Korban Menumpuk dan Banyak yang Berserak, Wamena Butuh Pertolongan Cepat

Jakarta, chronosdaily.com – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyatakan, bantuan dan pertolongan masyarakat dan pemerintah, maupun aparat masih sangat diperlukan segera dilakukan bagi para korban kerusuhan di Nduga dan Wamena di Papua. Serta korban bencana alam di Maluku. Direktur Program Pengurangan Risiko Bencana Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PRB PGI) Eliakim Sitorus menyampaikan, hingga kini, bantuan kemanusiaan yang sudah dikumpulkan oleh PGI dan gereja-gereja, masih tertahan, karena akses dan juga transportasi yang kurang sigap untuk menyalurkan bantuan ke wilayah-wilayah korban.

“Bantuan kemanusiaan, bantuan kebutuhan dasar, untuk para korban, terutama bagi anak-anak dan juga kaum ibu, harus segera diserahkan. Pertolongan semua pihak untuk saling berkoordinasi mengatasi semua hambatan pengiriman dan penyampaikan bantuan mesti dilakukan,” tutur Eliakim Sitorus, di Jakarta, Jumat (04/10/2019). Dia mengingatkan, sudah menjadi prinsip bersama dalam penyebaran dan pertolongan kepada para korban di seluruh dunia, bahwa menolong dengan kemanusiaan, tidak boleh berdasarkan diskriminasi atau perbedaan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA).

Karena itu, bantuan dan pertolongan kemanusiaan, dengan pendekatan kemanusiaan dan keberadaban, adalah ujung tombak dalam membantu para korban, seperti yang terjadi di Nduga, Wamena di Papua, termasuk untuk korban bencana gempa bumi di Maluku. “Membantu dengan prinsip, tanpa diskriminasi. Ini harus ditekankan. Ini kemanusiaan. Seluruh dunia sudah menyepakati itu. Jangan ada upaya menggesek konflik atas nama bantuan,” tegas Eliakim Sitorus.

Untuk Wamena, lanjut dia, persoalan itu tidak bisa dilihat untuk yang hari ini saja. Sebelumnya, telah ada rentetan peristiwa atau letupan-letupan konflik, yang belum terselesaikan akar masalahnya. Hal itu pula yang menyebabkan, tersebarnya para pengungsi dan korban bencana kemanusiaan di ujung Timur Indonesia itu. “Kita bisa menelusurinya mulai dari peristiwa Nduga, kemudian aksi-aksi rasialis dan diskriminatif terhadap mahasiswa Papua di sejumlah daerah beberapa waktu belakangan ini. Dan kemudian, lanjut ke Wamena. Itu semua korban. Dan mereka butuh pertolongan, tanpa diskriminasi. Termasuk para pengungsi yang merupakan perantau dari berbagai daerah di sana, itu mereka juga korban,” beber Eliakim Sitorus.

Dia menegaskan, pihaknya berkoordinasi dengan semua elemen masyarakat, dengan berbagai lembaga kemanusiaan di Indonesia, lintas agama, lintas sektor, pemerintah, aparat keamanan, dan juga lembaga-lembaga kemanusiaan dunia, untuk bisa menolong dan menyelematkan para korban, terlebih dahulu. Diungkapkan Eliakim Sitorus, hingga bulan Juli 2019 saja, korban pengungsi yang meninggal di Wamena 129 orang. Ada ada anak berusia kurang lebih 2 tahun baru meninggal. Bulan Juli sendiri ada 3 pengusi internal yang meninggal di Wamena. “Itu di Bulan Juli saja masih begitu. Kita masih mengumpulkan lagi data-data korban yang tersebar di berbagai wilayah. Pastinya, naik terus. Menumpuk. Tidak hanya segitu. Dari mulai bulan Juli hingga Oktober sekarang, itu bertambah,” ujar Eliakim.

Sementara itu,  Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto membenarkan, saat ini para pengungsi banyak yang diserang berbagai penyakit. “Sebanyak 220 orang pengungsi telah dipulangkan ke kampung halamannya dikarenakan kondisi geografis Kota Wamena sangat dingin yang membuat para pengungsi banyak terserang penyakit diare dan ispa,” ujar Eko Daryanto di Jayapura, Kamis malam (03/10/2019).

Dia juga mengimbau warga Wamena yang masih mengungsi di 34 posko, untuk kembali ke rumah masing-masing. Dijelaskan Eko, situasi dan kondisi sudah mulai kondusif dan perekonomian kembali normal pasca kerusuhan anarkistis di Papua, sejak Senin (23/09/2019) lalu. “Pasca-kerusuhan Wamena, Kabupaten Jayawijaya, 23 september 2019, membuat belasan ribu warga mengungsi di 34 posko, namun setelah sepekan situasi dan kondisi di Wamena sudah mulai kondusif,” kata Eko Daryanto.

Mulai kondusifnya kota Wamena, kata dia, ditandai dengan sejumlah tempat usaha dan pasar tradisional mulai kembali dibuka. Bahkan Pasar Wouma dan Jalan Irian yang berada di pusat kota Wamena terlihat sudah normal.

Aktivitas jual beli mama-mama Papua juga tampak sudah berjalan seperti biasanya. Untuk itu pengungsi yang masih memiliki rumah bisa kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasa. Warga diminta tidak perlu takut lagi karena keamanannya dijamin. “Pemerintah KabupatenJayawijaya dan pihak TNI Polri memberikan jaminan keamanan kepada seluruh warga Indonesia yang tinggal di Wamena untuk kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasanya,” ujarnya.

Eko mengatakan, jumlah pengungsi Wamena yang mengungsi ke Jayapura sudah mencapai 8.000 orang lebih. Sedangkan pengungsi yang masih ditampung di posko di Kota Wamena sekitar belasan ribu orang. Untuk pengiriman bantuan kepada para pengungsi dan para korban, Kolonel TNI Angkatan Udara Yuris Bintang mengatakan, pihaknya mengawasi dan mempersiapkan dan memberikan jalur transportasi untuk pengiriman bantuan kemanusiaan ke Papua.

Pasukan udara yang berbasis di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, lanjut Kolonel Yuris, siap menerbangkan bantuan dan juga kemanusiaan ke wilayah-wilayah yang sangat membutuhkan bantuan. “Kami berkoordinasi, dan segera mempersiapkan, pengiriman bantuan jika memang masih ada yang terkendala untuk pengiriman,” tutur Kolonel Yuris. [Jon]

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *