Maharaja Kutai Mulawarman Menyikapi Kehadiran Keraton Agung Sejagat di Purworedjo

Jakarta, chronosdaily.com – Kehadiran  sekelompok orang berbusana ala kerajaan keraton di Purworejo, Jawa Tengah dan menamakan diri sebagai Keraton Agung Sejagat (KAS) dianggap meresahkan. Keraton Agung Sejagat ini dipimpin oleh seseorang yang dipanggil Sinuwun bernama Totok Santosa Hadiningrat, dan istrinya Dyah Gitarja dipanggil dengan sebutan Kanjeng Ratu.

Kemunculan Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya, yang dilaksanakan dari Jumat (10/1) hingga Minggu (12/1) Berdasarkan informasi, pengikut dari Keraton Agung Sejagat ini mencapai sekitar 450 orang dan sebagaian besar bukan warga sekitar.

Keraton Agung Sejagat, disebutkan merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhirnya perjanjian 500 tahun yang lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai dengan 2018. Perjanjian 500 tahun tersebut dilakukan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa imperium Majapahit, dengan Portugis sebagai wakil orang barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka tahun 1518.

Maharaja Kutai Mulawarman MSPA Iansyahrecza Fachlevie, kepada Chronosdaily menyampaikan, bahwa sah saja siapapun menyebut atau mau mengaku sebagai Raja. “Selama yang bersangkutan bisa memberikan pembuktian dan kejelasan dari trah mana dia berasal, supaya tidak membingungkan masyarakat dan urusan legalnya diurus supaya mempunyai kekuatan hukum.”

See also  OKP Keagamaan se-DKI Jakarta Mendukung Berantas Terorisme dan Radikalisme

“Kemudian yang bersangkutan menyebutkan bahwa dia berasal dari keturunan Sanjaya dan juga dari trah Sailendra. Bagaimana mungkin? Sanjaya yang Hindu dan Sailendra itu Buddha. Apalagi kalau benar dia menyebut juga sebagai keturunan Majapahit. Majapahit yang mana?” Jelas Maharaja Kutai Mulawarman yang naik takhta sejak 2001, setelah 2 tahun sebelumnya (1999) melakukan ritual adat.

Menurut Maharaja Kutai Mulawarman, “Ada satu hal yang keliru bahwa kata Sejagat itu merupakan Kawasan Jagat apa? Harus diperjelas dan ditegaskan dengan benar. Karena mengingat sejarah yang saya pelajari tidak ada di Nusantara ini nama kerajaan memakai kata Sejagat, apa lagi Raja Penguasa Jagat yang membawahi Raja lain.”

Maharaja Kutai Mulawarman MSPA Iansyahrecza Fachlevie

“Kalau mau bikin raja-rajaan, juga tidak lucu. Ini akan menimbulkan banyak pertanyaan, dan tentu dipertanyakan oleh berbagai pihak juga.” Lanjut Maharaja Kutai Mulawarman, “Contohnya di Nusantara ada 701 Raja dan Sultan, kalau saya salah mohon dikoreksi. Lalu di Eropa juga ada Raja, dan di belahan dunia lain masing-masing punya ketentuan hukum yang tidak bisa di campur aduk dengan kerajaan lain. Dan di Indonesia juga ada Raja dan Sultan di masing-masing wilayah yang memiliki hukum dan perundangan berbeda-beda tetapi tetap berada di bawah naungan Negara dan Bangsa Indonesia yang berazaskan Pancasaila dan UUD 45.”

See also  Menkominfo Johnny G Plate Diminta Prioritaskan Penerbitan Aturan Penghapusan Berita Yang Tak Relevan

“Bahwa Kerajaan dan Kesultanan di Indonesia adalah merupakan pelestarian kebudayaan dan adat istiadat. Saya duga ya, satu hal kekeliruan Keraton Agung Sejagat ini bahwa menyatakan diri sebagai pimpinan Negara dan Bangsa Sedunia, sedangkan PBB atau United Nation saja hanya merupakan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan tidak membawahi bangsa lain.”

Bagi Maharaja Kutai Mulawarman yang berdomisili di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, “Ya kalau Keraton Agung Sejagat ini merupakan perkumpulan atau LSM, sah saja selama didaftarkan ke lembaga negara dan dimana domisili keberadaanya. Sebagai sesama pelestari budaya dan adat istiadat, kita perlu memberikan apresiasi. Tidak bisa dilihat dari cara pandang itu salah dan ini benar.”

chronosdaily

Maharaja Kutai Mulawarman yang memiliki kerja sama dengan kerajaan-kerajaan di Malaysia dan Brunei Darussalam dan sering diminta berbagi ilmu sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara ini, tak terlalu serius menyikapi hadirnya Kerajaan Agung Sejagat. “Benar atau tidak benar, atau hanya untuk main-main tetapi inilah pelajaran positif yang harus diambil oleh masyarakat.” Maharaja Kutai Mulawarman meminta pemerintah jangan juga terlalu cepat bereaksi dan melakukan justifikasi.

Maharaja Kutai Mulawarman, kepada Chronosdaily juga memaparkan adanya Kerajaan Mataram Kuno di Bagelen Watu Kuro, seperti yang disebutkan dalam pengakuan pihak Kerajaan Agung Sejagat, dimana kerajaan tersebut sesungguhnya tidak pernah membawahi Kerajaan-Kerajaan lain, apalagi sampai sejagat. “Kalau mengenai Perjanjian Portugis dengan Raja Sunda mengenai Malaka, tidak ada sangkut pautnya dengan Mataram Kuno.”

See also  Usai Lantik Menteri, Presiden Jokowi : Langsung Kerja !

Hal yang disampaikan, mungkin hanyalah merupakan satu himbauan dan agar pelurusan sejarah yang benar-benar bisa dipahami agar tidak campur aduk antara Kerajaan Mataram di Bagelen dan Majapahit Wilwatikta di Jawa Timur dan menyangkut Malaka dan Sunda serta Portugis sampai kepada hal PBB atau UN sangatlah mustahil dan bercampur aduk. “Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra juga merupakan hal yang dicampur-aduk.” Kalau mau melestarikan Budaya dan Adat tentu ada teritorial budaya dan Adat, lanjut Maharaja Kutai Mulawarman, sehingga jelas batas dan visi-misi yang diemban. “Sehingga bisa membawa bangsa Indonesia besar, cerdas dan berbudaya.” Harapan Maharaja Kutai Mulawarman, “Semoga hal ini menjadi pelajaran bersama dan tidak ada maksud menyudutkan apalagi meniadakan sejarah. Semoga kita saling menghargai, menjunjung tinggi NKRI dan Merah Putih serta menjadi panutan masyarakat didaerah kita masing masing sehingga menciptakan rasa nyaman, aman tenteram damai sentosa di bawah Pancasila dan UUD 45,” pungkas MSPA Iansyahrecza Fachlevie yang lebih dikenal sebagai Maharaja Kutai Mulawarman. [JRVegas]

 

1 thought on “Maharaja Kutai Mulawarman Menyikapi Kehadiran Keraton Agung Sejagat di Purworedjo

  1. Saya mendukung dan sepakat pernyataan YM Maharaja Kutai Mulawarman ini…!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *