Lihat Dong, Pelemahan KPK Terus Terjadi. Aksi-Aksi Bayaran, Diskusi Publik Hingga Menggugat Dilakukan

Jakarta, chronosdaily.com – Upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus terjadi. Sejumlah bentuk pelemahan terhadap lambaga anti rasuah itu tak berhenti hingga kini. Jika tahun 2019 lalu, heboh mengenai pelemahan KPK lewat revisi Undang-Undang KPK oleh Presiden dan DPR, hingga Januari 2020 ini, sejumlah aksi yang bertujuan menggerus eksistensi pemberantasan korupsi di KPK itu terus terjadi.

Pantauan wartawan di depan Komplek Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta Selatan, pada Jumat (17/01/2020), puluhan orang masih menggelar aksi unjuk rasa. Massa aksi yang diduga bayaran itu menamakan dirinya Corong Rakyat. Selain menggelar orasi-orasi dari mobil komando dengan Sound System bertenaga besar, aksi massa tampak melakukan aksi teatrikal dengan mendandani peserta aksi sebagai pocong. Berdiri mondar-mandir di depan gerbang Komplek Kejaksaan Agung, yang oleh peserta aksi ditempelkan baliho berisi wajah Penyidik Senior KPK Novel Baswedan.

Tampak Pocong yang berlumuran darah gentayangan berdiri di depan manusia bertopeng mirip Novel Baswedan saat aksi di pelataran Kejagung. Salah seorang orator aksi, Radja, mengatakan, aksi mereka adalah untuk meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin segera menangkap penyidik KPK, Novel Baswedan. “Aksi ini dipersembahkan kepada Jaksa Agung sebagai pengingat saat pelantikan jabatannya dengan mushaf Al Quran berjanji akan menegakkan hukum seadil-adilnya. Maka itu jangan diamkan kasus Novel Baswedan,” ujar Radja.

See also  Cegah Penyebaran Covid-19, Polsek Kep Seribu Selatan Bubarkan Kerumunan

Sedangkan, Koordinator Aksi Corong Rakyat itu, Ahmad mengatakan, upaya penegakan hukum yang tebang pilih dan cenderung diskriminatif terhadap kasus Novel Baswedan adalah sebagai bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita reformasi. “Sama saja ini reformasi diperkosa. Mana yang kemarin teriak-teriak Ham, teriak-teriak KPK dilemahkan, reformasi dijarah. Mana suara kalian? Bullshit, alias omong kosong. Rakyat kecil menagihmu sekarang untuk mendorong agar kasus dugaan penganiayaan Novel Baswedan saat menjabat sebagai Kasat Reskrim di Bengkulu bisa dituntaskan,” katanya berapi-api.

Ahmad mengaku, Corong Rakyat sebagai lembaga yang dibawanya mendemo Novel Baswedan, tak akan lelah menyuarakan agar kasus penyidik KPK Novel Baswedan segera dilimpahkan ke pengadilan. “Kami sudah berhari-hari di depan Kejaksaan Agung untuk mendesak agar Novel Baswedan diadili. Ghirah kita tetap berkobar sampai tuntutan kami dipenuhi. Kami akan kawal terus kasus Novel, jangan sampai pelaku pelanggar HAM bebas berkeliaran dan hukum jangan dimatikan seperti pocong. Sudah sewajarnya Kejagung menuntaskan kasus ham ini,” katanya lagi.

Belasan anggota polisi berseragam, tampak duduk-duduk dan berdiri melihati peserta aksi. Anggota kepolisian yang berjaga di bagian dalam pagar Kejaksaan Agung itu memantau jalannya aksi, agar tidak menimbulkan keributan. Dodi, salah seorang Pengamanan Dalam Kejaksaan Agung (Pamdal Kejagung) juga sesekali berjalan melihat ke arah aksi puluhan orang di depan kantor Kejaksaan Agung itu. “Ini sudah yang ke empat kali mereka aksi. Tuntutan yang sama. Nama lembaganya berbeda-beda. Kayaknya orangnya sama, peserta aksinya aja yang gonta-ganti,” ujar Dodi.

See also  IWAPI DKI Jakarta Hadiri Natal di Jakarta Utara

Pengunjukrasa itu sudah tiba di depan Kejaksaan Agung sebelum jam sholat Jumat. Hingga jam kantor usai, sore hari, mereka masih sesekali melemparkan orasi-orasi. Muzer, salah seorang pewarta yang bertugas di Kejaksaan Agung, yang melihat aksi itu juga menyampaikan, peserta aksi yang pertama kian berkurang dengan yang sekarang. “Mungkin sudah mulai habis duit dari bohir,” ujarnya tersenyum mengejek.

Menurutnya, lama-lama bunyi orasi para pengunjukrasa dari sound system bertenaga kuat itu sangat mengganggu orang-orang yang sedang beraktivitas di komplek kejaksaan agung. “Brisik, pulang aja napa? Mengganggu orang kerja aja,” cetusnya terkekeh. [Jon]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *