Birger Poetiray : Prospek Ekonomi Indonesia di 2020

Prospek Ekonomi Indonesia di 2020

Tahun 2019 merupakan tahun politik tetapi kita bersyukur di tengah perlambatan ekonomi global, fundamental ekonomi Indonesia masih sehat di topang oleh permintaan domestik. Secara keseluruhan ekonomi domestik masih mampu tumbuh di dorong oleh permintaan domestik yang kuat dan kinerja positif lintas sektor, khususnya sektor jasa. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 masih bisa berada di kisaran 5,0%-5,1%. Adapun, inflasi 2019 tetap terkendali pada kisaran sasaran 2,5%-4,5% dengan terjaganya tekanan harga dari sisi permintaan, ekspektasi inflasi, dan stabilnya nilai tukar Rupiah.

Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan BI (7-Day reverse Repo) dari bulan Juli sampai dengan akhir Oktober sebanyak empat kali, dari 6.00% menjadi 5.00% di tahun 2019. Hal ini konsisten dengan upaya menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik sehingga makin memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Kebijakan Bank Indonesia yang pre-emptive, front loading dan ahead the curve membuat mata uang IDR dapat di kelola dan di kendalikan dengan baik oleh otoritas moneter, di bantu juga dengan adanya pasar instrumen domestic non deliverable forward (DNDF) membuat IDR dapat menguat secara pasti. IDR di buka pada kisaran 14,450 terhadap USD pada awal tahun 2019 dan melemah hingga mencapai puncaknya di 14,525 pada bulan Mei dengan agenda politik yang terjadi di tanah air. Otoritas moneter secara konsisten melakukan pendalaman pasar baik di pasar valuta asing maupun obligasi sehingga secara keseluruhan momentum bisa terjaga di pasar keuangan. Keseluruhan USDIDR bisa terjaga di kisaran 13870*14525 di tahun 2019. Rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik nomor tiga setelah Thailand Baht dan Philipines Peso.

See also  Toleransi dalam Menyapa Tuhan

Sepanjang 2019, gejolak ekonomi dan geopolitik global terus membayangi pasar domestik. Sejak awal tahun hingga penghujung, proses Brexit di Inggris masih juga belum menghasilkan titik temu. Masih terjadinya diskusi perang dagang antara Cina dan US masih menjadi hal yang diperhatikan oleh pasar lokal maupun pasar internasional. Belum lagi faktor geopolitik di kawasan Asia dengan kerusuhan yang terjadi di Hongkong membuat kawasan regional terimbas juga oleh ketidak pastian ekonomi regional.

chronosdaily

Di tahun 2020 perekonomian Global menghadapi ketidakpastian, berdampak pada pelemahan ekonomi di banyak negara termasuk perekonomian domestik. Konsensus memprediksikan bahwa pertumbuhan ekonomi global sebesar 3.0%-3.1% di tahun 2020. Dari sisi risiko Global, meningkatnya tensi hubungan Amerika Serikat dan Iran sehingga menyebabkan juga volatilitas di harga minyak, masih belum tercapainya kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, ancaman impeachment Presiden AS, Trump oleh kongres, stimulus pelonggaran suku bunga oleh bank bank sentral di dunia menyebabkan pelonggaran likuiditas global. Adanya risiko Global ini berdampak ke perekonomian Indonesia di mana ada 3 jalur yang harus di waspadai yaitu Pasar finansial di mana aliran modal ke Indonesia di pengaruhi oleh kebijakan moneter negara maju. Penanaman modal asing (Foreign Direct Investmen/FDI) di mana sentimen negatif global dapat mempengaruhi kepercayaan investor (investor confidence). Hal yang terakhir dalam Perdagangan bisa mengakibatkan kinerja neraca perdagangan mengalami tekanan. Penentuan target atas pertimbangan masih adanya pertumbuhan ekonomi diperkirakan tumbuh pada kisaran 5.0%-5.3% dengan tingkat inflasi yang tetap rendah dan terjaga pada level 3.5% +/- 1%, serta masih adanya minat investor asing untuk investasi di Indonesia yang akan mendukung harga obligasi dan pasar saham. Di tahun 2020 mestinya IDR masih ada peluang untuk menguat ke 13850 yang merupakan level indikasi yang kita lihat pada bulan Juni 2018.

See also  Pdt. Saut Hamonangan Sirait : Menuju Sekolah Tinggi Teologia HKBP Yang Ideal

Penting kiranya untuk pemerintah bisa menjaga stabilitas domestik di tengah ketidakpastian global dengan menjaga konsumsi sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, meningkatkan daya saing untuk menarik Foreign Direct Investment dan menggenjot ekspor, menggalakan sektor pariwisata, melakukan reformasi struktural dan menjaga stabilitas ekonomi-politik serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku ekonomi. Melihat hal ini mestinya kekhawatiran investor terhadap resesi tidak perlu di khawatirkan malahan melihat hal ini sebagai peluang dan mengambil kesempatan dari peluang ini.

 

 

Birger Poetiray

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *