Akibat Asap, Dua Ratus Ribu Warga Riau Terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut

Riau, chronosdaily.com – Luasnya lahan kebakaran di Riau membuat kualitas udara hari ini Selasa (17/9) berbahaya. Data Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) dari hasil pantauan udara ISPU KLHK Stasiun Duri Cam dengan nilai 680, yang berarti berbahaya. Dampak berbahaya itu mengakibatkan lebih dari 281 ribu warga Riau yang terkena infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

Lahan Sengaja Dibakar

Munculnya titik panas diduga ada oknum yang sengaja membakar lahan untuk dijadikan lahan sawit. Dugaan itu menurut Arfiyan, Program Manajer Jikalahari membenarkan dugaan itu. “Temuan Jikalahari semua kebakaran di Riau merupakan disengaja, baik masyarakat maupun korporasi. Tujuannya untuk meminimalisir biaya pembukaan lahan, setelah dibakar, lahan tersebut pasti ada tanamab sawit dan akasia yang baru ditanam,” katanya.

Hal yang sama juga dikatakan Fandi, dari WALHI Riau. “Dugaan jelas ada kesengajaan, sebab pemantauan yang dilakukan WALHI secara reguler. setelah terjadi kebakaran pasti berikutnya ada tumbuhan sawit,” katanya.

Upaya pemadaman lahan yang terbakar menurut Afriyan oleh pemerintah sudah sangat baik namun karena lokasi yang susah dijangkau sehingga kebakaran sulit dipadamkan.

Ariyan juga menyoroti upaya penegakan hukun yang dinilai sangat lamban. “Sudah 10 perusahaan yang disegel namun belum ditetapkan sebagai tersangka, harusnya pemerintah tidak melakukan segel lagi, tapi langsung saja cabut izinnya karena kebakaran terulang kembali di konsesi korporasi,” ujarnya.

Sedangkan Fandi menegaskan, WALHI memandang bukan lagi pemadaman, tapi pencegahan kebakaran. selama ini yang terbakar dan sulit dipadamkan, harusnya menyasar pada bagaimana memperbaiki kerusakan gambut yang telah terjadi. “Perbaikan itu dengan melakukan audit perizinan terhadap semua izin yang berada di kawasan gambut. WALHI selama ini intens melaporkan dugaan kejahatan lingkungan kepada penegak hukum dan KLHK tetapi prosesnya selalu lama dan masyarkat tidak mendapatkan perkembangan kasusnya,” ujarnya.

Upaya Antisipasi Kesehatan Lamban

Ribuan korban yang berdampak asap ditengarai lambat ditangani. Kata Afriyan, pelayanan kesehatan bagi masyarakat oleh pemerintah daerah dinilai lamban. ”Gubernur Riau sudah menginstruksikan Dinas Kesehatan Provinsi Riau untuk diteruskan ke kabupaten dan kota di Riau, yaitu untuk mendirikan posko pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terpapar asap pada 11 September 2019 namun baru dibuka pada 13 September 2019 itupun tidak menyediakan masker yang sesuai standar seperti N-95 seperti yang Jikalahari sediakan,” ungkapnya.

Sementara data WALHI Riau menyebut hingga 10 September lalu, 8.042 warga tercatat mengalami gangguan pernafasan dan berkunjung ke pusat kesehatan atau posko WALHI Riau.

Hingga Selasa (17/9) luas wilayah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera mencapai 328.722. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) luas itu terdiri dari kebakaran di Kalimantan Tengah seluas 44.769 hektare, Kalimantan Barat 25.900 ha, Kalimantan Selatan 19.490 ha, Sumatera Selatan 11.826 ha, Jambi seluas 11.022 ha dan Riau mencapai luas kebakaran 49.266 ha.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Senin (16/9) kemarin, menyebut titik panas di Riau sebanyak 58, Jambi (62), Sumatera Selatan (115), Kalimantan Barat (384), Kalimantan Tengah (513) dan Kalimantan Selatan (178). Jumlah titik panas ini telah menurun dibanding pada Minggu (15/9).  [Lip]

chronosdaily

Author: Roy Agusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *