Hindari Penipuan, Direktur Eksekutif APBN: Masyarakat Perlu Berpikir Logis dan Kritis

Jakarta, chronosdaily.com – Banyaknya fenomena penipuan berkedok investasi maupun munculnya kerajaan-kerajaan fiktif di Tanah Air mendorong Direktur Eksekutif Akademi Pancasila dan Bela Negara, Tigo Mulo Horas Sinaga mendorong masyarakat berpikir logis dan kritis. “Berpikir secara logis adalah suatu proses berpikir dengan menggunakan logika, rasional dan masuk akal. Logika itu mengkaji pemikiran. Dengan berpikir logis, kita akan mampu membedakan dan mengkritisi kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita. Masyarakat wajib mampu berpikir kritis sehingga bisa mengolah fenomena-fenomena yang diterima oleh indera kita hingga dapat memunculkan berbagai pertanyaan untuk dicari jawabannya,” kata Horas, Senin (20/1/2020).

Sementara berpikir kritis, menurut Horas, adalah kemampuan berpendapat secara terorganisir. Berpikir kritis mendorong kita menganalisis suatu gagasan atau ide menjadi lebih spesifik dan berakhir pada suatu kesimpulan. Di dalam proses tersebut, kita menilai secara tajam, berpikir secara cermat, memilih yang terbaik, mengindentifikasi, serta mengevaluasi dan mengembangkan suatu ide. “Jika kita mampu berpikir kritis, maka akan lebih prudens atau hati-hati mengambil keputusan, tidak mudah tertipu, bahkan bisa menganalisis suatu fenomena secara lmiah. Tidak mudah ditipu dengan kedok investasi apa pun,” kata Horas.

See also  Alami Kekerasan Berat Saat Unjuk Rasa, Mahasiswa Unkris Datangi Propam Polda

Marak dijumpai perusahaan yang terindikasi investasi bodong menawarkan imbal hasil yang sangat tinggi, bahkan ada yang menjanjikan keuntungan 5% sehari. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada perusahaan yang menawarkan bunga menggiurkan hingga 30% per bulan, dan 60% setahun.

Direktur APBN Tigor Mulo Horas Sinaga

“Jika kita berpikir logis dan kritis, maka kita otomatis akan membandingkan keuntungan investasi yang ditawarkan satu perusahaan dengan produk investasi legal lain dan mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi. Misalnya, kita bisa mencari tahu yield tertinggi produk investasi saham, reksadana campuran, atau bunga produk deposito dan tabungan. Jika yield tertinggi investasi saham saja tidak lebih dari 30% setahun, apa iya sebuah perusahaan atau lembaga baru mampu memberikan keuntungan hingga 60% setahun?” ujar Horas.

Mantan Treasury Manager Bank Mandiri itu mengatakan, produk investasi yang benar pasti disertai penjelasan panjang tentang pengelolaan dana dan kemungkinan resiko yang terkandung. Investor bisa tahu ke mana dananya pergi dan bagaimana cara menghasilkan keuntungan.

See also  Wakil Ketua LEK Syariah Republik Indonesia Jerry Lumelle dan Himbauannya Terkait Virus Corona

“Penjelasan pengelolaan dana ini kan cukup panjang, sehingga investor harus meluangkan waktu untuk mempelajari dan mencernanya. Jadi, kalau mendapat penawaran investasi tanpa penjelasan pengelolaan keuangan yang lengkap, maka kita wajib curiga ada penipuan investasi bodong,” kata Horas.

Ia mendorong masyarakat atau calon investor mengajukan pertanyaan detil terkait pengelolaan dana. Jika orang yang menawarkan investasi terus berdalih dan mengalihkan pembicaraan pada keuntungan saja, maka investasi itu patut dicurigai sebagai praktik penipuan.

Berpikir logis dan kritis memampukan kita mendeteksi modus penipuan dalam banyak aspek di tengah masyarakat, termasuk munculnya beragam kerajaan abal-abal yang menyita pemberitaan di Tanah Air akhir-akhir ini.

“Berpikir logis dan kritis menggelisahkan kita untuk bertanya detil, apakah produk yang ditawarkan pada kita masuk akal atau tidak. Jangn tergiur keuntungan, berpikirlah secara logis dan kritis, agar tidak mudah tertipu,” pungkas Horas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *