Ade Armando Gelar Konperensi Pers Terkait Dugaan Perbuatan Maksiat Eks Staf BPJS Ketenagakerjaan

Jakarta, chronosdaily.com – Siang tadi digelar konferensi pers tentang perkembangan kasus dugaan perbuatan maksiat terhadap Rizky Amelia (28 tahun), eks staf BPJS Ketenagakerjaan oleh eks Dewas BPJS Ketenagakerjaan, SAB.

Kasus ini pertama kali mencuat Januari 2019. SAB sudah dinyatakan terbukti melakukan perbuatan maksiat terhadap RA oleh Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). Namun, kini ada banyak perkembangan mengejutkan yang mungkin memengaruhi peluang pemidanaan terlapor (SAB). Pihak korban sendiri beberapa kali harus dirawat di rumah sakit. Pihak SAB juga sudah melaporkan sejumlah media yang memberitakan kasus tersebut. SAB juga sudah melaporkan balik RA ke pihak kepolisian.

Dalam kaitan itulah diadakan konferensi pers yang akan diadakan pada Selasa (03/09/2019) bertempat di Jl. HOS Cokroaminoto No. 92, Menteng, Jakarta Pusat. Berikut ini hasil konferensi pers tersebut :

Syafri Adnan Baharuddin, mantan anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan yang menurut penyelidikan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) terbukti melakukan perbuatan maksiat dan melanggar kesusilaan terhadap bawahannya, kini justru melaporkan korban, Rizky Amelia, (Amel), dan orang yang membantu korban, Ade Armando, dengan tuduhan ‘pencemaran nama baik’. Syafri juga menggugat sejumlah media massa yang memberitakan laporan perbuatan maksiatnya pada Dewan Pers.

Syafri adalah mantan anggota Dewan Pengawas BPJS TK yang sudah menyatakan mengundurkan diri dan diberhentikan oleh Presiden pada Januari 2019 terkait dengan pelaporan perbuatan cabul olehnya terhadap Amel.

Amel melaporkan Syafri karena menurut pengakuannya, selama dua tahun bekerja sebagai asisten Syafri, ia mengalami berulangkali tindakan pelecehan seksual. Amel bahkan sempat mencoba melakukan percobaan bunuh diri. Baru pada akhir 2018, ia berani bicara pada publik dan melaporkan Syafri ke polisi dengan antara lain dibantu dosen yang mengajarnya di Universitas Pelita Harapan, Ade Armando, serta sejumlah orang yang bersimpati pada penderitaannya.

See also  RUU Cipta Kerja Disahkan, Legalisasi Perampokan Kedaulatan Masyarakat Bahari Terjadi

Pada 11 Februari 2019, Dewan Jaminan Sosial Nasional yang mengawasi BPJS sudah mengeluarkan hasil penyelidikan terhadap perilaku Syafri, dengan hasil bahwa Syafri dinyatakan TERBUKTI MELAKUKAN PERBUATAN MAKSIAT TERHADAP RIZKY AMELIA.

Sekarang, Syafri justru melaporkan balik Amel dan Ade Armando dengan tuduhan ‘pencemaran nama baik’. Menurut keterangan kepolisian, pelaporan terhadap Ade Armando bahkan juga dilakukan oleh anggota Dewas BPJS Ketenagakerjaan, Poempida Hidayatulloh.

Adapun sejumlah hal lain yang penting diketahui publik terkait dengan kasus perbuatan maksiat di BPJS Ketenagakerjaan adalah:

1. Amel melaporkan Tindak Pidana Cabul yang dilakukan oleh Syafri ke Bareskrim pada 3 Januari 2019. Pemeriksaan pertama sudah dilakukan pada 14 Maret 2019 dan dilanjutkan dengan serangkaian pemanggilan saksi. Pada 6 Agustus 2019, polisi menyatakan Laporan Polisi Tindak Pidana Cabul diberhentikan dengan alasan belum terpenuhinya bukti permulaan yang cukup. Saat ini Amel didampingi oleh Lokataru sebagai penasehat hukum.

2. Amel mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum melalui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan pihak tergugat: Syafri serta Guntur Witjaksono (Ketua Dewas BPJS TK) dan Aditya Warman (anggota dewas BPJS TK). Kedua orang di luar Syafri tersebut digugat karena dianggap membiarkan terjadinya tindakan cabul atasan terhadap bawahan walau sudah mengetahui kasus tersebut. Pada Juli 2019 pengadilan Jakarta Selatan menyatakan permasalahan Amel dengan Syafri adalah perselisihan hubungan industrial sehingga tidak dapat diadili di pengadilan negeri.

3. Amel sendiri sempat dirawat tiga kali sejak bulan Juni lalu, tapi saat ini sudah berada di rumah. Di masing-masing tiga kali kesempatan itu, Amel dirawat selama lima hari. Amel dirawat di rumah sakit karena dokter merasa Amel memerlukan ketenangan dan tidak terganggu oleh berbagai kondisi yang terkait dengan proses hukum terkait dengan dirinya. Salah satu hal yang paling menekan Amel adanya serangan para buzzer – yang entah didanai siapa – yang melakukan perundungan (bullying) secara terus menerus melalui media sosial. Para buzzer itu mencaci maki, merendahkan, dan melecehkan Amel.

See also  Hari Kebangkitan Nasional, Ketua KPK H. Firli Bahuri ; Momentum Kebangkitan Lawan Ragam Permasalahan Bangsa

4. Di luar pengadilan, Syafri juga melakukan langkah-langkah agresif. Syafri mengadukan belasan media online dan stasiun televisi ke Dewan Pers dengan tuduhan media tersebut telah melanggar Kode Etik Jurnalistik, karena tidak melakukan peliputan yang berimbang. Syafri dan kuasa hukumnya rupanya meminta agar setiap kali ada pemberitaan yang mengungkapkan adanya tuduhan perbuatan cabul dan maksiat terhadapnya, media juga mewawancarai Syafri.

Ada tiga media yang menurut Dewan Pers terbukti tidak melanggar Kode Etik. Ketiga media tersebut terbukti berusaha mewawancarai Syafri sebelum menurunkan laporan, tapi ternyata Syafri tidak bisa dihubungi.

Ada sekitar 8-9 media yang dinyatakan melanggar kode Etik. Oleh DewanPers, semua media tersebut diminta untuk memuat hak jawab Syafri mengenai dugaan perbuatan cabul dan maksiat tersebut. Setelah diberi kesempatan untuk memberikan hak jawab, Syafri menolak untuk memberikan jawaban.

5. Di sisi lain, BPJS Ketenagakerjaan seolah lepas tangan dengan kondisi Amel saat ini. Perlu diketahui, sejumlah pihak di BPJS TK sebenarnya sudah sejak lama berusaha menyingkirkan Syafri sebagai seorang anggota dewas BPJS TK, karena sikapnya yang kasar dan otoriter. Beberapa staf BPJS TK beberapa tahun lalu pernah mengajukan petisi meminta Syafri diberhentikan dari posisi Dewas BPJS TK, namun gagal. Baru setelah Amel mengadukan nasibnya kali ini, Syafri terpaksa menyatakan mengundurkan diri. Ketika Amel datang untuk menemui perwakilan direksi BPJS TK, terungkap pernyataan bahwa BPJS TK peduli dan akan membantu Amel. Seorang anggota Dewas bahkan menyebut Syafri sebagai predator. Perwakilan Direksi BPJS menyatakan mereka menyesal tidak mengetahui adanya kasus pencabulan yang berlangsung selama dua tahun. Namun setelah masa kontrak Amel berakhir pada April lalu, tidak ada sedikit pun bantuan datang dari BPJS TK.

See also  Terpenjara Ketidakadilan dan Ingin Bertemu Presiden Joko Widodo

6. Amel kini tidak memiliki pekerjaan. Perlu diketahui bahwa sebelum kasus dugaan perbuatan cabul oleh Syafri diketahui publik, Amel sebenarnya sudah mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan dengan tawaran penghasilan lebih tinggi dari gaji yang diterimanya di BPJS TK. Namun karena Amel menangkap isyarat bahwa tawaran itu diberikan dengan syarat Amel tutup mulut soal skandal di BPJS TK tersebut, Amel menolak tawaran tersebut.

7. Syafri sendiri saat ini mencalonkan diri sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan.

Demikian rilis yang diterima oleh Chronosdaily. Konferensi Pers yang diinisiasi oleh Ade Armando, selain dihadiri rekan-rekan media, juga hadir aktivis kemanusiaan dan beberapa tokoh yang peduli terhadap kasus ini. Ada Haris Azhar dari Lokataru, Imelda Berwanty Purba dan juga Rian Ernest dari LBH PSI (Partai Solidaritas Indonesia). Rian menyampaikan jika dibutuhkan PSI siap support perjuangan Ade Armando yang mengadvokasi korban RA dan belakangan berusaha dikriminalkan oleh terduga pelaku.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *