Emrus Sihombing : Debat Publik HS Versus RG Jauh dari Mendidik

Tangerang, chronosdaily.com – Baru-baru ini kita disungguhkan sebuah debat yang belum mengindahkan unsur pendidikan di ruang publik. Perdebatan yang seharusnya mengurai dan menemukan solusi terkait efektivitas penggunaan influencer dalam mensosialisasikan sebuah ide, gagasan atau program dari pemerintah. Namun muncul perdebatan kurang elegan, kurang asertif, kurang produktif dan sama sekali tidak solutif.

Sangat disayangkan hal tersebut terjadi. Padahal, kedua debater sudah dikenal publik dan dari dua perguruan tinggi yang berbeda dan ternama di Indonesia. Dua debater itu, HS versus RG. Salah satu link Youtube yang memuat perdebatan mereka dapat diakses pada link yang tersedia di bawah ini.

Di satu sisi, pada debat tersebut HS mengemukakan antara lain bahwa dirinya seorang profeseor benaran dan menyebut RG pakai teori-teori yang kadang-kadang di kampusnya sudah ketiggalan. Jadi, ada dua diksi utama yaitu “professor” dan “ketinggalan”.

Dalam suatu debat, apalagi dilakukan berlatarbelakang akademisi, ketika debat berlangsung harus fokus pada pada pandangan, ide, gagasan yang terkait dengan tema yang dibahas untuk menemukan solusi atau setidaknya titik awal menemukan formula pemecahan masalah yang terkait dengan tema.

Karena itu, dalam suatu perdebatan, sejatinya mengesampingkan semua pengaruh status yang dimilik para debater. Gelar, tingkat pendidikan, status sosial dan lain sebagainya harus “dilepas” pada saat sedang berlangsung perdebatan. Mengapa?

Bisa saja memang pandangan seorang profesor lebih valid dan solutif dari yang bukan profesor. Tetapi juga harus dibuka peluang bahwa bisa saja pandangan dari sosok yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal lebih produktif dan etis didengar tentang sesuatu hal ndaripada seorang profesor. Jadi, jabatan akademik, tingkat pendidikan dan status sosial tertentu tidak jaminan pandangannya selalu lebih akademik, elegan, asertif solutif. Jadi, jangan sampai penyebutan gelar akademik oleh dirinya sendiri sebagai kesombongan akademik atau “gaga-gahan”.

Kemudian, diksi “ketinggalan” yang mengikuti sebutan “teori”, seperti ungkapan ‘teori yang sudah ketinggalan’. Sebab, makna penggunaan kata sifat “ketinggalan” masih sumir. Kriterianya kurang jelas. Banyak teori ditemukan sudah cukup lama tetapi masih relevan untuk memahami dan menjelaskan fenomena kekinian sebagai fungsi teori.

Bahkan banyak teori yang sudah “berumur” lama merupakan “payung” dari sebuah temuan teori yang muncul belakangan. Nah oleh karena itu, dalam suatu perdebatan jangan sekali-kali berpendapat bahwa sebuah teori itu sudah ketinggalan atau tidak. Namun yang sangat penting diperbincangkan, sejauhmana fungsi teori itu masih valid memprediksi suatu fenomena, memahami suatu fenomena, menjelaskan suatu fenomena dan melakukan perubahan sosial yang lebih menghadirkan keberadaban di tengah masyarakat.

Di sisi lain, RG mengemukakan, mudah-mudahan “otakmu besar” pula. Hal tersebut ditujukan ke lawan debatnya, tidak lain kepada HS yang mengaku guru besar benaran. Diksi “otakmu besar”, selain tidak relevan disampaikan terkait dengan tema yang dibahas, tetapi juga tidak mendidik dikemukakan di ruang publik. Sangat disayangkan.

Sebab, kebalikan dari “otakmu besar” adalah “otakmu kecil”. Jadi dengan mengatakan, mudah-mudahan “otakmu besar”, bisa dimaknai bahwa, RG ingin menyampaikan bahwa lawan debatnya, HS pada posisi kemungkinan masih memiliki “otakmu kecil” sekalipun sudah profesor.

Padangan RG ini sangat tidak direkomendasikan dalam sebuah debat publik. Sebab, ucapan RC tersebut, memposisikan lawan debat seolah tidak setara antara para peserta debat. Tidak boleh menyebut status sesorang untuk tujuan “menyerang” dalam suatu perdebatan. Sejatinya, RG fokus mengurai, mengkritik dan membongkar gagasan, ide dan atau pendapat dari HS. Lebih baik lagi jika disertai dengan memberikan solusi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*