Joshua B. Tewuh : Christian Watch Hadir Menjaga dan Mengawal Kekristenan

Jakarta, chronosdaily.com – Tidak tegasnya pemerintah meresponi aksi kekerasan dan menjurus anarkis kelompok-kelompok intoleran, memunculkan pergerakan kelompok toleran mengorganisir dan membentengi diri sebagai bentuk perlawanan. Data sementara 10 tahun terakhir mencatat setidaknya ada 200 tempat ibadah, dalam hal ini gereja mengalami penolakan bahkan penyegelan. Belum lagi provokasi disebarnya spanduk-spanduk melarang umat beragama tertentu mendirikan tempat ibadah.

Data Setara Institute juga menunjukkan sejak tahun 2007 hingga 2018 saja, terdapat 199 kasus gangguan beribadah pada uma Kristiani . Bentuk gangguan itu, antara lain mencakup penyegelan gereja hingga intimidasi masyarakat.  Setara Institute mengatakan jika regulasi mengenai pendirian rumah ibadah tidak direvisi, peristiwa seperti itu akan terus berulang. Dan sepertinya, diujung masa jabatan pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla tidak serius menangani aspirasi minoritas.

Prof. Dr. Hj. Siti Musdah Mulia, MA, salah satu tim pemenangan Jokowi-JK saat itu pernah menyampaikan, bahwa pihaknya menjanjikan menghapus semua regulasi yang dinilai melanggar hak asasi manusia (HAM).  Salah satu yang akan dihapus adalah Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadah. “Peraturan soal pendirian rumah ibadah itu akan dihapus. Aturannya menyulitkan kaum minoritas,” ujar Hj. Siti Musdah Mulia pada diskusi Masa Depan Kebebasan Beragama dan Kelompok Minoritas di Indonesia.

Untuk meresponi gangguan intoleransi di Indonesia, Joshua B. Tewuh merasa perlu untuk membentengi Kekristenan dan warga gereja terhadap perlakuan diskriminatif. “Secara internal warga Kristiani perlu mengaplikasikan Pancasila dengan benar, dan secara eksternal kami merasa perlu memberikan perlawanan doktrinal terhadap mereka yang melanggar kesepakatan konstitus dalam bingkai  berbangsa dan bernegara.”.

Kepada Chronosdaily, Joshua B. Tewuh menegaskan, “Kami tidak melawan tindakan anarkis dengan membalas anarkis, atau kekerasan dibalas dengan kekerasan. Tetapi kami tidak akan pernah takut dengan segala ancaman dan tindakan intoleran.”

Oleh sebab itu Christian Watch dideklarasikan ke publik, meski telah berkiprah sejak 20 tahun lalu dan kini bernaung dalam Yayasan Jaga Kawal Kekristenan Indonesia (JK2I), “Christian Watch adalah implemetasi “Pelayanan Apologetika” dalam bingkai Ormas (Organisasi Kemasyarakatan) atau LSM (Lembaga Sosial Kemasyarakatan) – yang berbadan hukum – terpanggil untuk memberikan penjagaan dan pengawalan serta pembelaan dan pengawasan kekristenan multi dimensial di Indonesia.”

Masih menurut Joshua B. Tewuh selaku penggagas dan pendiri Christian Watch menyatakan: “Sebagai Lembaga Ke-Umatan yang diminta untuk menjadi mitra pemerintah; Dirjen Bimas Kristen, dalam mengurusi Gereja & Aras Gereja Nasional dan PTKKI serta Yayasan & Perkumpulan Umat Tuhan yang bermasalah, serta menjadi Pusat Pengaduan Orang Kristen dalam menghadapi masalah yang berkenaan dengan hak-hak kekristenannya yang terancam terzalimi, baik oleh institusi masyarakat yang intoleran maupun oleh oknum-oknum pemerintah yang diskriminatif, untuk diperjuangkan oleh CW.”

Harapan dan upaya tim advokasi Christian Watch, tetap terkonsentrasi supaya SK2M dapat dicabut dan strukturisasi perwakilan umat kristen di Kanwil Keagamaan diseluruh Indonesia dapat dibangun dan dikembangkan secara adil, serta pendistribusian Guru Guru Agama Kristen di sekolah sekolah negeri dan Dosen Dosen Mata Kuliah Agama Kristen ditingkatkan secara merata, adil dan memenuhi prinsip kesetaraan fungsional dengan yang lainnya.” Jelas Joshua B. Tewuh. [Roman]

chronosdaily

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *