Dihantam Gempa, Masyarakat Maluku Butuh Pertolongan Cepat

Maluku, chronosdaily.com – Maluku dihantam gempa bumi. Hingga Minggu malam (29/09/2019), gempa kembali menghantam Provinsi Seribu Pulau itu. Masyarakat Maluku membutuhkan bantuan dan pertolongan cepat. Rumah-rumah warga mengalami rusak parah. Warga mengungsi dan mendirikan tenda-tenda darurat untuk bernaung. Jalanan beraspal terbelah.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD GAMKI) Maluku, Johan Rahantoknam menyampaikan, bantuan berupa makanan dan pakaian, serta tenda-tenda dan obat-obatan sangat urgen bagi masyarakat korban gempa di Maluku. “Dampak gempa di Maluku menimbulkan kerusakan parah. Jalan-jalan dan rumah-rumah mengalami rusak parah,” tutur Johan Rahantoknam, Minggu (29/09/2019).

Dia mengatakan, masyarakat berupaya memberikan bantuan kepada warga korban gempa Maluku. DPD GAMKI Maluku, menyusuri para pengungsi di Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai sebagian lokasi terparah karena dampak gempa. “DPD GAMKI Maluku memberikan bantuan. Masyarakat korban sangat membutuhkan bantuan segera. GAMKI Maluku berbagi kasih dengan membagikan  sembako dan kebutuhan-kebutuhan dasar yang bisa dibagikan kepada para pengungsi di Way,” tutur Johan Rahantoknam. Dia juga mengingatkan, sembari menunggu bantuan dari pemerintah dan instansi-instansi, warga diharapkan tetap waspada. Karena gempa susulan masih terjadi.

Pada Minggu pagi (29/09/2019), pukul 09.14 WIT, telah terjadi lagi gempa di Maluku. Gempa dengan M 3,3 (Magnitudo 3,3) itu kembali menghajar Ambon. Namun gempa tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Situs resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyebutkan, gempa pagi itu berpusat di darat, 24 kilometer Timur Laut Ambon. Gempa berlokasi di titik koordinat 3,60 Lintang Selatan (LS) dan 128,35 Bujur Timur (BT). Gempa tersebut memiliki kedalaman 10 kilometer.

Gempa dirasakan dalam skala III MMI hingga Talehu, Ambon. Skala III MMI artinya getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu. Sedangkan gempa magnitudo 6,5 atau M 6,5 telah terjadi pada Kamis, 26 September 2019, pukul 06:46:45 WIT. Gempa tersebut terjadi pada 40 kilometer Timur Laut Ambon , Maluku dengan kedalaman 10 kilometer.

Akibat gempa M 6,5 ini, hingga Minggu (29/09/2019), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku mencatat, terdapat sebanyak 2.675 rumah mengalami kerusakan kibat gempa. Dari jumlah tersebut, 852 di antaranya mengalami rusak berat. Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo dalam keterangan tertulisnya, Minggu (29/9/2019).

Kerusakan rumah tertinggi berada di Kabupaten Maluku Tengah, dengan rincian sebagai berikut, Maluku Tengah rusak berat (RB) 658 unit, rusak sedang (RS) 385, rusak ringan (RR) 888; Kabupaten Seram Bagian Barat RB 109, RS 163 dan RR 31 dan Kota Ambon RB 85, RS 135 dan RR 221. Sedangkan kerusakan di sektor lain, fasilitas umum dan sosial sebanyak 87 unit.

“Dampak lain berupa pengungsian yang masih terjadi hingga kini. Sebagian masyarakat masih enggan untuk kembali ke rumah karena khawatir dengan gempa susulan,” ujarnya. Agus menuturkan, BPBD Provinsi Maluku mencatat total penyintas berjumlah 247.239 jiwa, dengan rincian Kabupaten Seram Bagian Barat 111.434 jiwa, Maluku Tengah 108.000 jiwa dan Kota Ambon 27.805.

Sementara itu, korban luka-luka di Maluku Tengah berjumlah 114 jiwa, Seram Bagian Barat 30 dan Kota Ambon 22. Di Kabupaten Seram Bagian Barat, 12 orang mengalami luka berat dan sisanya luka ringan. “Jumlah korban meninggal bertambah 2 orang sehingga total meninggal hingga malam ini berjumlah 30 jiwa,” ujarnya.

Hingga kini, ketiga wilayah terdampak telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi. Masing-masing wilayah menetapkan masa khusus tersebut selama 14 hari terhitung dari 26 September 2019 hingga 9 Oktober 2019.

Di wilayah Kota Ambon, 5 kecamatan terdampak yaitu Kecamatan Nusaniwe, Sirimau, Baguala, Teluk ambon, Leitimur Selatan. Penyintas tertinggi berada di Kecamatan Baguala. Sedangkan di Maluku Tengah, kecamatan terdampak yaitu 3 kecamatan, Salahutu, Pulau Haruku dan Leihitu. Sementara itu, di Seram Bagian Barat, 5 kecamatan terdampak di Kairatu, Seram Barat, Inamosol, Amaratu dan Kairatu Barat.

Pemerintah daerah dibantu TNI, Polri, BNPB dan berbagai pihak masih terus melakukan upaya penanganan darurat. Salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adanya banyak isu atau berita palsu (hoax) terkait akan datang gempa besar dalam waktu dekat.

Warga masih percaya hoax tersebut sehingga mereka mengungsi ke bukit secara tersebar dan sulit dijangkau petugas. Di samping itu, hujan yang turun menyebabkan kondisi kesehatan sebagai salah satu prioritas penanganan. Terkait dengan hoax, BNPB, BMKG dan pemerintah setempat melakukan upaya menangkal hoax yang beredar di media sosial. BMKG telah menyatakan bahwa isu akan terjadi gempa besar dan tsunami di Ambon, Teluk Piru, dan Saparua adalah tidak benar atau berita bohong, karena hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempabumi dengan tepat, dan akurat kapan, dimana dan berapa kekuatannya.

Sementara, hingga Minggu pagi (29/09/2019), korban meninggal dunia akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,5 yang berpusat di Kota Ambon, Provinsi Maluku, bertambah menjadi 30 orang. Yang mengalami luka-luka tercatat 156 orang. “Berdasar laporan BPBD Provinsi Maluku tanggal 29 September 2019 pukul 07.00 WIT, jumlah korban meninggal dunia sebanyak 30 orang dan luka-luka 156 orang,” ujar Agus Wibowo.

Berdasarkan rincian yang didapat dari BPBD Maluku, korban tewas tercatat paling banyak di Kabupaten Maluku Tengah dengan total 14 orang. Sementara korban luka-luka di Maluku Tengah dengan 108 orang. Berikut ini nama-nama korban tewas di Kabupaten Maluku Tengah, Ambon, dan Seram Bagian Barat:

Kabupaten Maluku Tengah:

1. Hamid Waitawa. 2. Aisa Maruapey. 3. La Nai. 4. Tine Tuasela. 5. Minggus Souhoka. 6. Sami Kadidu. 7. Halima Samuel. 8. Wa Ona. 9. Hasam Laisow. 10. Hamid Laisow. 11. La Ode Ana Gani. 12. Mansur Marasabessy. 13. Nabir Bugis. 14. Salbia Olong.

Kota Ambon:

1. John Nanlohy (balita). 2. Mateis Pieter Frans. 3. Hi Kebo. 4. Ny Narti Rumain. 5. Frans Massi. 6. Nn Messy Lethora. 7. Ashana Maimuna (balita). 8. Ny Jahia. 9. M Zulkarnaen Holle. 10. Firman (balita).

Kabupaten Seram Bagian Barat:

1. Hj Samsia. 2. Johan Pelana. 3. Neles Kainama. 4. Petronela Sahetapy. 5. Karel Muster. 6. Tuniasu.

Agus mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pendataan terhadap korban gempa di sejumlah daerah tersebut. BNPB, sambung dia, bakal mengirim Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk membantu serta mendampingi BPBD Provinsi dan Kabupaten di Maluku, agar penanganan pasca-bencana gempa bumi berjalan‎ dengan baik. [Jon]

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *