba lihat dalam Pemilu Legislatif tahun 2019, ada tidak para caleg di satu daerah Pemilihan gotong royong,” ucapnya. Eros menegaskan, Pancasila hanya dapat tumbuh di lahan yang jelas. Sayangnya, lanjut Eros, sampai saat ini Pancasila dihancurkan. “Saya gak habis pikir, bahwa Indonesia seperti ini. Gak jelas,” ujarnya.

Menurut dia lagi, bila Pancasila ingin membumi maka harus kembali ke kultur bangsa ini. “Saya tidak percaya Pancasila akan tumbuh subur  tanpa keberanian melawan kapitalisme dan liberalism,” ujarnya. Hadir dalam diskusi, Ketua Umum Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) Drs Bambang Sulistomo, dan Ketua Umum DPP GPP Dr Antonius DR Manurung. Dimoderatori Sekretaris Jenderal DPP GPP Dr Bondan Kanumayoso, yang juga Sejarawan.JON

 

Kerja-Kerja Nyata Rejim Dibutuhkan Membumikan Pancasila

Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila (DPP GPP) berpendapat, Indonesia sampai saat ini dalam kondisi prihatin. Pasalnya, kondisi ekonomi Indonesia masih terjadi jurang Kemiskinan yang sangat mencolok. Menurut Ketua Umum DPP GPP Dr Antonius Dieben Robinson Manurung,  jika sistem bernegara ini tidak diatasi dengan baik, maka akan menimbulkan disintegrasi bangsa.

See also  DPP GAMKI: GAMKI Sulut Harus Menjadi Arah Mata Angin Bagi GAMKI Se-Indonesia

“Karena itu dibutuhkan rejim pembumian Pancasila. Sampai saat ini tidak ada rejim yang membumikan Pancasila. Disamping itu, tidak punya sistem ideologi Pancasila,” ujar Antonius, dalam Dialog Kebangsaan bertajuk Merawat Dan Membumikan Nilai-nilai Luhur Pancasila Demi Mewujudkan Indonesia Maju, di Gedung Joang, Menteng, Jakarta, Minggu (25/8/2019).

Kata Antonius, bangsa ini semakin menjadi bangsa pelupa. Bahkan, untuk menjadi penghianat semakin besar. Hal itu dilihat dari sistem pendidikan dan bendera merah putih yang sangat minim di dalam sekolah. “Bendera-bendera di sekolah hanya 10 persen dari puluhan ribu sekolah dari SD sampai Universitas di Indonesia. Apa tidak ada tindakan Pemerintah untuk mengintruksikan disetiap sekolah untuk memasukan bender,” ujarnya.

Dia menuturkan, untuk membumikan Pancasila maka dibutuhkan strong will  atau kebijkan yang kuat dari Pemerintah. Khususnya Menteri Pendidikan dan Menteri Riset dan Perguruan Tinggi. “Soekarno menggali Pancasila 1 Juni 1945. Berarti ada air, sayangnya airnya menjadi keruh karena selama 32 tahun di jajah oleh Pemerintahan Orde Baru dengan cara intimidasi indoktrinal Pancasila. Bangsa Ini sedang sakit,” ujarnya.

See also  Polsek Serang Bubarkan Pedagang Kaki Lima Di Stadion Maulana Yusuf

Menurutnya,  radikalisme, neoliberalisme dan kapitalisne adalah musuh dari Pancasila yang mengakibatkan terdistorsinya Pancasila selama ini. Dia meminta, agar Pemerintah Joko Widodo bertindak tegas terhadap setiap orang yang menolak ideologi Pancasila. “Orang yang menolak ideologi Pancasila adalah penghianatan terhadap Proklamasi dan UUD 1945. Bila perlu dicabut kewarga negaraannya,” tambah Antonius.

Hadir sebagai pembicara Budayawan yang juga Anggota Dewan Pembina Eros Djarot, Ketua Umum Ikatan Pendukung Kemerdekaan Bambang Sulistomo. Dialog tersebut, dimoderatori Dr Bondan Kanumayoso. Di tempat yang sama, mantan Danjen  Koppasus, yang juga Anggota Dewan Pembina GPB Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya melantik struktur pengurus DPP GPP.

Wisnu mengingatkan, kiranya DPP GPP di bawah Kepemimpinan Dr Antonius Dieben Robinson Manurung dan Sekretaris Jenderal DPP GPP Dr Bondan Kanumayoso agar Pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi dibutuhkan dalam kehudupan nyata. Wisnu mengingatkan,  dalam menghadapi kejahatan transnasional maka dibutuhkan solusi. Salah satunya pendidikan Kader. “Karena itu GPP harus siap melalui pendidikan Kader,” ujarnya. [Jerimia Vegas]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *