Duri Diskriminasi Menjelang 75 Tahun Kemerdekaan RI

Jakarta, chronosdaily.com – Tahun 2020 merupakan tahun istimewa bagi Indonesia, sebab negara ini merayakan 75 tahun kemerdekaannya. Namun, memasuki 75 tahun kemerdekaannya, bangsa ini masih diciderai praktik diskriminasi agama.

Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kota Yogyakarta menciderai kerukunan umat beragama oleh ulah salah seorang peserta kursus pembina pramuka mahir tingkat lanjutan (KML) dengan mengajarkan tepuk tangan dan yel-yel “Islam Islam yes, Kafir Kafir No” di SDN Timuran pekan lalu.

Sekalipun Kwarcab Pramuka Yogyakarta langsung meminta maaf hari itu juga, namun peristiwa itu menunjukkan adanya benih-benih diskriminasi agama di dalam tubuh Pramuka Indonesia. Hal ini dianggap sebuah bahaya laten oleh pengamat.

Direktur Eksekutif Akademi Pancasila dan Bela Negara (APBN), Tigor Mulo Horas Sinaga mengatakan, “Kasus yel-yel di giat Pramuka jelas menciderai semangat kebinekaan dan kerukunan anak bangsa. Yang mengajarkan jelas berpikiran sempit dan bertindak provokatif, baik dia sadar atau tidak, yel-yel itu berbau SARA.” Jakarta (15/1/2020).

Tigor Mulo Horas Sinaga

Horas menyayangkan insiden itu, apa lagi yel-yel berbau SARA itu diajarkan seorang pembina Pramuka. Ia mendorong pihak yang berwenang menindak oknum pembina Pramuka itu dan mengambil langkah preventif agar peristiwa serupa tak terjadi lagi di kemudian hari.

See also  Pernyataan Presiden tentang Revisi UU KPK Istana Negara, 13 September 2019

“Bayangkan jika yel-yel itu menyebutkan agama tertentu ‘yes’ dan semua yang di luar agama tertentu itu kafir, termasuk Islam, pasti kaum Muslim tersinggung. Nah itu yang tak dipikir oleh pemberi aba-aba yel-yel di SDN Timuran. Dia beragama tapi tidak memiliki empati, miskin rasa, dan tidak memiliki ‘tepa selira’ kalau orang Jawa bilang,” tegas Horas.

Ia menyatakan, di Indonesia tidak ada orang kafir karena semua orang di Indonesia beragama. Termasuk para penganut aliran kepercayaan seperti kejawen dan kebatinan pun memiliki iman menurut ajarannya sendiri-sendiri. Mereka bukan kafir.

“Tidak ada orang kafir di Indonesia, semua punya agama kok, semua percaya Tuhan. Jangan lagi ada kalimat-kalimat provokatif seperti itu di ruang publik. Sayang ada oknum pembina Pramuka yang berbuat sepicik itu. Pramuka harus bersih dari para pelaku diskriminasi agama seperti ini. Polisi juga perlu memproses secara hukum,” ujar Horas.

Intoleransi Menjelang 75 Tahun Kemerdekaan RI

Pemerhati politik dan intelijen itu juga mengatakan, walau memasuki perayaan 75 tahun kemerdekaan RI tetapi masih ada pihak-pihak yang menyuarakan seruan intoleransi berbau agama, maka ia menyebut orang-orang itu “katrok.”

“Katrok itu menggambarkan sikap tidak mau belajar, sehingga ketinggalan zaman. Orang katrok itu ketinggalan kereta perubahan. Sekarang sudah bukan zamannya lagi melakukan diskriminasi agama. Kalau masih ada yang melakukannya, dia orang katrok yang akan terus ketinggalan kereta peradaban,” kata Horas.

See also  Penyokong KLB Terus Berulah, BMI Pasang Badan Hadapi Pemecah Belah Partai Demokrat

Ia menambahkan, “Kita saat ini sudah tidak hidup di bawah pemerintahan kolonial, hari ini status kita sebagai orang merdeka, bukan orang jajahan. Maka, bebaskanlah mental kita dari penjajahan fanatisme agama yang sempit. Bebaskanlah mental kita dari semangat sektarian eksklusif. Negara kita bhineka tunggal ika.”

Horas pada saat yang sama menyerukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim agar bertindak cepat merespons situasi ini. Ia melihat pembenahan mental di antara anak sekolah adalah ranah Kemendikbud. Pelaku yel-yel diskriminasi agama di Yogya adalah anak-anak sekolah.

Tigor Mulo Horas Sinaga
chronosdaily

“Kami mendorong Mentri Nadiem untuk membenahi situasi ini. Tolong benahi pendidikan moral Pancasila di sekolah-sekolah kita. Tidak ada seorang pun yang mau agamanya dihina. Oleh sebab itu kita harus kembangkan sikap ‘tepa selira’ dan ini tugas Kemendikbud untuk membenahi sistem pendidikan moral Pancasila di sekolah kita,” desak Horas.

Direktur Eksekutif APBN yang juga Sekjen Generasi Optimis Indonesia itu mengatakan, “Seharusnya kita bersyukur kepada Tuhan karena telah memerdekaan negara kita melalui kegigihan founding fathers dan para pejuang kemerdekaan yang berjuang baik melalui diplomasi maupun pertempuran fisik di palagan perang. Indonesia berdiri karena kesepakatan anak-anak bangsa yang terdiri dari beragam suku, agama, dan ras. Jadi Indonesia miliki semua rakyat apa pun agamanya. Jangan sakiti Republik ini dengan duri diskriminasi agama!”

See also  Mensos Tri Rismaharini Resmikan Sentra Kreasi Atensi (SKA) Kartini

“Saya sepakat dengan seorang filsuf yang mengatakan, kemerdekaan tidak lain adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik. Nah, dalam konteks negara kita, merespons kemerdekaan Indonesia tak lain adalah dengan berikhtiar menjadi manusia dan warga negara yang lebih baik. Yaitu dengan menghormati antarpemeluk agama,” imbuhnya.

“Sebagai warga negara Indonesia, kita memang berada dalam realitas yang tak terelakkan, yaitu hidup bersama dalam kemajemukan suku, agama, dan ras. Suatu kebinekaan yang membuat Indonesia menjadi negara yang unik. Sebagai manusia beradab yang lahir dan tinggal di tengah warna masyarakat yang seperti itu, kita diundang untuk hidup sebagai teladan dan berelasi harmonis dengan semua orang, apa pun suku, agama, dan rasnya,” pungkas Horas.

#Pramuka
#Bhineka Tunggal Ika
#Pendidikan Moral Pancasila
#Nadiem #Horas Sinaga

Cp.: Tigor Mulo Horas Sinaga – 0812.8669.9191.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *