Kaum Muda Katolik-Kristen : Pancasila adalah Mandat Budaya Umat Kristiani

chronosdaily

Jakarta, chronosdaily.com – Menjelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, dua tokoh pemuda bertemu dan menyatakan pendapat bersama terkait perlunya partisipasi aktif kaum muda Kristen dan Katolik dalam membangun masyarakat. Ketua Pemuda Katolik DKI Jakarta Bondan Wicaksono dan Ketua Bidang Pemuda Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) DKI Jakarta Tigor Mulo Horas Sinaga mendorong para pemuda Nasrani agar turut mempedulikan bangsa dan negara mereka.

Horas Sinaga mengatakan, “Menjelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, kita perlu ingat bahwa setiap pengikut Kristus di mana pun ia berada mendapatkan dua macam kewarganegaraan sekaligus, yaitu: warga negara dunia dan warga Kerajaan Surga,” Senayan, Jakarta (20/12/2019).

“Menjadi warga Kerajaan Surga merujuk pada keyakinan bahwa sebagai pengikut Kristus kita tidak hanya akan hidup di dalam dunia ini saja, tetapi kita memiliki tempat lain yang bersifat kekal dan sempurna, sebuah tempat yang Tuhan janjikan kepada kita sebagai pengikut Kristus. Sementara sebagai warga negara dunia, pengikut Kristus diundang dalam ikatan sosial dan kemasyarakatan di antara sesama manusia,” katanya.

Pada poin ini Horas menyebutkan, umat Kristen dan Katolik diajak untuk mengusahakan, mengelola, memelihara dan menyejahterakan dunia yang menjadi tempat tinggal bersama. “Adanya kewarganegaraan ganda ini mendorong para pengikut Kristus untuk berhikmat mengelola sebuah tanggung jawab berbeda yang tidak boleh didikotomikan atau dikontraskan satu dengan yang lain,” ujar pemerhati politik dan intelijen itu.

Status kewarganegaraan ganda, Horas katakan, menjadi tantangan tersendiri bagi para pengikut Kristus di Republik ini, sebab mereka diundang untuk hidup bersama dan berinteraksi dengan harmonis dengan masyarakat di negara yang dikenal paling plural sedunia ini.

See also  Sudah Masuk Pokok Perkara, Kuasa Hukum Jaksa Pinangki Diduga Tak Paham Eksepsi

“Umat Tuhan tidak cukup hanya mementingkan orientasi ke surga saja, tetapi juga perlu berpartisipasi dalam merawat kebaikan dan kesejahteraan di lingkungan ia tinggal, tepat seperti yang Thomas Carlyle pernah katakan, bahwa tanggung-jawab kita yang utama adalah bukan hanya melihat kepada apa yang nun jauh di sana, tapi juga melakukan apa yang dekat dengan tangan kita,” kata pria yang juga Direktur Eksekutif Generasi Optimis Research & Consulting itu.

Ia menambahkan, “Sebagai pengikut Kristus secara otomatis kita mengemban dua mandat yang Allah berikan, yaitu Mandat Injil dan Mandat Budaya.”

Tigor Mulo Horas Sinaga

Mandat Injil dan Mandat Budaya

Horas menjelaskan, “Mandat Injil adalah perintah bagi kita untuk mewartakan Kabar Baik, yaitu keselamatan yang Allah berikan hanya melalui Yesus Kristus, sementara Mandat Budaya adalah perintah Kristus agar para pengikut-Nya menjadi terang dan garam dalam masyarakat. Jadi, kedua mandat ini sama-sama penting dan perlu untuk kita kerjakan sebaik-baiknya.”

Mandat budaya yang perlu umat Kristen dan Katolik upayakan secara nyata pada masa ini adalah menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Horas mengatakan, “Pancasila saat ini sudah pada tahap lampu kuning, jika kita semua rakyat Indonesia tidak segera sadar, maka tahun 2030 akan menjadi tahun yang menyedihkan bagi Republik ini.”

Atas dasar itu, menurut Horas, upaya menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari merupakan prioritas bagi umat Nasrani dalam mensyukuri Natal 2019 dan memasuki 2020. Ia menyebut hal ini sebagai ikhtiar pembumian dan habituasi Pancasila dengan nafas Kristiani.

See also  Wujud Kecintaan Bahari, Ribuan Pramuka Jakarta Utara Tanam Bibit Mangrove dan Bersih-Bersih Pantai

Kaum Kristiani Bangkit bagi Pancasila

Sejalan dengan pernyataan Horas, Ketua Pemuda Katolik DKI Jakarta Bondan Wicaksono, melihat umat Nasrani di Indonesia perlu lebih berpartisipasi aktif dalam ikhtiar pembumian dan habituasi nilai-nilai Pancasila sebagai ekspresi iman Kristiani mereka.

“Realitas hari-hari ini masih banyak warga gereja di Indonesia yang belum sadar pada perannya sebagai garam dan terang di tengah-tengah masyarakat, sehingga masih belum maksimal dalam membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” kata Bondan.

“Bayangkan jika negara ini tidak dijaga oleh nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan praktis, maka negara ini tentu akan lebih kacau keadaannya. Makin banyak yang intoleran dan segala hal buruk lainnya,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, menurut Bondan, kaum Kristiani dari berbagi denominasi di Indonesia perlu bangkit bagi Pancasila. “Umat Katolik dan Kristen selayaknya bangkit dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam lingkungan kerja, masyarakat, dan keluarga,” kata Bondan.

Bondan Witjaksono

Seutuhnya Kristen, Seutuhnya Indonesia

Pada saat yang sama, Horas, Pria Batak yang saat ini fokus pada gerakan pembumian dan habituasi Pancasila mengatakan, “Partisipasi umat Tuhan dalam negara dan masyarakat juga didemonstrasikan dengan jelas oleh Alkitab. Tuhan Yesus tidak ingin umat-Nya abai dan lalai terhadap kewajiban mereka berpartisipasi dalam kehidupan bernegara atau bermasyarakat. Adalah suatu panggilan bagi setiap orang Kristen untuk memenuhi kewajibannya sebagai warga negara seperti yang termaktub dalam Surat Roma. 13:1-7 dan Surat 1 Petrus. 2:11-17.”

“Kita bersyukur, tahun 2020 negara kita merayakan 75 tahun kemerdekaan. Sejak tahun 1945 selalu ada partisipasi aktif para pengikut Kristus di Republik ini dalam kabinet, misalnya Johannes Leimena, Ignatius Joseph Kasimo, Hering Laoh, Martinus Putuhena, Koesnan, Frans Seda, Radius Prawiro, dan yang lainnya, mereka semua Pancasilais,” kata Horas.

See also  Presiden Jokowi Dorong Reformasi Lembaga Keuangan Nonbank

Ia menyambung, “Bahkan sejak sebelum Proklamasi Kemerdekaan, ada anak-anak Tuhan yang terlibat aktif di dalam membangun masyarakat secara signifikan dan menjadi teladan dalam mengemban Mandat Injil dan Mandat Budaya, sebut saja Albertus Soegijapranata dan Todung Sutan Gunung Mulia.”

“Beberapa intelektual Kristen bahkan terlibat aktif dalam Panitia Persiapan Undang-undang Dasar, misalnya: Sam Ratu Langie, Johannes Latuharhary, Yap Tjwan Bing, dan Alexander Andries Maramis. Partisipasi umat Kristiani juga nyata dalam militer, seperti Daan Mogot, Urip Sumoharjo, Slamet Rijadi, Adi Soetjipto, Jos Soedarso, T. B. Simatupang, John Lie Tjeng Tjoan, Tjilik Riwoet, D. I. Panjaitan, Piere Tendean, Karel S. Tubun, Benny Moerdani, dan lainnya,” kata Horas.

“Menjelang Natal 2019, Tahun Baru 2020, dan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun depan, kita sekali lagi diundang untuk merenungkan lagi partisipasi kita dalam membangun negeri dan bersinergi dengan anak-anak bangsa lainnya demi merawat bagi Ibu Pertiwi. Ada nilai-nilai Pancasila yang perlu kita amalkan dengan lebih serius,” kata mantan Treasury Manajer Bank Mandiri dan Tenaga Ahli DPR RI itu.

“Sebagai pengikut Kritus, apa yang kita bagikan bagi masyarakat Indonesia? Sudahkah kita berpartisipasi dalam membangun bangsa ini? Kita di sini juga yakin bahwa kewarganegaraan kita bukan hanya sebagai warga Kerajaan Surga saja, tetapi juga sebagai warga negara Indonesia. Kita seutuhnya Kristen, seutuhnya Indonesia,” pungkas Horas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *