Awalnya Dituduh Membakar Hutan, Kini Ditersangkakan Atas Dugaan Penyerobotan Lahan

Jambi, chronosdaily.com – Sudah memasuki hari ke 20, sebanyak 19 orang kaum pria, yang merupakan warga kampung dan petani, ditangkap paksa dan ditahan di Polres Batanghari, Jambi. Dua hari lalu, tanggal 8 Oktober 2019, perkampungan warga yang dikenal sebagai Perkampungan Kolam Bethesda yang berlokasi di Kawasan Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi, sudah diratakan dengan tanah. Rumah-rumah penduduk, pondok-pondok dan seluruh harta benda yang ada di dalam rumah, habis digarap aparat. Tak satu pun rumah atau pondok yang berdiri lagi.

Lidya Manurung, salah seorang putri pemilik pondok, Pendeta Gideon Master Manurung, mengungkapkan, pada saat merubuhkan perkampungan, aparat melarang mendekati lokasi, dan tak seorang pun boleh melihat proses merubuhkan keseluruhan perkampungan itu. “Tak seorang pun diijinkan untuk melihat. Tidak boleh mendekati lokasi. Semua sudah diratakan. Rata dengan tanah. Semua barang-barang berharga dan apapun yang ada di dalam rumah, sudah dihancurkan. Atau mungkin dijarah oleh petugas,” tutur Lidya Manurung, lewat sambungan komunikasi jarak jauh, Kamis (10/10/2019).

Hingga saat ini, lanjut Lidya Manurung, tak ada bantuan kepada warga. Ada sebanyak 50 Kepala Keluarga (KK) penduduk yang bermukim di perkampungan itu. Tidak ada yang memperhatikan mereka. Suasana mencekam, penuh ketakutan, dan juga intimidasi dialami warga. “Terutama kaum lelaki. Semuanya diincar sama Polisi. Akan ditangkap dan dipenjarakan. Kaum Ibu dan anak-anak berhamburan, tunggang langgang. Ada yang lari ke hutan-hutan menghindari kejaran aparat. Ada yang pulang ke tanah kelahiran masing-masing. Ada yang mengungsi, juga menumpang di rumah-rumah warga. Menyelamatkan diri,” tutur Lidya Manurung.

Pada Sabtu, 21 September 2019, seluruh warga di perkampungan baru itu didatangi Polisi. Sejumlah kaum bapak ditangkap dan dibawa paksa ke kantor polisi. Ke Polres Batanghari, Jambi. Dengan tuduhan sebagai kriminal karena melakukan pembakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah itu. “Tuduhan itu tidak benar. Orang tua saya membeli tanah di sana. Mengolahnya untuk bertanam padi dan sayur-sayuran. Nanti kalau ada uang mau beli bibit untuk nanam kelapa sawit. Semua warga di sana, begitu. Membeli lahan untuk melanjutkan kehidupan mereka,” tutur Lidya Manurung lagi.

Perkampungan baru pun dibentuk warga di tempat itu. Dinamai dengan Perkampungan Kolam Bethesda. Sebagian besar warganya adalah pendatang dari luar provinsi. Sebanyak 90 persen penduduk kampung baru itu adalah para perantau Orang Batak.

“Bapakku, Gideon Master Manurung, sudah tiga tahun membeli tanah dengan cara mencicil dari seseorang bernama SK Nadeak. Maka dibuatkanlah pondoknya di sana. Dan tanah yang dibelinya itu belum lunas. Masih proses. Lahan yang dibeli Bapakku ditanami padi, sayur mayor, singkong. Kini, ludes semua. Hasil padi bapakku yang ditaruhnya di pondok, sudah diratakan dengan tanah. Demikian juga barang-barang alat pertanian dan barang berharga kalau ada,” tuturnya.

Sejak ditangkapi, lanjutnya, kini pada Kamis, 10 Oktober 2019, sudah terhitung 20 hari para kaum Bapak ditahan di Polres Batanghari. Lidya mengaku sedih melihat kondisi mereka ditahanan. Selain tidak terurus. Proses hukum yang ditimpakan kepada mereka tidak jelas. “Minggu lalu saya besuk ke tahanan Polres Batanghari. Kondisi mereka sangat menyedihkan. Dikurung di dalam satu sel tahanan yang atapnya bolong. Kalau hujan mereka terguyur hujan. Tidur di lantai. Toilet berantakan, dipergunakan bersama-sama. Tanpa apa-apa lagi. Tidak tahu sampai kapan mereka diproses. Mereka tidak melakukan kesalahan. Kok tega menangkapi dan menahan orang-orang yang tidak bersalah,” bebernya.

Kini, menurut Lidya, para tahanan yang tadinya berjumlah 22 orang, tinggal 19 orang. Termasuk bapaknya Pendeta Gideon Master Manurung. Mereka kini dituduh menyerobot lahan milik perusahaan PT REKI. Lahan itu diklaim PT REKI sebagai lahan konsesinya yang diberikan pemerintah kepada mereka. “Bapakku ada bukti-bukti pembelian tanah ke SK Nadeak. Juga bapakku bukan pembakar hutan. Dia ditangkap paksa, ketika sedang beristirahat di pondoknya,” ujar Lidya lagi.

Lidya juga menyampaikan, sebelumnya para petani dari sejumlah wilayah di Batanghari, yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI) telah berunjukrasa ke kantor Gubernur Jambi. Untuk meminta agar PT REKI angkat kaki dari lahan milik masyarakat itu.

Lidya mengirimkan video. Dalam video itu terlihat sejumlah petugas menginterogorasi warga, merampas harta milik warga perkampungan. Juga ada video tentang aksi massa SPI ke kantor Gubernur Jambi. Putri ketiga Gideon Master Manurung ini memohon agar semua warga yang ditangkap dan ditahan, agar segera dibantu. Kemudian dilepaskan. Karena mereka tidak melakukan apa yang dituduhkan kepada mereka.

“Waktu penangkapan, kata Polisinya, Pak Jokowi yang menyuruh menangkapi mereka. Kok sebegitunya Polisi. Tidak berhati nurani. Menangkapi dan melakukan tuduhan-tuduhan tak berdasar kepada warga kampung,” ujar Lidya terisak. [Jon]

chronosdaily

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *