Christian Watch Kecam Andi Hamzah Sebut Minahasa Toleran Kumpul Kebo

Jakarta, chronosdaily.com – Pengurus Pusat Yayasan Jaga Kawal Kekristenan Indonesia (Christian Watch) mengecam pernyataan Prof. Andi Hamzah dalam acara ILC pada Selasa (24/9) lalu. Joshua B. Tewuh, Ketua Umum Christian Watch mengatakan, apa yang disampaikan Prof. Andi Hamzah yang menyinggung suku dan agama tertentu tidak pantas disampaikan di depan publik. “Pernyataan beliau sebagai pakar hukum pidana Indonesia menurut kami sangat memberi citra buruk terhadap keluarga besar orang Manado atau Minahasa dan agama Kristen pada umumnya. Karena pernyataan itu menyesatkan bahwa Kristen adalah agama yang toleran dan Minahasa adalah suku yang toleransi terhadap kumpul kebo seperti yang ada di salah satu pasal dalam RKHUP,” katanya dalam jumpa pers Rabu (25/9).

Dalam talkshow Indonesia Lawyer Club (ILC) Selasa (24/9) yang membahas RKHUP yang ditolak sejumlah kalangan, Prof. Andi Hamzah menyampaikan pernyataan bahwa Kumpul kebo karena puluhan suku Indonesia baik daerah dan agama. “Jadi soal kumpul kebo ini menurut Prof Hasering ada tiga provinsi di Indonesia yang mentolerir kumpul kebo, yaitu Minahasa. Karena saya pernah menjadi jaksa di sana. Apa sebabnya karena mereka Kristen,” kata Prof. Andi Hamzah.

Kutipan itu, kata Joshua sangat mencemarkan dan melecehkan suku Minahasa dan Kekristenan di Indonesia. “Atas nama Jaga Kawal Kekristenan Indonesia Christian Watch, kami menyampaikan pada yang bersangkutan bahwa ucapan itu tidak pantas disampaikan oleh seorang pakar hukum pidana. Saya mendapat telpon dari saudara-saudara dari Minahasa dengan pernyataan itu dan meminta Christian Watch mengambil sikap. Dan akhirnya kami melakukan ini dan menyampaikan sikap ini pada publik,” kata Joshua.

Pernyataan sikap itu akan ditindaklanjuti dengan membuat surat protes kepada pihak penyelengara ILC dan Prof. Andi Hamzah sendiri agar meminta maaf dan mencabut pernyataan tersebut. “Yang kami minta sederhana saja, yang bersangkutan meminta maaf atas pernyataan itu kepada masyarakat dan mencabutnya, itu saja,” tambah Joshua.

Pihak Christian Watch akan memberikan waktu beberapa hari kedepan sebelum proses hukum akan ditindaklanjuti. “Ya kami akan menindaklanjuti hal ini secara hukum jika yang bersangkutan tidak menarik pernyataannya,” kata Ricardo Putra Saragih, Sekum Christian Watch.

Dalam pertemuan bersama wartawan di bilangan Kalibata City, juga hadir Pdt. Charles Simamora mewakili pemuka agama Kristen yang juga menyatakan keprihatinannya atas pernyataan itu. Soal budaya suku Minahasa, menurut Joshua Tewuh sangat friendly dan terbuka terhadap siapapun. “Coba jika Anda berkunjung ke kampung-kampung di Manado, meski tidak dikenal ketika melintasi rumah atau bertamu, maka Anda akan diterima dan diajak masuk dalam rumah lalu ditanyakan mau bertemu siapa dan anda siapa. Ini menunjukkan bahwa adat dan sopan santun suku Minahasa sangat tinggi. Tanpa prasangka untuk menerima siapaun dengan sangat sopan.

Dan menurut saya prof. Andi Hamzah tidak mengenal betul budaya di Minahasa ini dan kemudian menggeneralisir bahwa karena sikap kebaikan dan keramahan itu ditafsirkan bahwa suku Minahasa adalah suku yang toleransi dengan kumpul kebo. Dan ini disayangkan. Keramahan ini jangan disalah artikan dan saya menolak keras atas pernyataan itu,” tambah Joshua.

Ia berharap pernyataan sikap ini dapat diterima oleh Prof. Andi Hamsah dan ditindaklajuti sesegera mungkin. “Saya yakin selama tugas di Manado sebagai Jaksa, dia kurang gaul, apalagi menyebut ada rekan Jaksa melakukan kumpul kebo, menambahi bahwa dirinya tidak. Pemahaman saya, Jaksa lain yang bertugas di Manado suka kumpul kebo, kalau Jaksa Andi Hamzah tidak pernah.”

RKHUP yang akhirnya ditunda pengesahannya oleh DPR karena mendapat penolakan besar dari masyarakat. Selasa (24/9) ribuan mahasiswa dan elemen masyarakat turun ke jalan di Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia untuk memprotes pengesahan RKUHP tersebut.

Jaga Kawal Kekristenan Indonesia, dikenal dengan nama Christian Watch yang digagas oleh Joshua B Tewuh sejak beberapa tahun lalu ini, adalah lembaga pendukung profesional bagi Dirjen Bimas Kristen dalam mengadvokasi permasalahan gereja-gereja dan lembaga-lembaga kekristenan yang bermasalah untuk mencari akar permasalahan dan untuk menemukan jalan keluar penyelesaiannya. Lembaga ini juga menjadi Crisis Center for Christian People di Indonesia. [lip]

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *