Diduga Cabuli Anak Di Bawah Umur, Kades Baru Terpilih Ditangkap dan Ditahan Polisi di Tobasa

Tobasa, chronosadily.com – Seorang pria yang baru terpilih sebagai Kepala Desa (Kades) ditangkap dan ditahan oleh Polisi. Kejadiannya terjadi di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara. Kapolres Toba Samosir (Tobasa) AKBP Agus Waluyo membenarkan, proses penangkapan dan penahanan terhadap pria bernama Dongan Torang Pangaribuan berusia 48 tahun itu setelah dilakukannya proses pemeriksaan saksi-saksi dan bukti-bukti kuat.

Dijelaskan AKBP Agus Waluyo, pada hari Selasa 19 November 2019 dengan Surat Perintah Penangkapan Nomor : Sp. Kap / 97 / XI / 2019 / Reskrim, telah dilakukan Penangkapan terhadap Dongan Torang Pangaribuan. Dan sudah dilakukan serangkaian pemeriksaan.

Kemudian, pada Rabu tanggal 11 Desember 2019, dengan Surat Perintah Penahanan Nomor : Sp. Han / 77 / XII / 2019 / Reskrim, telah dilakukan Penahanan terhadap Dongan Torang Pangaribuan.

“Meskipun tersangka sempat menyatakan menolak menandatangani Surat Perintah Penahanan. Dan telah membuat Berita Acara Penolakan. Dan tersangka berada di Rutan Polres Tobasa,” tutur AKBP Agus Waluyo.

Kasus ini dilaporkan oleh Syafrida, ibu dari anak di bawah umur inisial SAH, sebagai korban pencabulan pria yang memenangi Pemilihan Kepala Desa di Desa Sitoluama, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Tobasa itu.

See also  Wujudkan Kaltim Damai dan Keutuhan NKRI

Penanganan perkara dugaan tindak Persetubuhan dan atau perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur itu berdasarkan Laporan Polisi Nomor :   LP/268/XI/2019/SU/TBS tanggal 09 November 2019.

“Kita sudah melakukan pemeriksaan 8 saksi,” ujar AKBP Agus Waluyo.

Kapolres Tobasa menerangkan, pada Sabtu 19 Oktober 2019 sekitar pukul 19.30 WIB pelapor pulang kerja dan sesampai di rumah.

Anak pelapor yang bernama SAH mengatakan bahwa sudah beberapa hari semenjak tanggal 16 Oktober 2019 lelaki bernama Dongan Torang Pangaribuan datang ke rumah dan memberikan uang sebesar Rp.2000,- ke dalam payudara SAH. Dan kemudian terlapor juga meremas dan meraba-raba payudara SAH yang masih berumur 15 tahun itu.

“Mendengar itu lalu pelapor pun menceritakan kepada suaminya dan mereka sepakat untuk melapor kejadian tersebut ke Polres Tobasa,” terang AKBP Agus Waluyo.

Untuk pengusutan kasus ini, penyidik melakukan penyitaan barang bukti berupa,  1 helai baju kaos lengan panjang warna biru cream, 1 helai BH warna merah, 1 helai celana dalam warna putih, 1 helai celana tidur warna pink, 1 buah handphone merek Smartfren berwarna hitam.

See also  Hanya Tampung 2.000 Jemaah, Masjid Istiqlal Kembali Dibuka Dengan Prokes

Penyidik juga telah membawah korban ke Rumah Sakit Umum Daerah POrsea (RSUD) Porsea, Tobasa, untuk dilakukan visum et repertum oleh dr Sintyche   Marpaung. Dengan hasil, labia mayor tidak ada kelainan, labia minor tidak ada kelaian, hymen kesan tidak utuh, tampak robekan di arah jarum jam 5 dan 7, kesan luka lama, darah (+) (hari I menstruasi).

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka menyampaikan, para pelaku predator di kampong-kampung harus diberikan sanksi yang tegas.

Apalagi, seperti pelaku yang malah terpilih menjadi Kepala Desa di Pilkades Serentak Desember 2019 lalu.

Meski begitu, Dongan Torang Pangaribuan tetap menjalani pelantikan sebagai Kepala Desa. “Sewaktu pelantikan, tetap dilakukan, dengan dikawal dan dijaga anggota Polres Tobasa. Seharusnya, Bupati tidak melantiknya,” ujarnya. [Jon]

Leave a Reply

Your email address will not be published.