Asrama Papua di Surabaya Dikepung dan Dirusak Aparat dan Ormas Beratribut Agama

Surabaya, chronosdaily.com – Kepolisian harus menindak tegas pelaku tindakan rasis, stigmatisasi, penganiayaan serta pengeroyokan terhadap mahasiswa Papua yang terjadi hampir bersamaan di beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kapolri, panglima TNI dan Kementrian Dalam Negeri diminta menindak tegas aparatnya yang terlibat dalam melindungi dan melakukan pembiaran terhadap praktek rasis dan stigmatisasi, penganiayaan serta pengeroyokan terhadap mahasiswa Papua.

Sebelumnya, sejumlah ormas menggeruduk asrama mahasiswa Papua yang berada di Surabaya. Aparat kepolisian dinilai lambat dalam mengantisipasi bahkan cenderung diduga melakukan pembiaran atas tindakan yang dilakukan oleh ormas dan massa.

Dorlince Iyowau selaku Juru bicara mahasiswa Papua mengatakan, kejadian itu bermula ketika sejumlah aparat keamanan dan Satpol PP diduga mendatangi asrama pukul 15.20 WIB. Mereka merusak pagar asrama. “Pukul 15.20 tentara masuk depan asrama, kemudian susul lagi Pol PP, lalu rusaki semua pagar. Mereka maki kami dengan kata-kata rasis,”

Tak lama setelah itu, lanjut Dorlince, sekelompok ormas datang dan melempari batu hingga mengakibatkan kaca asrama pecah. “Mereka sedang dobrak-dobrak pintu depan dan belakang asrama Papua. Kami terkurung di aula. Sampai saat ini ormas, tentara, dan Pol PP belum masuk. Masih di luar pagar,” katanya. Sejumlah 15 mahasiswa, terdiri dari dua orang mahasiswi, 12 orang mahasiswa serta seorang warga Papua yang sedang sakit, terkurung di dalam asrama tersebut. “Mahasiswi dua orang, mahasiswa 12 orang ditambah Bapak Felik sedang sakit jadi kami 15 orang terkurung,” lanjut Dorlince

See also  Dukacita Ketua Umum PGI Gomar Gultom atas Berpulangnya Dr Nababan

Dorlince menuturkan lampu sengaja dimatikan karena setiap mahasiswa dalam asrama terlihat lalu-lalang, massa dan ormas berusaha untuk menyerobot masuk. “Kami tadi semakin direpresi bahkan ketika kami lalu lalang langsung diteriaki, dilempari kemudian mereka berusaha untuk menyerobot masuk. Jadi kami dibelakang sengaja kami matikan aliran listriknya,” ujarnya.

Dorlince menilai sikap massa dan ormas tersebut sangat tidak manusiawi. Padahal sebagai manusia, mahasiswa asal Papua juga punya pikiran dan perasaan. “Kami tahu bahwa itu bagi kami perilaku-perilaku tidak manusiawi yang kami dapatkan. Tapi bukan cuma di Surabaya, Malang pun terjadi, dibeberapa kota sekaligus masih rasis. Jadi kalau dibilang tersinggung ya kami tersinggung karena kami juga punya pikiran perasaan. Tapi kami berusaha tidak meladeni itu semua,” ucapnya.

“Sementara untuk perlawanan kami, itu perlawanan berdasarkan sejarah dan kami tidak melawan masyarakat sekitar kami atau apapun, tapi kami melawan kolonialisme, kemudian imprelialisme dan kapitalisme yang ada tersebar di tanah Papua,” tutur dia.

Sebelumnya diberitakan, sekira seratusan lebih massa dan ormas mendatangi asrama Papua lantaran dipicu beredarnya di media sosial WhatsApp, gambar tiang bendera di depan asrama tersebut dipatah-patahkan oknum yang diduga mahasiswa Papua. Kemudian bendera itu dibuang ke selokan.

See also  Serahkan Sertifikat Tanah di Natuna, Presiden: Simbol Natuna Adalah Indonesia

Menyadari urusan bendera itu bakal berbuntut panjang, Dorlince siap memberikan klarifikasi kepada massa dan ormas dengan jalan damai atau melalui jalur hukum. Namun, massa menolak dan melontarkan kata-kata rasis. Aksi serupa juga dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia, di antaranya Jakarta, Surabaya, Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta. “Hanya di Yogyakarta saja yang tidak dibubarkan,” katanya. [Mochtar Abb]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *