Awas Cuaca Panas

Bogor, chronosdaily.com – Joseph (35) merasakan cuaca panas yang tak biasa “Gila, kemarin siang sampai pusing kepala gue. panas banget,” katanya. Ia bercerita, kemarin Senin (21/10) saat menjemput anaknya yang bersekolah di kota Bogor, ia merasakan panas yang berbeda. “Lebih panas biasanya. Di hp, suhu udara sampai 36 derajat!” katanya lagi.

Cuaca panas memang terjadi sejak beberapa hari lalu. Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu udara panas telah terjadi sejak 19 Oktober 2019, dengan suhu maksimum mencapai 37 derajat Celcius. Bahkan pada 20 Oktober 2019, ada tiga stasiun pengamatan BMKG di Sulawesi yang mencatat suhu maksimum, yakni Stasiun Meteorologi Hasanuddin (Makassar) 38,8 derajat Celcius, Stasiun Klimatologi Maros 38,3 derajat Celcius, dan Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera 37,8 derajat Celcius.

Sementara Senin (21/10) kemarin, pukul 13.00 WIB, tercatat suhu udara di Halim mencapai 36,2 derajat Celcius, Kemayoran 34 derajat Celcius, Cengkareng 34,2 derajat Celcius, dan Tanjung Priok 33,6 derajat Celcius juga merembet ke wilayah Jabodetabek lainnya. catatan suhu anas itu merupakan suhu tertinggi dalam satu tahun terakhir, di mana pada periode Oktober tahun 2018 lalu, tercatat suhu maksimum mencapai 37 derajat Celcius.

Laman BMKG menyebut, suhu panas terjadi karena radiasi Matahari tinggi, disertai awan yang tergolong rendah di sejumlah daerah di Indonesa. Sebaran suhu panas berada dominan di selatan Khatulistiwa, yang berlitasan dengan gerak semu Matahari. JIka pada September lalu, Matahari berada di sekitar wilayah Khatulistiwa, lalu bergerak ke belahan selatan, maka di Oktober 2019 ini, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Prediksi BMKG, selama seminggu ini, suhu panas masih akan terjadi di sekitar wilayah Indonesia. Masyarakat diimbau untuk minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar Matahari jika beraktivitas di luar ruangan, serta mewaspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla. (ars)

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *