Christie Damayanti, Pemberi Semangat Hidup

Pertemuan sore itu tanpa diduga. Kami tim redaksi dan marketing Chronosdaily sedang diskusi untuk perencanaan media kami. Sabtu (5/10) sore waktu itu di kantor Radio RPK FM, Cawang, Jakarta Timur. Perbincangan kami terhenti mendadak karena pintu kantor dibuka dan masuklah tiga perempuan. Mata kami semua tertuju pada orang yang baru masuk itu. Dan kami semakin diam karena tiga perempuan itu, satu di antaranya adalah perempuan yang berjalan dengan kaki kanan yang sedikit diseret. Setelah ia dibantu membawakan barang-barangnya, dua perempuan yang menyertainya, pamit. Dan perempuan itu langsung duduk di tengah-tengah antara kami. Kami yang melihatnya langsung memberikan tempat duduk buatnya. Lalu, terjadilah perbincangan kami dengannya perempuan berkulit putih dan cantik ini.

Christie Damayanti di salah satu restoran di Yokohama Chinatown, Jepang

“Mau siaran ya bu?” tanya seorang teman padanya. Ia mengangguk dengan senyum manis. “Acara apa?” tanya kawan lagi. “Ini acara Spirit Weekend jam 6 nanti,” jawabnya lagi. Kami sadar bahwa ia cacat, tetapi begitu percaya diri menambah rasa penasaran teman-teman yang tiba-tiba saja hening setelah kedatangannya.

Satu-satu, pertanyaan dilontarkan teman-teman hingga ada satu pertanyaan, kenapa tangan ibu seperti itu? Dengan senyum dan antusias Christie mulai menjawab sambil memperkenalkan dirinya. Nadanya semangat dan kami yang mendengarkan ikut larut dengan cerita yang mengalir.

“Saya Christie Damayanti. Saya mengalami stroke saat saya di Amerika tahun 2010. Awalnya semua tubuh saya sampai otak saya tak bisa bekerja, itu penjelasan dokter saat itu. Namun, saya berusaha untuk mencoba berpikir, ini bukan salah siapa-siapa tapi salah saya dan saya berjuang untuk memperbaiki,” kata Christie.

Maka mulailah ia bercerita. Kami semua terdiam memperhatikannya. Ia menjelaskan, mulai bangkit setelah dua minggu diserang stroke. Hingga kembali ke tanah air. Christie yang menjadi orang tua tunggal dan mengasuh dua anak yang masih kecil turut memacu dirinya untuk tidak meratapi nasibnya.

See also  HUT PDI Perjuangan di Sebulu Berlangsung Khidmat dan Meriah
Christie Damayanti berpose di Shinjuku Gyoen National Park

“Saya berdoa setiap hari minta kesembuhan. Dan saya dalam satu titik berpikir, Tuhan sudah jawab doa saya meski tidak sembuh total dan membuat saya seperti ini. Tangan saya sebelah kanan tak bisa digerakan, otak saya yang tadinya juga tak berfungsi dan mengecil mulai berfungsi. Saya waktu itu tidak bisa bicara bahkan mengeja huruf-huruf pun tak bisa. Lalu saya berdoa, dan meminta Tuhan untuk memampukan saya untuk bisa melanjutkan hidup meski tidak sempurna seperti awalnya. Dan Saya syukuri itu dan itu merupakan anugerah Tuhan. Dari momen itulah, saya mulai berpikir untuk bisa berguna bagi anak-anak saya dan orang lain yang punya nasib sama seperti saya. Bahwa apapun bisa dilakukan jika kita punya kemauan. Hasilnya sampai sekarang dua anak saya sudah bekerja dan satu di Jepang untuk study,” tandasnya dengan semangat tinggi.

Kontan saja, kami yang mendengarkan ceritanya tersentak dan juga terhibur. Dalam hati saya katakan, hebat sekali semangat ibu ini, meski dalam kondisi seperti itu ia punya semangat yang tinggi.

Dari momen itulah, setelah enam bulan mulai pulih separuh bagian tubuhnya, ia mulai bekerja kembali di tempat kerjanya dan mulai memotivasi orang-orang sekelilingnya, khususnya mereka yang difabel. “Khususnya bagi mereka yang mengalami kecacatan seperti saya, jangan malu dan mari tumbuhkan semangat dan melakukan hal-hal yang disukai,” ujarnya.

Ketika ditanya, pengalaman apa dalam situasi seperti ini yang pernah ia rasakan. Christie semakin semangat bercerita. “Ketika saya ke Jepang, saya mengalami kondisi yang berat sekali. Dalam satu perjalanan di sebuah kota di Jepang, saya terjebak dengan kursi roda dalam kondisi di mana kereta yang saya tumpangi itu tidak beroperasi karena badai yang terjadi. Saya bingung, saya mau tanya ke siapa. Dan posisi saya saat itu juga berada di lokasi di stasiun yang jauh ke pintu keluar dan agak menanjak jalannya . Dan tak ada orang yang bisa dimintai bantuan. Saat itu saya berdoa pada Tuhan. Dan setelah saya selesai berdoa, ada petugas perempuan yang mendatangi saya. Dan ajaibnya lagi ia bisa dua bahasa, Inggris dan Melayu!” katanya dengan mata sedikit berkaca. Kami yang mendengarnya ikut diam, membayangkan situasinya kala itu.

See also  Antonius Natan : Ancaman Resesi Siapkah Keluarga Indonesia ?
Christie Damayanti menikmati udara segar di Yokohama
chronosdaily

“Ajaibnya lagi, dia mengantarkan saya naik bus lalu mengantarkan menuju stasiun lain yang jaraknya cukup jauh dari tempat dia bekerja hingga masuk ke gerbong sampai saya duduk manis. Coba bayangkan, mana ada pertolongan seperti itu di tengah orang-orang yang tidak saya kenal, asing dan orang Jepang yang juga sendiri-sendiri. Dan Tuhan memberi pertolongan pada saya. Saya meyakini itu adalah Tuhan sendiri dalam wujud perempuan petugas yang membantu saya sampai mendapatkan kereta dan duduk dengan baik. Lalu ia pergi. Ajaib kan!” ungkapnya.

Kami semua terkesima dengan apa yang diceritakan Christie. Lebih terkesima lagi dengan apa yang ia lakukan. Di radio RPK FM, ia sudah menjadi tamu selama 7 tahun dan ikut siaran dalam acara motivasi bagi pendengar. “Ya saya sudah tujuh tahun bersiaran setiap Sabtu sore. Saya juga ikut terlibat dalam komunitas penyandang cacat dan mendorong mereka untuk berkarya. Salah satunya dengan karya seperti ini,” katanya sambil memperlihatkan satu pajangan boneka yang ada dalam kaca yang dibuat komunitas difabel. “Ini bisa customize loh. Jika ingin memesan apa pun dan dijadikan seperti ini, tinggal bilang saja dan akan dibuat oleh anak-anak komunitas difabel tempat saya ikut terlibat mendukung,” katanya sambil memamerkan hasil karya anak-anak dari komunitas difabel kepada kami.

See also  Ber-Oikumene Model Praksis

Kesibukan Christie saat ini, selain bekerja ia juga seringkali diminta untuk jadi pembicara untuk memotivasi orang lain, khususnya penyandang disabilitas untuk tetap punya semangat dalam menjalani hidup. Bukan itu saja, ia juga sudah membuat 26 buku dari pengalaman-pengalamannya itu.

Waktu di sore itu hampir pukul 6. Christie pamit pada kami semua untuk masuk ke ruang siaran. Tak lupa ia berpesan dan mengundang kami untuk hadir dan melihat pameran karya para difabel dengan tema Filateli Kreatif ke 18 dan peluncuran buku di Central Park mulai tanggal 7-13 Oktober 2019. “Saya buka pameran di sana dengan menampilkan aneka hasil karya kreatif komunitas difabel. Datang ya,” katanya sambil berdiri lalu pelan-pelan jalan menuju ruang siaran.  [ARS]

 

Pameran Filateli dan Peluncuran Buku Christie Damayanti di Central Park, 7-13 Oktober 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *