Dr. Julianto Simanjuntak : Memulihkan Trauma Di Masa Corona

Coba Anda membayangkan sebuah dunia, dimana tidak ada penderitaan, tidak ada sakit gigi, tidak perlu bayar pajak, atau tidak ada kemacetan lalu lintas.

Juga membayangkan sebuah dunia di mana setiap orang memiliki segalanya: cuaca yang nyaman, keluarga yang sempurna, anak yang baik, kesehatan dan keberhasilan yang sempurna. Apa sih rasanya? Hambar!

Seorang bijak mengatakan, kebahagiaan sejati justru perpaduan pengalaman antara kesenangan dan kesusahan.

Physical Distancing

Satu hal yang paling mendera rasa dan karya manusia selama pandemi adalah seruan menjaga jarak, atau physical distancing, demi menjaga diri dari penularan virus corona. Berat menjalani hari-hari hanya di rumah saja.

Hal ini paling terasa bagi pekerja atau buruh harian, seperti ojek online (ojol). Demikian juga pengusaha ketika harus merumahkan karyawan, tak terkecuali pimpinan agama atau pendeta. Pada awalnya, ditiadakannya ibadah membuat resah sebagian mereka.

Ada lima tahapan yang umumnya dirasakan banyak orang di era menjaga jarak satu sama lain, minimal satu atau dua meter.

1. Menyangkal. Banyak yang mengira itu hoax atau mengada-ada, tidak masuk akal atau berlebihan. Mereka berpikir paling wabah ini hanya satu dua hari saja. Atau hanya ada di rumah sakit saja.

2. Tawar Menawar. Sebagian anak tetap ngotot keluar rumah dan berkata sama orang tuanya, “Aku akan jaga diri baik-baik. Aku bisa kok ekstra hati-hati.”
Atau, “Aku biasa kok ke tempat itu, aku sudah sering ke sana.”
“Aku cuma sekali dua kali saja kok gak terus menerus.”

3. Marah. Pada kondisi ini mulai ada perasaan marah dan bosan, “Ini sangat tidak adil, melarang kami pergi atau bekerja”.
Pedagang berkata, ”Wah saya rugi terus kalau gak boleh jualan.”
Sebagian pemimpin gereja malah lebih ketus, “Ini tanda kita kehilangan iman, harusnya kita lebih takut Tuhan daripada virus.”

4. Depresi. Setelah tahap satu sampai tiga terjadi beberapa kali, tibalah masa tertekan. “Wah saya susah nih gak bisa ketemu anak saya, teman-temanku juga. Aku merindukan mereka.”
“Payah kalau begini terus-menerus, kapan nih kembali ke normal?”
“Wah ini merusak semua kesenanganku.”

5. Menerima. Pada tahap ini setelah depresi dan frustrasi, orang mulai menerima kenyataan. Mulai ada kalimat, “Ya sudahlah mau bilang apa. Aku harus menerima. Aku gak bisa ubah keadaan. Aku perlu berdamai dengan situasi. Aku gak bisa stres terus-menerus. Ini mungkin cobaan. Aku juga gak sendiri. Aku perlu sayang sama diriku sendiri.”

See also  Tanpa Pengelolaan Komunikasi yang Baik, Sulit Menangani Kasus Covid-19

Trauma, Bukan Hanya Salah Anda

Apa yang terjadi saat ini bukan salahmu atau siapapun. Ya Anda ataupun saya, bukanlah penyebab tunggal masalah kita saat ini. Ada pola asuh yang buruk, lingkungan dan pengalaman yang buruk. Ya, kualitas cinta yang buruk di masa lalu.

Ini juga bukan sesuatu yang kita minta, atau pantas kita alami. Situasi pandemi saat ini memang tidak adil. Tapi Anda tidak sendirian depresi, sakit, takut, bangkrut atau rugi, dan kehilangan. Ini bukan hanya milik kita, yang lain juga kena. Seluruh dunia, 200 negara.

Kita semua mengalami trauma di masa pandemi ini. Merasakan dampak dari penyebaran virus, akibat kecerobohan orang yang tidak melindungi diri lalu dekat dan bersentuhan dengan Anda atau keluarga. Lalu ada yang terjangkit virus, sakit atau meninggal dunia.

Sebagian trauma itu sulit rasanya disembuhkan. Butuh waktu. Kesedihan masih menggelayut, penyesalan seolah nyangkut di perasaan anda. Ini semua perlu diolah, jika maka keadaan bisa bertambah sulit. Apalagi jika sebelumnya anda punya riwayat depresi, cemas atau luka batin yang belum sembuh.

Namun yang tidak dapat kita lupakan atau sulit kita terima, adalah ketika kita tidak bersalah, kita atau keluarga kita ikutan sakit akibat tertular. Kita di-PHK karena keputusan perusahaan, tapi penyembuhan emosi malah menjadi tanggung jawab kita.

Tapi daripada melihat masalahmu sebagai beban, belajarlah melihatnya sebagai hadiah langka dan istimewa. Ini kesempatan kita untuk bertumbuh dan berubah.

Saya memahami penderitaan itu sebagai salah satu cara Tuhan untuk mendapatkan perhatian kita. Kesulitan di masa pandemi ini seperti mikrofon Ilahi untuk menyadarkan telinga manusia yang selama ini tuli.

Masalah hidup seperti depresi, kecemasan, kehilangan dan ketakutan menjadi ALARM ILAHI yang membuat kita sadar akan keterbatasan kita, dan Tuhan mau berbicara. Ya, secara pribadi. Undangannyapun jelas, “marilah kepadaku hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat”

See also  Azas Tigor Nainggolan : Kesombongan Seorang Anies Baswedan

C. S. Lewis pernah berkata, “Tuhan berbisik saat kita senang, berbicara pelan ke dalam hati nurani kita, tetapi IA berteriak saat kita menderita.”

Trauma dan Tanggung Jawab Kita

Brianna Wiest, penulis I Am The Hero Of My Own memberikan beberapa prinsip yang baik, tentang tanggungjawab manusia menyelesaikan masalah dan traumanya. Untuk pemulihan klien di ruang Konseling saya selalu menegaskan, untuk pulih ada bagian kita ada bagian Tuhan. Saya menjelaskan apa yang menjadi bagian kita:

1.
Penyembuhan adalah tanggung jawab kita karena rasa sakit yang tidak diolah akan keciprat ke semua orang yang tidak bersalah di sekitar kita. Kita malah berubah dari korban menjadi pelaku, membuat orang lain ikut susah. Kita mudah marah, menyumpah serapah atau menyalahkan orang lain. Itu hanya menambah beban Anda.

2.
Penyembuhan menjadi tanggung jawab kita karena kita hanya memiliki satu kali kesempatan hidup, dan kita perlu menjalaninya sebagai orang yang berguna dan bahagia. Jangan habiskan energi hanya untuk menyesali dan menyalahkan orang lain. Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan dengan banyak penyesalan. Tenang, diam sambil bersyukur akan memperingan beban perasaan, meski tidak menghilangkan masalah.

3.
Pemulihan menjadi tanggung jawab kita karena jika kita berharap atau menunggu orang lain memulihkan kita, itu tidak akan pernah terjadi. Malah hidup kita akan bertambah sakit dan pahit. Jangan menunggu mereka yang bersalah meminta maaf, mengurangi atau menghilangkan rasa sakit itu. Jangan! Hanya kita yang bisa memulihkannya. Belajarlah melakukan self care, self talk & self love. Kita perlu trampil mengasihi diri sendiri. Tidak ada yang abadi atau yang mampu secara konsisten mengasihi kita, kecuali diri sendiri. Andalah orang yang terbaik yang cakap merawat kebutuhan emosi sehari-hari. Belajarlah mandiri mencintai, perhatian orang lain hanya bonus. Caranya, menikmati hobi: membaca, bermain atau mendengarkan musik, atau lainnya. Membangun ulang bonding yang hilang dengan keluarga selama masa physical distancing di rumah. Saat sibuk mungkin ini tidak sempat kita lakukan. Memperhatikan dan merawat orang lain dari dekat maupun jauh. Bisa dengan chat, telp, videocall atau mengirimkan bantuan makanan atau lainnya.

4.
Pemulihan menjadi tanggung jawab kita karena kita memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri kita sendiri. Pencobaan-pencobaan yang kita alami umumnya tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

See also  KP Norman Hadinegoro: Tradisi Persembahan Selalu Diganggu Pendatang Baru

5.
Pemulihan adalah tanggung jawab kita karena saat kita merasa tidak nyaman dan menderita, itu menjadi tanda hidup kita berubah, bertumbuh dan menjadi lebih dinamis justru karena masalah. Iman dan otot emosi kita lebih kuat.

6.
Penyembuhan adalah tanggung jawab kita, karena setiap orang hebat yang kita kagumi justru lahir dari penderitaan yang hebat. Kekuatan batin mereka lahir dari pengalaman buruk. “Tanpa masalah, dunia ini terasa hambar dan tidak akan muncul penemuan dan orang-orang besar.” Demikian diungkapkan Yohanes Surya, sahabat kami dalam endorsemen di buku kami.

7.
Penyembuhan adalah tanggung jawab kita karena pengalaman buruk dan traumatis membuat anda tidak pernah sama seperti sebelumnya. Anda menjadi lebih kuat, bijaksana, berani dan lebih baik. Anda mampu melangkah lebih jauh. Lebih cakap menangani masalah dan tahan menderita. Lebih berani mengambil risiko, dan berpikiran lebih luas, yang tidak pernah kita bayangkan bisa kita lewati. Tentu, semua bisa kita lewati berkat anugerah-Nya.

PENUTUP

Di masa pandemi kita semua kena imbasnya. Stres, trauma, depresi atau cemas menjadi gejala umum menimpa masyarakat. Tapi Anda tidak sendiri.

Kehidupan memang akan menyakiti kita dengan cara yang berbeda, tetapi bagaimana kita merespons itulah yang menentukan apakah trauma menjadi tragedi, atau awal cerita tentang bagaimana si korban menjadi pahlawan.

Keputusan dan respons yang sehat bertanggungjawab akan membuat kita menjadi pemenang. Jika sudah terinfeksi kuatkanlah hati. Di dalam lembah kekelaman Anda tidak sendiri, Tuhan menghitung air mata kesedihan kita. Menghitung detak jantung ketakutan kita, dan bersedia menjadi teman bicara kapan saja. Sebab Anda dan saya dikasihi seperti biji matanya sendiri. Hanya saja, kuatkan dan teguhkan hati.

 

Dr. Julianto Simanjuntak
Catatan Harian 29-3-2020
LEMBAGA KONSELING KELUARGA KREATIF (LK3)
“Selalu ada harapan”

Leave a Reply

Your email address will not be published.