Ber-Oikumene Model Praksis

Jakarta, chronosdaily.com – Dalam satu perbincangan, pria bernama lengkap Tjiandra Widjaja menjelaskan siapa dirinya dan pandangan kedepan soal Oikumene dan pelayanan yang sedang ia geluti. Pria yang lahir di Makasar, 20 Maret 1957 adalah orang yang punya pengalaman di dunia bisnis sejak lama. Ia pernah terlibat dalam kepengurusan real estat di masa Moh. S Hidayat hingga Enggartiasto Lukito dan Budi Karya Sumadi. Ia juga pernah menjadi anggota DPR periode 1999 – 2004 dan periode 2004-2009.

Kini ia terlibat dalam pelayanan di Gereja Kristus Yesus (GKY) Pluit, Jakarta Utara. Ia melihat masih banyak persoalan yang perlu terus dibenahi secara bersama. laki-laki paruh baya yang sejak lama aktif di Badan Pekerja Rayon II GKY Plut Majelis GKJMB dan Ketua Yayasan Misi GKJMB. Pernah menjadi Wakil Ketum Yayasan STT Setia. Juga sebagai Ketua Bidang Misi Sinode GKY. Bermodal keterlibatan dalam pelayananya di gereja itulah ia rela mencurahkan seluruh kemampuanya memberikan sumbangsih bagi perubahan sosial.

Dalam percakapan santainya, Pak Tjiandra konsen terhadap kesehatannya. “Saya sehat.  Saya tidak lagi muda, tapi tetap berusaha jaga kesehatan. Kuncinya adalah pola makan sehat, olahraga, berpikir positip dan bikin lingkungan sekitar sukacita,” katanya.

Ia juga menceritakan pengalamannya terlibat menjadi wakil rakyat kala itu. “Saya pernah satu periode (1999-2004) sebagai Anggota DPR/MPR RI dari PDI Perjuangan. Waktu itu saya dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah. Aktif sebagai Bendahara Fraksi dan aktif penugasan di Komisi. Periode berikutnya (2004-2009) saya terpilih lagi dari Dapil Jawa Tengah, tapi baru satu tahun saya mengundurkan diri. Rasanya saya terlalu banyak di belakang meja, padahal saya mau terjun langsung memberi perhatian kepada masyarakat urban. Lagipula saya harus memberi waktu lebih banyak kepada keluarga. Akhirnya saya memutuskan mundur dari Anggota DPR RI,” ujarnya.

Karena ingin lebih terlibat ke bawah itulah, ia terjun ke sejumlah dusun terpencil di pelosok desa melaksanakan panggilannya. Ia bercerita tentang hal ini dikaitkan dengan pelayanan kerohaniawannya.

“Melayani Tuhan adakah kewajiban dari setiap orang yang telah menerima Anugerah Keselamatan. Maka kita harus keluar dari zona nyaman, turun langsung dalam pelayanan dan misi, menjadi contoh bagi hamba tuhan yang lain. Mereka yang menjadi rekan saya banyak para eksekutif pemilik perusahaan besar. Tapi mereka tak sungkan untuk terjun langsung melayani, melatih dan hidup bersama masyarakat di daerah terpencil. Jika Tuhan telah mengasihi kita, maka Kita pun terpanggil untuk mengasihi orang lain,” katanya dalam.

Ketika ditanya soal kegelisahannya terhadap masyarakat pedesaan degans sejumlah masalah yang terjadi, pria yang pernah akrab dengan dunia real estat ini terus terang tentang persoalan ini. “Kita tahu, secara umum kondisi dan keadaan masyarakat desa di Indonesia senantiasa menghadapi masalah-masalah laten, seperti: kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kualitas pendidikan yang rendah, kualitas kesehatan yang minim dan gizi yang buruk, kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan, kurangnya pemberdayaan potensi daerah, problem moral dan sosial yang saling terkait dengan problem-problem lainnya. Secara holistik ini adalah tanggungjawab Gereja,” katanya sambil bercerita lebih dalam.

“Karena itu melalui Pusat Pelatihan Misi Terpadu (PPMT) kita perlu meningkatkan kualitas hamba-hamba Tuhan di pedesaan dan pedalaman, agar menjadi pemimpin rohani dan pemimpin masyarakat dengan karakter yang kuat. berintegritas dan memiliki kualitas dalam menjalankan tugas-tugas penggembalaan umat. Gereja- denominasi apapun, sesungguhnya diutus untuk urusan ini semua,” ujarnya.

Program MILITAN

Tjiandra menambahkan hamba-hamba Tuhan yang telah dilatih harus punya jiwa MILITAN. “Militan itu akronim dari Melayanl, meLatih dan mensejah TerakAN, karena tidak hanya pertumbuhan rohani dan pembentukan karakter, tapi juga ketrampilan pertanian/ peternakan dan kewirausahaan yang terpadu. Pokoknya holistik. Pelatihan selama 50 hari ini- dan belakangan direvisi jadi 30-an hari, adalah misi panggilan Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat 28:19-20), sekaligus Mandat Budaya (Kej 2:15),” katanya semangat.

Saat disinggung kualitas hamba Tuhan yang faktanya di lapangan berbeda dari bayangannya, Tjiandra mengakui kondisi tersebut. “Ya, itu adalah realitas di lapangan. Kualitas kita menurun padahal tuntutan kerja kita lebih kompleks. Karena itu para rohaniawan harus memiliki kualitas pengetahuan teologi (skill of theology), kepemimpinan dalam jemaat (skill of leadership), managemen gereja (skill of church management) dan kualitas penggembalaan jemaat (skill of pastoring),” tandasanya. Untuk itu, program ini menurutnya perlu disambut oleh gereja dan pemimpinnya dari manapun tanpa dibatasi atau ditentukan golongannya.

“Oh kita gak batasin. Sampai saat ini kita (GKY) sudah bekerjasama dengan 80 lembaga baik Yayasan-yayasan maupun Sinode, antara lain : GKI, GKE, GMIT, GK, GKPI, GBKP, Sinode Am Sulutteng, GKII, Sinode Kalam Kudus, Kelompok PGTI (Persekutuan Gereja Tionghoa Indonesia), Sinode GKS, GKI Tanah Papua dan lain sebagainya,” katanya lagi sambil menunjukkan daftar kerjasama yang telah terjalin.

chronosdaily

Secara khusus kegiatan ini, kata dia mempunyai lokasi diberbagai tempat di Indonesia, khususnya kantong kantong kemiskinan. “Dalam tataran praksis kita sudah lama ber-oikumene, karena bekerjasama dengan lintas gereja, lintas suku dan bahkan lintas agama. Kita berkeyakinan bahwa masalah kemanusiaan haruslah dibantu oleh semua orang. Jika kita mengentaskan kemiskinan maka sekat sekat perbedaan akan runtuh dan radikalisme akan hilang. Dengan model praksis kita masuk dalam teologi kontekstual- yang dibentuk oleh pengetahuan yang berasal dari aksi dan refleksi. Model Praksis membantu pengenalan akan makna dan dapat memberikan sumbangsih bagi perubahan sosial,” ujarnya.

Mengomentari perhelatan besar dalam Sidang Raya PGI November mendatang ia menyambut gembira perhelatan nanti. “Ya, kita sambut gembira perayaan rohani Sidang Raya PGI, November di Waingapu Sumba, NTT. Kami Gereja Kristus Yesus adalah Anggota PGI dan oleh Sinode GKY saya diutus ke Sidang Raya PGI. Secara khusus saya diharapkan bisa menjadi Bendahara Umum, karena kita melihat penggalangan sumber dana diperlukan untuk menolong gereja gereja kita nun jauh di pelosok sana. Semula saya menolak, tapi rekan rekan dari gereja Anggota PGI lainnya menyadarkan saya bahwa ini adalah tugas panggilan, akhirnya saya terima,” katanya yakin.

Diakhir perbincangan, ia menyinggung bahwa pendanaan bagi pelayanan apapun amat penting. Namun penggalangan dana harus berdasar pada prinsip akuntabilitas dan itu melahirkan trust. “Kepercayaan itu adalah sebuah kehormatan dan karena itu harus kita pegang teguh!,” katanya sambil tersenyum menyudahi perbincagan. (ars)

 

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *